Kesesatannya Jamaah Tabligh..!!

Sesatkah Jamaah Tabligh?
Penulis: Al Ustadz Muhammad Ali Ismah Al Medani

Bagi seorang yang ingin mengetahui kesesatan sebuah paham atau kelompok hendaknya dia mengetahui terlebih dahulu mana pemahaman yang benar dan mana pemahaman yang salah. Banyak kita saksikan seseorang kebingungan bila dia mendengar atau membaca pernyataan bahwa : Ini adalah pemahaman yang sesat dan itu adalah pemahaman yang menyeleweng! Mengapa dia bingung. Hal itu terjadi tidak lain karena dia belum mengetahui perkara yang benar dan yang salah. Kebingungan ini tidak hanya melanda orang awam saja. Akan tetapi para pelajar, mahasiswa, dan kalangan intelek pun mengalami hal yang sama. Untuk itu sudah seharusnya seorang itu terlebih dahulu mengetahui kebenaran sehingga bila diajak berbicara tentang firqah-firqah sesat semacam syi’ah, mu’tazilah, jahmiyah, dan lain-lainnya tidak akan merasa heran. Begitu juga berkaitan dengan tema yang akan kita angkat kali ini tentang jamaah tabligh. Sudah semestinya seorang Muslim mempelajari kebenaran yang terdapat pada manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dan bagaimana sikapnya terhadap jamaah ini.

Sesatkah Jamaah Tabligh?
Tidak diragukan lagi bahwa jamaah tabligh adalah suatu kelompok dakwah yang telah menyebar kemana-mana. Tapi sebenarnya bagaimana jamaah ini bila dilihat dengan kacamata ajaran Islam. Kalau kita menengok sejarahnya, jamaah ini dirintis oleh Muhammad Ilyas Ad Diyobandi Al Jisti Al Kandahlawi kemudian Ad Dahlawi. Dia adalah pendiri jamaah tabligh di India. Dia pula yang merancang dan merumuskan ushulus sittah (enam dasar) ajaran jamaah tabligh. Ini dengan isyarat gurunya, Rasyid Ahmad Kankuhi Ad Diobandi Al Jisti An Naqsyabandi dan Asyraf Ali At Tanuhi Ad Diobandi Al Jisti. (Lihat Al Qaulul Baligh fit Tahdzir min Jama’atit Tabligh oleh Syaikh Hamud At Tuwaijiri halaman 24).

Kemudian dilanjutkan gerakan ini oleh anaknya, Yusuf. Dan pimpinan mereka sekarang adalah In’amul Hasan. (Halaman 7) Jamaah ini dibangun di atas empat jenis tarekat sufi : Jistiyah, Qadiriyah, Sahrawardiyah, dan Naqsyabandiyah. Di atas empat tarekat sufi inilah In’amul Hasan membaiat para pengikutnya yang telah dianggap pantas untuk dibaiat. (Halaman 7-8). Dari sini telah nampak jamaah tabligh tidaklah mendasarkan pemahamannya kepada pemahaman Salaf Shalih sebagai dasar pemahamannya pasti sesat. Dan berikut ini kita akan mendapatkan bukti nyata kesesatan mereka. Penampilan zuhud jamaah tabligh telah menipu sebagian besar kaum Muslimin sehingga ketika ada orang yang menyatakan bahwa mereka adalah kelompok yang sesat tiba-tiba terkejut sambil berkata : “Apakah orang-orang yang zuhud seperti itu sesat dan salah.!” Rupanya, orang-orang seperti ini tidak paham pokok dan dasar Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam menilai sesat atau tidaknya suatu kelompok tertentu. Mereka mengukur baik dan buruk hanya dari segi penampilan luar tanpa melihat bagaimana keadaan dalamnya.

Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah orang yang arif dan bijaksana. Mereka menghukumi kelompok atau perorangan tidaklah berdasarkan hawa nafsu atau karena sakit hati tetapi dengan ilmu dan bukti-bukti otentik yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan semua makhluk. Berapa banyak orang-orang sufi yang berpenampilan sederhana dan zuhud tidak luput dari kritikan dan kecaman pedas dari para ulama. Mereka bisa menipu orang awam tapi jangan harap bisa menipu ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ahli Tarikh Islam, Al Imam Al Hafidh Adz Dzahabi mengomentari tertipunya Al Manshur, seorang khalifah Bani Abbasiyah karena ulah seorang tokoh mu’tazilah, ‘Amr bin ‘Ubaid. Khalifah bersyair :
Semua kalian berjalan dengan perlahan-lahan
Semua kalian memburu buruannya
Kecuali ‘Amr bin ‘Ubaid

Imam Adz Dzahabi berkata : “Dia (Manshur) tertipu dengan kezuhudan dan lagak keikhlasannya hingga dia melupakan kebid’ahannya.” (Lihat Siyar A’lamin Nubala 6/105 dan Naqdur Rijal karya Syaikh Rabi’ halaman 12)

Ushulus Sittah
“Jamaah ini memiliki manhaj yang dijadikan dasar sebagai tempat rujukan yang dinamakan Ushulus Sittah (enam dasar), Ushulus Sittah tersebut berisi :
1. Merealisasikan kalimat thayibah Laa Ilaha Illallah Muhammadar Rasulullah.
2. Shalat dengan khusyu’ dan khudhu’ (penuh ketundukan).
3. Ilmu dan dzikir.
4. Memuliakan kaum Muslimin.
5. Memperbaiki niat dan mengikhlaskannya.
6. Keluar (khuruj) di jalan Allah.

Perhatikanlah wahai para pembaca yang budiman terhadap Ushulus Sittah ini. Kemudian kita lihat apakah mereka berada di atas manhaj yang benar dalam memahami, mempraktikkan, dan mendakwahkan dasar-dasar ini. Sebelum kita membicarakannya, Anda harus mengetahui terlebih dahulu bahwa Ushulus Sittah ini memiliki Kalimat Rahasia. Jika Anda telah mengenalinya akan bisa –dengan ijin Allah– memahami semua pendapat dan gerakan jamaah ini dengan mengembalikan semua ucapan dan perbuatan tersebut kepada Kalimat Rahasia ini. Kalimat Rahasia itu adalah segala sesuatu yang menyebabkan lari atau berselisih antara dua orang maka harus diputus dan dilenyapkan dari manhaj jamaah ini.

Sekarang mari bersama saya membahas dasar yang pertama jamaah ini, yaitu merealisasikan dua kalimat syahadat. Apakah Anda telah mengetahui cara merealisasikan dua kalimat syahadat di atas.

