<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Kesesatannya Jamaah Tabligh..!!</title>
	<atom:link href="http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/01/10/kesesatannya-jamaah-tabligh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/01/10/kesesatannya-jamaah-tabligh/</link>
	<description>Just another Salafy.ws weblog</description>
	<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 08:06:01 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
		<item>
		<title>By: teguh mulia utama</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/01/10/kesesatannya-jamaah-tabligh/#comment-1164</link>
		<dc:creator>teguh mulia utama</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 09:30:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://belajaralislam.wordpress.com/?p=142#comment-1164</guid>
		<description>Ustad,

Ajarin ane ilmu untuk bisa mengetahui kesesatan orang lain walau hanya dengan membaca bukunya ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ustad,</p>
<p>Ajarin ane ilmu untuk bisa mengetahui kesesatan orang lain walau hanya dengan membaca bukunya ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ikhwan</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/01/10/kesesatannya-jamaah-tabligh/#comment-1158</link>
		<dc:creator>ikhwan</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 03:41:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://belajaralislam.wordpress.com/?p=142#comment-1158</guid>
		<description>ngeri ... ngeri ... ustad ini ....




&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;abu salafy 01&#62;&#62;&lt;/strong&gt;

Apa yg antum takutkan akhi? ana hanya membongkar kedok dan kebobrogan JT in karena الله تعالى&lt;/strong&gt;&lt;/blockquote&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ngeri &#8230; ngeri &#8230; ustad ini &#8230;.</p>
<blockquote><p><strong></strong><strong>abu salafy 01&gt;&gt;</strong></p>
<p>Apa yg antum takutkan akhi? ana hanya membongkar kedok dan kebobrogan JT in karena الله تعالى</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sarafi</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/01/10/kesesatannya-jamaah-tabligh/#comment-1143</link>
		<dc:creator>sarafi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 07:53:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://belajaralislam.wordpress.com/?p=142#comment-1143</guid>
		<description>..Cukup seseorang itu dikatakan telah berdusta bila dia memberitakan apa saja dari apa yang dia dengar..”</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>..Cukup seseorang itu dikatakan telah berdusta bila dia memberitakan apa saja dari apa yang dia dengar..”</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dhiemas</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/01/10/kesesatannya-jamaah-tabligh/#comment-1129</link>
		<dc:creator>Dhiemas</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 05:15:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://belajaralislam.wordpress.com/?p=142#comment-1129</guid>
		<description>SALAFI ITU SESAT klo d' bunuh darahnya 100 persen HALAL,




&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;abu salafy 01&#62;&#62;&lt;/strong&gt;

&lt;strong&gt;Merekapun (JT) menghalalkan darah umat Islam!!!
Allahul Musta'an&lt;/strong&gt;
&lt;/blockquote&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>SALAFI ITU SESAT klo d&#8217; bunuh darahnya 100 persen HALAL,</p>
<blockquote><p><strong>abu salafy 01&gt;&gt;</strong></p>
<p><strong>Merekapun (JT) menghalalkan darah umat Islam!!!<br />
Allahul Musta&#8217;an</strong>
</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: DMC</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/01/10/kesesatannya-jamaah-tabligh/#comment-1128</link>
		<dc:creator>DMC</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 05:13:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://belajaralislam.wordpress.com/?p=142#comment-1128</guid>
		<description>saya rsa SALAFI itu sesat buangeetz
                                SALAFI klo d' bunuh darahnya HALAL




&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;abu salafy 01&#62;&#62;

Ini dia Contoh manusia bicara tanpa ilmu, Bodoh sekali, sesat dan menyesatkan....!!!!&lt;/strong&gt;&lt;/blockquote&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya rsa SALAFI itu sesat buangeetz<br />
                                SALAFI klo d&#8217; bunuh darahnya HALAL</p>
<blockquote><p><strong>abu salafy 01&gt;&gt;</p>
<p>Ini dia Contoh manusia bicara tanpa ilmu, Bodoh sekali, sesat dan menyesatkan&#8230;.!!!!</strong></p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: AWAM</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/01/10/kesesatannya-jamaah-tabligh/#comment-1126</link>
		<dc:creator>AWAM</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 08:50:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://belajaralislam.wordpress.com/?p=142#comment-1126</guid>
		<description>WADUH, GUA BINGUNG DAH, MANA YANG BENER, SOALNYA GUA LAGI DALAMPENCARIAN, DAN GUA KTMU JAMA TABLIGH, DAN APA YANG GUA DAPETIN N GUA LIAT, JAMA TABLIGH INI SUDAH SESUAI KOK SPERTI ANJURAN NABI MUHAMMAD S.A.W, KOK MESTI SALING MENYALHAKAN YA, WONG ORANG NGAJAK KEPADA KEBAIKAN, KNAPA ENTE AJA YANG NGAJAK ORANG2 SEKITAR ENTE BERANJAK MEMAKMURKAN MASJID :p




&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;abu salafy 01&#62;&#62;&lt;/strong&gt;

sudah&lt;/blockquote&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>WADUH, GUA BINGUNG DAH, MANA YANG BENER, SOALNYA GUA LAGI DALAMPENCARIAN, DAN GUA KTMU JAMA TABLIGH, DAN APA YANG GUA DAPETIN N GUA LIAT, JAMA TABLIGH INI SUDAH SESUAI KOK SPERTI ANJURAN NABI MUHAMMAD S.A.W, KOK MESTI SALING MENYALHAKAN YA, WONG ORANG NGAJAK KEPADA KEBAIKAN, KNAPA ENTE AJA YANG NGAJAK ORANG2 SEKITAR ENTE BERANJAK MEMAKMURKAN MASJID :p</p>
<blockquote><p><strong>abu salafy 01&gt;&gt;</strong></p>
<p>sudah</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Rifqi