Realisasi dua kalimat syahadat itu adalah dengan cara mewujudkan tiga jenis tauhid, Tauhid Uluhiyah, Rububiyah, dan Asma’ was Sifat. Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alus Syaikh rahmatullah ‘alaihi mengatakan dalam Kitab Fathul Majid halaman 84 :

“Ucapan beliau, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab : ‘Bab Siapa Yang Merealisasikan Tauhid Akan Masuk Surga Tanpa Dihisab. Yaitu tanpa diadzab.’ Saya (Syaikh Abdurrahman) katakan : Merealisasikannya adalah (dengan cara) memurnikan dan membersihkannya dari noda-noda syirik, kebid’ahan, dan kemaksiatan.” Setelah kita memahami makna kalimat tauhid di atas dan Kalimat Rahasia yang ada pada mereka baiklah sekarang kita lihat realisasinya pada jamaah ini. Mereka merealisasikan kalimat ini dengan hanya berbicara sekitar tauhid Rububiyah saja. Mengapa demikian. Karena hal itu tidak sampai menyebabkan terjadinya perpecahan, membuat orang lari, dan berselisih antara dua orang Muslim.

Adapun kalau berbicara tentang tauhid Al Asma’ was Shifat maka akan menyebabkan terjadinya perpecahan, membuat orang lari, dan perselisihan karena di sana ada kelompok asy’ariyah, maturidiyah, jahmiyah, hululiyah, ittihadiyah, dan Salafiyah. Mereka semua berbeda dalam masalah ini. Dan dasar yang dijalani oleh jamaah tabligh dalam Kalimat Rahasia ini bahwa sesuatu yang akan menyebabkan orang lari, perselisihan, dan perpecahan antara dua orang maka harus dibuang dan ditiadakan dari manhaj jamaah ini.

Demikian juga jenis ketiga dari bagian tauhid, yaitu tauhid Uluhiyah maka pembicaraan dalam masalah ini diputus dan ditiadakan karena akan menyebabkan terjadinya perpecahan dan perselisihan karena nanti ada yang Salafi dan ada yang khalafi quburi. Yang pertama (Salafi, pent.) tidak membolehkan seseorang bepergian ke kuburan, shalat di sisinya, (shalat) ke arahnya, thawaf di situ, tawassul dengan orang-orang shalih, istighatsah kepada mereka, dan seterusnya. Berbeda dengan yang kedua (khalafi quburi, pent.), semua hal tadi boleh bahkan yang kita sebutkan tadi adalah intisari agama mereka.

Oleh karena itu wahai saudaraku yang mulia, jika ada di antara mereka yang menerangkan dasar ini tidaklah mereka mengatakan kecuali segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kita, memberi rizki kepada kita, memberi nikmat kepada kita, dan seterusnya yang berkaitan dengan tauhid Rububiyah saja. Kita telah mengetahui bahwa yang namanya ilmu adalah firman Allah, sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, serta ucapan para shahabat, apakah dalam bidang aqidah, ibadah, muamalah, akhlak, dan yang lainnya. Mereka menyatakan ilmu itu ada dua, ilmu fadha’il yang berasal dari mereka dan ilmu masa’il yang berasal dari para ulama yang berada di setiap negeri. Setiap orang yang khuruj (keluar berdakwah) bersama mereka hendaknya mengambil (ilmu masa’il) tersebut dari para ulama di negeri masing-masing.

Apakah Anda telah memperhatikan pembagian ini. Dan mengapa mereka membolehkan seseorang berbicara tentang ilmu fadha’il dan melarang berbicara ilmu masa’il bahkan menganjurkan orang yang khuruj bersama mereka untuk mengambil ilmu tersebut dari para ulama di negeri masing-masing. Karena ilmu yang pertama (fadha’il) tidak menimbulkan perpecahan dan perselisihan, berbeda dengan yang kedua yang akan menimbulkan perpecahan.

Dalam perkara amar ma’ruf nahi munkar mereka juga menggunakan senjata Kalimat Rahasia ini. Mestinya amar ma’ruf nahi munkar itu diterapkan dalam semua perkara akan tetapi mereka menerapkannya dalam perkara yang sekiranya tidak menimbulkan perpecahan. Lalu bagaimana mereka mempraktikkannya. Maka jawabnya dengan cara pemaparan, yaitu mereka memaparkan hadits-hadits dan ayat-ayat yang berisi anjuran untuk melaksanakan perbuatan itu atau meninggalkan perbuatan yang dilakukannya tanpa menembus sisi aqidah. Mereka akan mengatakan kepada orang yang meninggalkan shalat –misalnya– :[ “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. Al Mukminun : 12) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam besabda : “Tidaklah setiap hamba Muslim shalat untuk Allah di setiap harinya dua belas rakaat tathawwu’ bukan fardlu kecuali Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di Surga.” Ini keutamaan shalat yang sunnah maka bagaimana dengan yang fardlu. ]

Oleh karena itu bila ada orang yang bermaksiat ikut khuruj (keluar) bersama mereka ingin merokok maka mereka membolehkannya bahkan membelikan rokok untuknya. Demikian juga peminum arak mereka akan membawakan botolnya. Dan kalau orang itu ingin mencukur jenggotnya mereka akan berikan pisau cukur untuknya atau mereka akan membawanya ke tukang cukur. Mungkin Anda akan berkata : “Ini hanyalah hal-hal yang dilebih-lebihkan saja.” Maka saya katakan : “Semoga Allah memberi hidayah kepadaku dan kepada Anda.” Cerita tidak sama dengan orang yang menyaksikan. Lihatlah buku-buku yang mengkritik mereka, Anda akan dapati perkara yang lebih aneh lagi.

Ketahuilah, mereka memiliki dua pertemuan rutin di malam Selasa dan Rabu. Pertemuan pertama untuk orang-orang yang pulang dari khuruj. Pada pertemuan pertama dihadirkan di hadapan mereka orang-orang yang ingin diberi semangat untuk khuruj bersama mereka atau untuk mempengaruhi mereka. Pertemuan kedua untuk menata khuruj pada waktu Ashar di hari Rabu. Amir pertemuan berkata kepada salah seorang yang telah khuruj –agar yang baru dan para pendengar mengetahui– : “Berapa hari Anda khuruj.” Yang khuruj menjawab: “Saya khuruj selama 4 bulan di jalan Allah.” Sang amir berkata : “Masya Allah! Di mana Anda habiskan semua waktu Anda itu.” Yang khuruj menjawab : “10 hari di negeri-negeri Teluk, 20 hari di belantara Afrika, 1 bulan di Eropa, 1 bulan di Amerika Selatan, 1 bulan di Asia Timur, India, dan Pakistan.” Maka sang amir pertemuan berkata (perhatikan ucapannya) : “Masya Allah! Anda adalah dai dan ketahuilah dai itu seperti awan yang datang ke bumi turun berupa air hujan kemudian menyirami mereka. Berbeda dengan ulama, mereka itu ibarat sumur, jika Anda merasa haus Anda harus menempuh perjalanan sejauh 1 mil untuk mendatangi sumur itu maka Anda akan mati dulu sebelum sampai ke sumur tersebut. Bahkan mungkin Anda tidak bisa minum karena timba yang digunakan untuk mengambilnya tidak ada. Dan kalau Anda ingin minum maka Anda harus datang ke pinggir sumur kemudian menimba dulu baru engkau bisa minum.”

Apakah Anda merasa tergugah –seperti tergugahnya para pendengar cerita itu– yang lebih memuliakan dai dari orang yang alim! Maka akibat dari cerita ini jika salah seorang di antara mereka ingin duduk menuntut ilmu, diceritakanlah kisah ini maka akhirnya diapun ingin menjadi awan saja daripada menjadi sumur! Agar Anda tidak kebingungan setelah membaca kisah ini maka harus diterangkan di sini kekeliruannya. Saya katakan –dengan mengharapkan bimbingan Allah– : Ketahuilah –semoga Allah membimbing kita kepada jalan-jalan kebaikan– bahwa awan yang turun berupa hujan tidaklah menumbuhkan kecuali rerumputan untuk pakan ternak pada umumnya dan hanya menumbuhkan rumput yang bersifat musiman. Bahkan kalau hujan itu turunnya di bumi yang gersang atau tidak pada musimnya, tidak bermanfaat. Dan kadang-kadang awan itu membawa kerusakan dan menimbulkan kehancuran. Berbeda halnya dengan air sumur, dia bisa dijadikan air minunm dan untuk bercocok tanam. Dan biasanya daerah yang ada sumurnya kehidupan di sana lebih bertahan lama karena penduduknya bisa bercocok tanam, minum, memanen hasil tanamannya, dan seterusnya. Dan keberadaan sumur bisa memberi manfaat bagi orang yang tinggal di situ dan bagi orang yang lewat apakah untuk diri mereka, tunggangan mereka, untuk tanaman mereka, dan perbekalan mereka dengan cara disimpan dalam bejana-bejana. Sumur, setiap saat airnya bersih, jernih, dan harum, apakah Anda berpikir untuk meninggalkannya.

Ada kisah lain, mudah-mudahan semakin memperjelas kesesatan jamaah ini. Diceritakan di hadapan para pemula yang ingin menuntut ilmu syar’i bahwa salah seorang di antara mereka berkata : [ “Kemana Anda akan pergi wahai fulan.” Maka yang lain akan menjawab : “Aku akan pergi belajar.” Kemudian orang yang pertama tadi berkata : “Untuk apa.” Yang lain berkata : “Agar aku mengetahui perkara yang halal dan haram.” Yang pertama berkata : “Subhanallah, Anda tidak tahu perkara yang halal dan haram.! Apakah anda tidak mendengar bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : ‘Mintalah fatwa kepada hatimu meskipun banyak orang yang memberi fatwa kepadamu.’ Subhanallah, sampai sekarang engkau tidak mengetahui perkara yang halal dan yang haram padahal banyak binatang yang mengerti tentang itu. Apakah Anda tidak melihat kucing ketika Anda letakkan makanan di suatu tempat kemudian Anda pergi dan kembali lagi sebentar setelah itu maka Anda akan lihat dia memakannya dan ketika melihatmu dia akan lari. Berbeda dengan kalau Anda duduk di atas kursi makanmu kemudian Anda letakkan di sebelahmu sesuatu makanan maka dia akan makan dengan tenang di sebelahmu. Pada kasus yang pertama kucing itu tahu bahwa dia terjatuh ke dalam perbuatan yang haram oleh karena itu dia lari. Dan pada kasus yang kedua, dia tahu bahwa makanan yang didapatkannya halal oleh karena itu dia makan bersamamu dengan tenang. Wahai saudaraku, akal kaum Mukminin bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram! Oleh karena itu mintalah fatwa kepada hatimu walau banyak orang yang memberi fatwa kepadamu.!” ]

Maka wahai saudaraku, apakah Anda setuju dengan permisalan seperti itu. Tentunya bagi seorang Muslim dalam menentukan perkara halal/haram dan perkara lain dalam urusan agama ini harus bersandar kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Sebab kalau masing-masing orang diberikan kebebasan menentukan urusan agama ini sekehendaknya sendiri niscaya akan rusak agama yang mulia ini. Adapun perkara minta fatwa kepada hati dalam menentukan suatu permasalahan, hal ini kadang-kadang bisa diterapkan dalam hal-hal yang memang belum jelas urusannya dalam agama ini. Dan tentunya syaratnya dia harus seorang rasikh (mendalam) ilmunya dalam Dien ini dan tidak dikhawatirkan hawa nafsu mempengaruhinya. Diceritakan bahwa salah seorang tabligh berbicara memberikan semangat kepada para pendengarnya untuk khuruj bersama mereka dengan meninggalkan anak, istri, keluarga, harta, negeri, dan lain-lainnya : “Wahai saudaraku, jika Anda meletakkan gula ke dalam gelas teh kemudian Anda tuangkan air dan Anda minum tanpa mengaduk gulanya maka Anda tidak akan merasakan manisnya gula. Dan jika Anda aduk maka akan merasakan manisnya gula. Demikian halnya dengan iman di dalam hati setiap manusia. Iman itu ada dan tidak akan bisa dirasakan manisnya oleh pemiliknya kecuali setelah mengaduknya dengan bergabung dan khuruj bersama jamaah ini.” Saya beranggapan, Anda akan segera membantah kisah ini dengan berkata : “Subhanallah! Jadi iman itu ada di setiap hati manusia.! Hingga di hati-hati orang munafik, kafir, dan murtad!” Dan barangkali Anda akan berkata pula : “Subhanallah! Jadi para ulama, penuntut ilmu, dai, orang awam dari kalangan pria dan wanita tidak akan merasakan manisnya iman bila tidak ikut khuruj dengan kalian.!” Mungkin Anda akan juga berkata : “Subhanallah! Bukankah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

‘Tiga perkara, barangsiapa ada pada dirinya tiga perkara itu akan merasakan manisnya iman : Menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya, dia mencintai seseorang karena Allah, dan dia benci kembali kepada kekufuran setelah dia diselamatkan Allah darinya sebagaimana dia benci kalau dilemparkan ke dalam neraka.’ (HR. Muslim 1/66)

Terakhir akan saya tutup dengan sebuah kisah bagaimana mereka mempermainkan syariat dan akal para pendengarnya. Amir khuruj membagi kelompoknya pada hari Kamis pagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama, tinggal di masjid membuat halaqah dzikir yang terus berkelanjutan hingga semua kelompok pulang. Kelompok kedua menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 3 orang lebih. Tugasnya mengetuk pintu-pintu rumah yang berdekatan dengan masjid dan mengajak mereka untuk hadir dan bergabung dalam kegiatan jamaah ini dan agar mereka menghadiri bayan (penjelasan) yang diadakan setelah Maghrib sampai Isya’. Dan sebelum semuanya berpencar sang amir menceritakan kepada mereka kisah-kisah untuk memberi pelajaran kepada mereka maka dia berkata : “Pernah pada suatu saat sebuah kelompok ke suatu daerah. Setelah mereka dibagi menjadi 2 kelompok berdiamlah kelompok pertama dalam masjid. Dan kelompok kedua keluar mengetuk pintu-pintu rumah. Setiap kali mereka mengetuk pintu, mereka tidak mendapati jawaban yang menyenangkan dan sambutan yang baik. Tetapi mereka terus mengetuk pintu-pintu rumah dan tetap saja tidak disambut dengan baik. Maka ada di antara mereka yang berkata : ‘Periksalah iman kalian, wahai teman-teman!’ Maka merekapun memeriksa iman mereka tapi mereka tidak mendapati cacat (!). Maka salah seorang mereka berkata : ‘Mungkin teman-teman kita yang kita tinggalkan di masjid lalai berdzikir kepada Allah.’ Maka mereka berkata : ‘Marilah kita lihat mereka!’ Maka ternyata mereka dapati teman-teman mereka yang ada di masjid lalai berdzikir kepada Allah. Saudaraku, apa yang terasa di dalam dirimu kalau engkau khuruj bersama mereka kemudian mereka menjadikanmu di halaqah masjid apakah Anda ketika mendengar kisah ini akan lalai dari dzikir kepada Allah. Atau engkau akan berusaha dengan keras agar Allah memberi taufiq kepada teman-temanmu yang di luar hingga mereka membawa hasil.”

Tidak diragukan lagi, inilah terjadi. Terlebih lagi jika si tablighi tadi menyandarkan perbuatannya itu dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa :

“Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah dari beberapa rumah Allah (masjid), membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka kecuali akan turun sakinah (ketenangan) kepada mereka. Dan mereka akan diliputi rahmat, dinaungi malaikat, dan disebut-sebut Allah pada hamba-hamba yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim 4/2074)

Maka menurut mereka, penghuni masjid seperti sumber listrik dan kelompok kedua seperti lampu. Bila bergerak sumber listrik mereka akan hidup. Dan kalau tidak bergerak lampunya akan mati.  Apakah Anda pernah mendengar permisalan seperti ini dan apakah Anda pernah melihat cara berdalil seperti ini! (Quthbiyah oleh Abu Ibrahim halaman 4-12)

Kitab Rujukan Jamaah Tabligh

Syaikh Tuwaijiri berkata : “Kitab yang paling top di kalangan tabligh adalah kitab Tablighin Nishshab yang dikarang oleh salah seorang tokoh mereka yang bernama Muhammad Zakaria Al Kandahlawi. Mereka sangat mengagungkan kitab ini sebagaimana Ahlus Sunnah wal Jamaah mengagungkan Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta kitab hadits lain.

Para tablighi (orang tabligh) menjadikan kitab ini sebagai rujukan dan pegangan bagi orang India dan Ajam yang mengikuti mereka. Di dalam kitab ini (Tablighin Nishshab) berisi kesyirikan-kesyirikan, bid’ah-bid’ah, khurafat-khurafat, dan hadits-hadits yang palsu dan lemah yang banyak sekali. Kitab ini sebenarnya adalah kitab yang jelek dan jahat serta sarat dengan fitnah dan kesesatan. Orang-orang tabligh menjadikannya sebagai rujukan untuk menyebarkan kebid’ahan-kebid’ahan dan kesesatan mereka, melariskannya, dan memperindahnya kepada orang-orang yang bodoh yang mereka (orang-orang tabligh -red) lebih sesat dari binatang ternak … .

Dan termasuk juga yang mereka perindah adalah dengan mewajibkan ziarah ke kubur Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam setelah haji. Padahal dalam perkara itu hanya bersandar dengan hadits-hadits yang palsu. Dan orang tabligh memiliki kitab lain yang mereka jadikan sebagai pegangan dan rujukan para pengikut mereka dari kalangan Ajam, India, dan selainnya yaitu kitab yang bernama Hayatush Shahabah karya Muhammad Yusuf Al Kandahlawi. Kitab ini juga sarat dengan hadits-hadits yang palsu dan lemah. Dan ini termasuk kitab yang jahat, sesat, dan berisi fitnah.” (Lihat Al Qaulul Baligh halaman 11-12)

Dinukil dari:

www.assunnah.cjb.net/

www.darussalaf.or.id/

22 Responses to “Kesesatannya Jamaah Tabligh..!!”

  1. Forum Informatika Says:

    Yahdikumullah… ucapan antum akan kembali ke antum

    abu salafy 01->>

    “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, jangan Kau sesatkan kami setelah Engkau beri hidayah kepada kami, jauhkanlah dan lindungilah kami dari kesesatan dan makar mereka, ENGKAULAH SEBAIK-BAIK PEMBUAT MAKAR”

  2. Forum Informatika Says:

    Website bukanlah maksud da’wah, ta’lim, dan ‘amal yang sesungguhnya.

    Ya akhii, sekarang banyak ikhwah salafy menjadikan website/internet sebagai sarana utama, saya takut hal ini akan menjadi bid’ah.

    yang tadinya sebagai media yang baik dikarenakan untuk tujuan baik, akan menjadi media tidak sunnah untuk niat baik.

    Bertobatlah ya akhii.

    abu salafy 01->>

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Wah pemahaman antum mengenai bid’ah rancu/kacau sekali akh. Coba antum kunjungi blog ana yang lain
    http://aththaifahalmanshurah.wordpress.com/
    http://belajaralislam.wordpress.com/
    http://abusalafy01.wordpress.com/

    di sidebarr nya tertulis:

    أَهْلاً-وَسَهْلاً

    السلام عليكم و رحمت الله و بركاته
    بسم الله الرحمن الرحيم
    Dengan mengharap wajah Allah semata-mata, ana mencoba berdakwah lewat media ini. Mudah-mudahan dengan membaca artikel-artikel disini akan membuat manusia mendapat hidayah. Ana mengingatkan para pengunjung, bahwa media ini bukan media utama untuk belajar, karena belajar langsung di majelis-majelis taklim asatidz salafy lebih utama, yang didalamnya banyak terdapat keberkahan yang Allah Tabaraka wa Ta’ala turunkan kepada mereka, para thullab al ilmiy
    والسلام عليكم و رحمت الله و بركاته

    Afwan kalau kata-kata yg sama tidak antum dapatkan tertulis di blog ini, cz ana mengalami kesulitan teknis.

    Ana berniat dakwah ya akhi, bukan debat, cz ini bukan media debat.

    Dan dosa apa yg ana lakukan sehingga harus tobat? Apakah dahwah ilallah, dakwah para nabi, dakwah tauhid itu dosa? Allahul musta’an, Allahul musta’an, Allahul musta’an.

  3. isa widodo Says:

    Assalammu’alaikum wr wb
    Salam kenal Ustad, maaf saya tidak terlalu paham dengan jamaah tabligh. Yang saya perhatikan di tempat saya, banyak polisi brimob kelapa dua cimanggis ikut tabligh jadi sering ke masjid, mushola sehingga mereka banyak yang ikut pengajian dan aroganisme mereka berkurang drastis mungkin sering ketemu dengan ulama kali. Istri mereka banyak yang pakai jilbab, kalau puasa sunnah tidak senin kamis saja tapi juga puasa daud, yang saya dengar setiap hari mereka membaca alquran min 1 juz dll, bahkan kata mereka brimob di tempat lain juga begitu bahkan di lampung, Tasikmalaya, Kalimantan, jawa timur dll. Komandan mereka menjadi senang, karena anak buahnya gampang diatur gak seperti dulu.
    maaf ustad, sekalian informasi bila ada teman perlu JILBAB, CADAR, PURDAH, KAOS TANGAN KHUSUS,
    bisa kontak saya di 0813 881 331 92.
    wassalam

    abu slafy 01->>

    وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Sesungguhnya jamaah tabligh, adalah jamaah yg bobrok aqidahnya, kosong tanpa ilmu, mereka beragama dan beribadah tidak mengikuti cara beragama dan beribadah sesuai tuntunan Muhammad Rasulullah صلى الله عليه وسلم tapi mengikuti cara Muhammad bin Ilyas. Dan sungguh tidak ada ulama diantara mereka, Mereka beribadah sesuai prasangka-prasangka belaka. Allahul musta’an.

    والله أعـلــم

  4. Forum Informatika Says:

    Dari mana antum dapat bukti / dalil bahwa orang yang antum sebut jamaah tabligh itu boborok aqidahnya, beragamanya ikut cara Muhammad Ilyas (bukan Muhammad in Ilyas), astaghfirullah…

    Tuduhan antum mudah2an tidak menjadikan hati antum tertutup dari hidayah Allah ta’ala. Amiin.

    Saya takut, justru antum yang berbicara tanpa ‘ilmu (yang memadai).

    abu salafy 01->>

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Coba antum baca “kitab panduan” mereka “Fadha’il A’mal” dipenuhi hadits-hadits lemah, hadits-hadits palsu bahkan hadits-hadits mungkar, banyak sekali didalamnya cerita-cerita khurafat (cerita-cerita dusta), apakah ilmu ya akhi? Sungguh ini adalah bukti kebodohan dan kebobrokan mereka, dengan dasar kitab inilah mereka beribadah, Allahul Musta’an. Apakah menyebarkan ke-bid’ah-an dan kedustaan itu ilmu? Sesungguhnyalah hati antum ditutupi kabut gelap ke-bid’ah-an dan kedustaan. Padahal الله عز وجل melarang kita berdusta. Firman-Nya:

    يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولاً سديداً يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزاً عظيماً الأحزاب

    “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu, dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya dia telah mendapat kemenangan yang besar” (QS al-Ahzab: 70-71)

    Selain “Fadha’il A’mal” mereka kan beribadah menggunakan “petunjuk” Mohammad Ilyas yaitu Ushulus Sittah (enam dasar), apakah ini petunjuk junjungan kita Muhammad Rasulullah صلى الله عليه وسلم ??? Jawablah dengan jujur, itu kalau antum masih punya sedikit keadilan. Sadarlah akhi akan kebodohan dan kebobrokan mereka…………

    Semoga antum segera mendapat hidayah setelah ini, امِين

    بَارَكَ اللهُ فِيْكَ

  5. Bedun Santosa Says:

    1). Katakan laa ilaaha illallah pasti kamu berjaya dunia dan akhirat

    2). Alhamdulillah kita bersaudara satu kalimat Syahadat, Allah Swt telah menetapkan bahwa kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, sejauhmana kita t’at kepada Allah Swt dengan mengikuti Sunnah Rasulullah Saw.

    3). Jangan menyekutukan Allah dengan sesuatupun
    Beramalah dengan yang dicontohkan Rasulullah Saw
    4). Shalatlah yang khusyu’ dan khudhu’ dengan menjaga waktu, dimasjid dan berjama’ah agar menghindarkan dirimu dari sifat keji dan mungkar.
    5). Belajarlah ilmu agama dan amalkanlah, jangan sombong lantaran ilmu yang kamu miliki, untuk itu selalulah mengingat Allah, mengingat perintah, larangan, janji dan ancaman Allah Swt..
    Jangan egois mementingkan dirimu sendiri, masih banyak kaum muslimin yang jauh dari amal agama, berfikirlah untuk mereka, datangi mereka dan ajaklah dengan kasih sayang, sebagaimana menyayangi dirimu sendiri.
    6). Dalam setiap amalmu jagalah keikhlasan, karena Allah Swt hanya menerima amal yang dilakukan semata-mata karena Allah, jangan karena hawa nafsu apalagi sikap ashobiyah.
    Gunakan harta dan dirimu dijalan Allah agar dirimu terhindar dari azab yang pedih, jangan kamu lebih mencintai bapak2mu, anak2mu, saudara2mu, istri2mu, kaum kerabatmu, hartamu, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, serta rumah yang kamu senangi, karena Allah Swt tidak akan memberi hidayah kepada orang2 fasik.

    Inilah jalanku mengajak manusia kepada Allah atas bashirah, jalanku dan jalan para pengikutku.
    Siapakah yang lebih baik perkataanya daripada orang yang menyeru kepada Allah?

    7). Ikutilah orang2 yang tidak minta upah, donasi dan sumbangan, merekalah orang2 yang mendapat petunjuk.

    Belum datangkah kepadamu orang yang memberi peringatan, jangan kamu berpaling dan menyombongkan diri.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

    abu salafy 01->>

    وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
    بسم الله الرحمن الرحيم

    1). Bagaimana antum memahami makna Kalimatut Tauhid لا إِلَهَ إِلا اللهُ ????
    Apa syarat-syaratnya agar kita ‘berjaya’??? Sesuaikah pemahaman antum dengan pemahaman para sahabat???

    2). Kalau kami الْحَمْدُ للهِ telah beribadah dengan mengikuti perintah الله عز وجل dan petunjuk serta sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم sekuat tenaga kami sesuai dengan kemampuan yg kami miliki, kalau kalian (tablighi) beribadah sesuai petunjuknya Muhammad Ilyas.

    3). Kalau pemahaman antum benar, dalam memaknai Kalimatut Tauhid لا إِلَهَ إِلا اللهُ maka إِنْ شَاءَ اللهُ antum tidak akan terjatuh dalam kesyirikan, tapi kenyataan berbeda sekali kalau antum berkunjung kepusatnya Jamaah tabligh di India sana, antum akan dapati masjid utama kalian berdiri diatas kuburan!!! Ini suatu kesyirikan akhi, penyekutuan dalam peribadahan kepada الله عز وجل Padahal Baginda kita yg paling mulia diatas seluruh makhluk Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:”jangan kamu ikuti yahudi dan nashsara, sesungguhnya mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka masjid.”

    4). Bagamana cara Shalat yang khusyu’ dan khudhu’? Sesuaikah dengan petunjuk Rasulullah صلى الله عليه وسلم ???

    5). Antum suruh ana belajar, padahal ana thullubul ilm (penuntut ilmu) yg syar’i yg bersandar kepada al-Qur’an dan al-Hadits, dan ana sudah menyampaikan kepada para pembaca blog ini, bagaimana dengan antum?

    6). Bagaimana pemahaman antum mengenai ikhlas yang dimaui oleh الله عز وجل dan Rasul-Nya?

    7). Sungguh asatidz (para ustadz) kami, tidak melakukan seperti bayangan antum.

    والله أعـلــم

    بَارَكَ اللهُ فِيْكَ

  6. Abdullah Says:

    Antum telah memecah belah ummat …

    Karena banyak salafiyyun yang ngaku2 seperti antum inilah, jangankan ummat secara keseluruhan, pada diri salafiyyun pun sudah mulai terpecah belah, ini mungkin disebabkan orang2 seperti antum.

    abu salafy 01->>

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Persatuan atas dasar apa yang antum inginkan? Atas dasar ke-bid’ah-an? Atau atas dasar kesyirikan? Atau apa?? Allahul musta’an, Allahul musta’an, Allahul musta’an…!!!

    Apa antum lupa, bahwa pada 3 generasi awal umat ini mengalami masa puncak kegemilangannya, atas dasar tauhid, ATAS DASAR TAUHID

    Apakah dakwah tauhid yang kami dakwahkan, antum anggap sebagai penyebab perpecahan? Allahul musta’an…!!!

    Antum ingat ketika junjungan kita Rasulullah صلى الله عليه وسلم diajak musyawarah oleh pembesar2 Quraisy, apa keinginan mereka? Keinginan mereka agar Rasulullah صلى الله عليه وسلم menghentikan dakwah tauhid, karena dakwah tauhid tersebut menyebabkan PERPECAHAN DIKALANGAN QURAISY, BAPAK PISAH SAMA ANAKNYA, IBU PISAH SAMA ANAKNYA, SUAMI ISTERI BERCERAI, BUDAK-BUDAK MEMBANGKANG, dan lain sebagainya. Masyarakat Quraisy yang dulu bersatu akhirnya cerai berai akibat dakwah tauhid yang beliau صلى الله عليه وسلم bawakan. bukan begitu? Itu berarti igauan kalian itu sama dengan keinginan pembesar2 Quraisy,agar kami menghentikan dakwah tauhid. Iya kan?>
    Allahul musta’an, Allahul musta’an, Allahul musta’an…!!!

    وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِيْنَ، وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيْرًا

    “Dan demikianlah, kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh dari kalangan orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Rabb mu menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong.” (Al-Furqan: 31)

    Begitulah dakwah yang dilakukan para ulama (pewaris nabi), yang selalu berdakwah untuk memurnikan tauhid serta menegakkan Sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. mendapat perlawanan dari mana-mana.

    Sebagaimana dialami Rasulullah صلى الله عليه وسلم dakwah yang mengajak kepada tauhid niscaya akan menghadapi musuh-musuh yang tiada henti-hentinya untuk memadamkan cahaya tauhid di muka bumi ini.

    Apakah kalian mencela kami karena berpegang teguh dengan al-Qur’an dan as-Sunnah?? Allahul musta’an…!!!

    Peran kami jelas, mengibarkan bendera perang kepada ahlul bid’ah, ahlul ahwa dan memurnikan peribadahan ini hanya untuk Allah semata-mata, yaitu KALIMAT لا إله إلا الله
    والله أعـلــم

  7. Abdullah Says:

    Ya akhii, jika memang menurut pemahaman antum orang2 yang kalian sebut JT ini ahli bid’ah, dan semacamnya. Apa do’a yang antum panjatkan kepada Allah ta’ala ketika antum bangun malam atau habis sholat?

    - Mudah2an do’a antum yang baik akan saya tirukan. Tolong kasih tahu.

    Apabila antum bertatap muka dengan orang2 yang antum sebut JT, apa yang akan antum katakan atau lakukan pada dia?

    - Mudah2an perkataan atau perlakuan antum yang baik bisa saya tirukan.

    Insya Allah.

  8. lukman Says:

    ass,akhi sodaraku….
    jangan halangi dirimu dengan kenyataan,bahwa jamaah tablig telah banyak membawa perubahan positiv.lihat amal mereka,dengan jujur,bandingkan dengan sebelum mereka bertablig.amal mereka sederhana,solat berjamah,amalkan sunah,dll yg jelas kesolehannya.hati mereka tak terpaut apapun kecuali pada Rabbnya.
    apapun kata anda,bid’ah sesat kafir ato apa,cuma amal soleh mereka yg menjawab tuduhan anda.

  9. Kelly Brown Says:

    Hi, gr8 post thanks for posting. Information is useful!

  10. muhammad nafi Says:

    asalamualaikum ustadz,saya di jepang sekarang saya bingung ustadz,dulu sya tidak pernah melakukan sholat berjamaah,terus sering melakukan banyak maksiat,alhamdulilah setelah datang kemasjid dan sholat berjamaah ,alhamdulilah saya rasakan ketenanagn itu datang .setelah saya sering datang dan iktikaf dan sholat berjaamah suatu hari say tanya sama ,orang yang sering sholat berjaamah bareng dan iktikaf bareng .ternyata jamaah yang saya ikuti ini jamah tbligh ustadz,dan stiap saya rasakan stiap habis bayan selalau ada taskil,yaitu siapa yang mau keluar 3 hari ,40 hari dan 4bulan ,dan karena saya tidak tahu apa apa maka saya ikut ikutan aja ustadz,saya ikut berdiri dengan niat keluar kejalan Allah yang sudah di tentukan ,karena saya belom mengenal jauh tentang jamah tablig mohon bimbingan uztad kalo bisa tolong bales kealamat imail saya ustadz saya ingin mengetahuai lebih banyak lagi tentang jamah tablig

    abu salafy 01 >>

    insyaAllah ana akan bantu antum
    ahsannya/baiknya antum donload e-book nya disini http://sunniy.wordpress.com/buku-sunniy-chm/

  11. wan Says:

    masya Allah.abu salafy antum orang yang sangat pandai dalam ilmu agama monggo luangkan waktu dan harta untuk menyebarkannya pada seluruh manusia diseluruh alam..semoga Allah pilih kita semua untuk tolong agamaNya

    abu salafy 01 >>

    masalah harta itu bukan urusan antum, kemana akan ana belanjakan!!!

  12. Mubahalah Says:

    Assalamu’alaikum Akhi,

    Bila ditantang bermubahalah, siapkah akhi bermubahalah dengan orang-orang yang Akhi anggap sesat ini? Seandainya usaha dakwah ini sesat, maka orang-orang ini dilaknat Allah, dan seandainya usaha dakwah ini tidak sesat, maka Akhi yang dilaknat Allah.

    abu salafy 01 >>

    kami mengingatkan manusia dari kesesatan JT antum ajak mubahalah????
    bahkan antum gak mau menunjukkan jati antum sebenarnya…

  13. adi Says:

    intropeksi diri gwsh mencela

    abu salafy 01 >>

    cuma mengingatkan akan kesesatan JT,
    jika diterima, itu yg diharapkan
    jika ditolak, kami telah melaksanakan kewajiban

    barakallahu fiik

  14. adi Says:

    mau salafi atau tagligh yang penting taat kpd allah dan rasul dan saling berkasihsayang bukannya saling membid’ahkan

    abu salafy 01 >>

    Kalau kalian taat kepada Allah dan Rasul-Nya,
    pasti akan menyambut seruan kami, bukan menolak

  15. rkn2003 Says:

    kalau orang yang dikatakan sesat kemudian ternyata orang itu mati dengan mengucapkan laailaahaillalaah bagaimana?
    terus orang yang mengatakan sesat tadi hukumnya gimana?
    ada hadits barangsiapa diakhir hayat mengucapkan laailaahaillallaah maka dijamin masuk surga.

    abu salafy 01 >>

    antum betul, tapi itu ada syaratnya, apakah antum tau syarat2 laa ilaaha ilallaah?
    kalau antum belum tahu boleh baca ini:


    SYARAT-SYARAT TAUHID لااله الا الله

    Ustadz Muhammad Umar Assewed

    Kalimat tauhid mempunyai keuta-maan yang sangat agung. Dengan kalimat tersebut seseorang akan dapat masuk surga dan selamat dari api neraka. Sehingga dikata-kan bahwa kalimat tauhid merupakan kunci surga. Barangsiapa yang akhir kalimatnya adalah لا إله إلا الله maka dia termasuk ahlul jannah (penghuni surga).

    Namun sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh dalam kitab Fathul Majid bahwa setiap kunci memiliki gigi-gigi. Dan tanpa gigi-gigi tersebut tidak dapat dikatakan kunci dan tidak bisa dipakai untuk membuka. Gigi-gigi pada kunci surga tersebut adalah syarat-syarat لا إله إلا الله Barang siapa memenuhi syarat-syarat tersebut dia akan mendapatkan surga, sedangkan barang-sapa yang tidak melengkapinya maka ucapannya hanya igauan tanpa makna.

    Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jaminan surga kepada orang-orang mukmin, Rasulullah menyebutkannya degan lafadz:
    مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ….. (متفق عليه

    “Barang siapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diiba-dahi kecuali Allah…” (HR. Bukhari Muslim)

    Lafadz شهد (bersaksi) bukanlah sekedar ucapan, karena persaksian lebih luas makna-nya daripada ucapan. Lafadz ini mengandung ucapan dengan lisan, ilmu, pemahaman, keyakinan dalam hati dan pembuktian dengan amalan.

    Bukankah kita ketahui bahwa seseorang yang mempersaksikan suatu persaksian di hadapan hakim di pengadilan, tidak akan diterima jika saksi tersebut tidak mengetahui? Atau ia tidak memahami apa yang dia ucapkan? Bukankah jika ia berbicara dengan ragu dan tidak yakin juga tidak akan diterima persaksiannya? Demikian pula persaksian seseorang yang bertentangan dengan perbuatannya sendiri, tidak akan dipercaya oleh pengadilan manapun. Hal ini jika ditinjau dari makna شهد (mempersaksikan).

    Oleh karena itu sebatas mengucapkannya tanpa adanya pengetahuan tentang maknanya, keyakinan hati, dan tanpa pengamalan terhadap konsekwensi-konsekwensinya baik berupa pensucian diri dari noda kesyirikan maupun pengikhlasan ucapan dan amalan, ucapan hati dan lisan, amalan hati dan anggota badan, maka hal tersebut tidaklah bermanfaat menurut kesepakatan para ulama (lihat Fathul Majid, Abdurrahman Alu Syaikh, hal. 52)

    Itulah hakikat makna syahadat yang harus ditunjukkan dengan adanya keikhlasan dan kejujuran yang mana keduanya harus berjalan beriringan dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Jika tidak mengikhlaskan persaksiannya berarti dia adalah musyrik dan apabila tidak jujur dalam persaksiannya berarti dia munafiq.

    Jadi, persaksian dengan kalimat لا إله إلا الله yang merupakan kunci untuk membuka pintu surga tentu harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut:

    Syarat pertama: Ilmu

    yaitu pengetahuan terhadap makna syahadat yang membuahkan peniadaan terhadap kebodohan. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
    فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ…. محمد: 19

    “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) yang patut diiba-dahi kecuali Allah ….” (Muhammad: 19)

    dan dalam hadits disebutkan:
    مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ. (رواه مسلم عن عثمان بن عفان

    “Barangsiapa yang mati, sedangkan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang patut diibadahi kecuali Allah, maka ia akan masuk surga.” (HR. Muslim)

    Syarat kedua: Yakin

    Yaitu keyakinan dengan tanpa keraguan terhadap kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. Hal tersebut tidak akan terwujud kecuali jika seseorang meng-ucapkannya dalam keadaan yakin terhadap kandungan makna dari persaksiannya.

    Dalilnya adalah firman-Nya:
    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا…الحجرات: 15

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu … “ (al-Hujurat: 15)

    Untuk membuktikan kebenaran keimanannya, Allah memberikan syarat adanya keyakinan pada keimanannya ini. Karena orang yang ragu dalam keimanannya tidak lain hanyalah orang-orang munafiq –wal iyadzu billah- sebagaimana yang diterangkan dalam ayat-Nya:
    إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ. التوبة: 45

    “Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (at-Taubah: 45)

    Adapun dalil dari sunnah adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits:
    مَنْ لَقِيْتُ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبَهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ. (رواه مسلم عن أبي هريرة

    “Barangsiapa yang menemuiku dari balik tabir ini yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang patut diibadahi kecuali Allah dengan yakin terhadapnya dalam hatinya, maka berilah kabar gembira kepadanya dengan surga.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

    Syarat ketiga: Menerima

    Yaitu menerima segala konsekwensi-konsek-wensi dari kalimat syahadat baik dengan hatinya maupun dengan lisannya. Tidak se-perti kaum musyrikin yang tidak mau mene-rima konsekwensi kalimat tauhid yaitu me-ninggalkan sesembahan-sesembahan mereka.

    Allah Azza wa Jalla berfirman:
    إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ . وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ الصافات: 36

    “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” (ash-Shafat: 35-36)

    Adapun dalil dari hadits adalah:
    إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَ لِغَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ
    فَأَنْبَتَتِ الْكَـَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَـَلأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِيْنِ اللهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ. (رواه البخاري

    “Sesungguhnya permisalan apa-apa yang Allah Azza wa Jalla telah mengutusku dengan petunjuk dan ilmu ini adalah bagaikan hujan yang membasahi bumi. Ada di antara bumi yang subur, ia dapat menerima air, menumbuhkan pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan yang banyak. Ada pula bumi yang tidak subur, ia tidak dapat menerima air tesebut, namun Allah memberikan manfaat bagi manusia, hingga mereka dapat minum darinya dan menggembalakan ternaknya. Dan ada pula bumi lain yaitu padang pasir yang tidak bisa menerima air dan tidak pula dapat menumbuhkan pohon-pohonan. Maka demikianlah permisalan bagi siapa yang paham terhadap agama Allah dan dapat mengambil manfaat dari apa-apa yang Allah mengutusku dengannya maka dia mengetahui dan mengajarkannya. Dan permisalan bagi siapa yang tidak mengangkat kepalanya dengan hal itu dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.” (HR. Bukhari)

    Syarat keempat: Tunduk

    Yaitu tunduk dan menerima konsek-wensi-konsekwensi kalimatلا إله إلا الله Allah Azza wa Jalla berfirman:
    وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ اْلأُمُورِ. لقمان: 22

    “Dan barangsiapa yang menyerahkan diri-nya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (Luqman: 22)

    Syarat kelima: Jujur

    Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan mengucapkannya secara jujur dari dalam hatinya. Maka jika mengucapkan syahadat dengan lisannya akan tetapi tidak dibenarkan oleh hatinya berati dia adalah munafiq, pendusta.
    Allah berfirman:

    الم(1)أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ 2 وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ العنكبوت:3

    “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengata-kan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”(al-Ankabut: 1-3)

    dan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:
    مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ . (رواه البخاري

    “Tidaklah dari salah seorang di antara kalian yang bersaksi bahwasanya tidak ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah dengan jujur dari lubuk hatinya, kecuali Allah akan mengharamkannya dari api neraka.” (HR. Bukhari)

    Syarat keenam: Ikhlas

    Yaitu keikhlasan yang bermakna memurnikan, maka apabila ibadahnya diberikan pula kepada selain Allah, maka hilanglah ke-ikhlas-an dan jatuh ke dalam kesyirikan. Maka keikhlasan harus meniadakan bentuk amalan kesyirikan, kemunafiqan, riya’ dan sum’ah. Allah Azza wa Jalla berfirman:
    …فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ. الزمر: 2

    “…Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan agama kepada-Nya.” (az-Zu-mar: 2)
    وَمَآ أُمِرُوآ إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ…

    “Padahal mereka tidak disuruh kecuali su-paya beribadah kepada Allah dengan me-murnikan ibadah kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (al-Bayyinah: 5)

    dan dalam hadits:
    أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ. (رواه البخاري

    “Manusia yang paling berbahagia dengan syafa’atku di hari kiamat adalah seseorang yang berkata لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ dengan ikhlas dari lubuk hatinya.” (HR. Bukhari)

    Syarat ketujuh: Kecintaan

    Yaitu kecintaan kepada Allah, terhadap kalimat syahadat ini, terhadap konsekwensi-konsekwensinya, terhadap orang-orang yang mengamalkannya dan berpegang teguh dengan syarat-syaratnya serta benci terhadap perkara-perkara yang membatalkan syahadat. Sebagaimana firman-Nya:
    وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ…. البقرة: 165

    “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)

    dan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:
    مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانَ أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهُ أنَ ْيَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يَْقذِفَ فِي الناَّرِ. (رواه البخاري

    “Barangsiapa yang ada padanya (tiga perkara ini) maka ia akan mendapatkan manisnya keimanan. Yakni jika ia lebih mencintai Allah dan rasul-Nya daripada selain keduanya, dan jika mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan benci pada kekafiran sebagaimana kebenciannya untuk dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari)

    Syarat kedelapan: Mengingkari Thaghut

    Yaitu segala sesuatu yang diibadahi selain Allah. Bentuk-bentuknya bisa bermacam-macam, bisa dalam bentuk jin, manusia atau pun pohon-pohonan dan hewan-hewan. Didefinisikan oleh Ibnul Qayyim dengan ucapannya: “Thaghut adalah segala sesuatu yang menyebabkan manusia keluar dari batas kehambaannya kepada Allah apakah dalam bentuk matbu’ (panutan), ma’bud (sesembahan) atau mutha’ (yang ditaati)”. Atau dengan kata lain sesuatu yang menyebabkan seseorang menjadi kufur dan syirik.

    Maka pimpinan thaghut yang harus diingkari pertama adalah setan, kemudian dukun-dukun yang datang pada mereka setan-setan, kemudian semua yang diibadahi selain Allah dalam keadaan ridha yang mengajak manusia untuk beribadah kepada dirinya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
    …قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. البقرة: 256

    “Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang-siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 256)

    dan dalam hadits:
    مَنْ قالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَرَّمَ مَالُهُ وَدَمُّهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ. (رواه مسلم

    “Barangsiapa yang berkata لا إله إلا الله dan me-ngingkari terhadap apa-apa yang diibadahi selain Allah, maka haram harta dan darahnya. Adapun perhitungannya ada pada sisi Allah.” (HR. Muslim). Wallahu a’lam.
    Sumber Penukilan:
    http://belajaralislam.wordpress.com/2009/02/04/syarat-syarat-tauhid/

  16. Rifqi Ridha Says:

    Sesungguhnya mengikuti Sunnah Rasulullah sesuai dengan pemahaman Salafussalih itu mulia tetapi susah luar biasa sehingga kita disuruh untuk mengigitnya dengan gigi geraham. Walaupun diboikot sehingga kemiskinan menimpa bahkan sampai idak menemukan makanan kecuali kecuali akar bahkan sampai kematian menjemput kita. mudah-mudahan saudara kita yang masih tersesat itu (Jamaah Tabligh) segera menyadari kekeliruannya dan memperoleh HidayahNya. Amin

  17. AWAM Says:

    WADUH, GUA BINGUNG DAH, MANA YANG BENER, SOALNYA GUA LAGI DALAMPENCARIAN, DAN GUA KTMU JAMA TABLIGH, DAN APA YANG GUA DAPETIN N GUA LIAT, JAMA TABLIGH INI SUDAH SESUAI KOK SPERTI ANJURAN NABI MUHAMMAD S.A.W, KOK MESTI SALING MENYALHAKAN YA, WONG ORANG NGAJAK KEPADA KEBAIKAN, KNAPA ENTE AJA YANG NGAJAK ORANG2 SEKITAR ENTE BERANJAK MEMAKMURKAN MASJID :p

    abu salafy 01>>

    sudah

  18. DMC Says:

    saya rsa SALAFI itu sesat buangeetz
    SALAFI klo d’ bunuh darahnya HALAL

    abu salafy 01>>

    Ini dia Contoh manusia bicara tanpa ilmu, Bodoh sekali, sesat dan menyesatkan….!!!!

  19. Dhiemas Says:

    SALAFI ITU SESAT klo d’ bunuh darahnya 100 persen HALAL,

    abu salafy 01>>

    Merekapun (JT) menghalalkan darah umat Islam!!!
    Allahul Musta’an

  20. sarafi Says:

    ..Cukup seseorang itu dikatakan telah berdusta bila dia memberitakan apa saja dari apa yang dia dengar..”

  21. ikhwan Says:

    ngeri … ngeri … ustad ini ….

    abu salafy 01>>

    Apa yg antum takutkan akhi? ana hanya membongkar kedok dan kebobrogan JT in karena الله تعالى

  22. teguh mulia utama Says:

    Ustad,

    Ajarin ane ilmu untuk bisa mengetahui kesesatan orang lain walau hanya dengan membaca bukunya ?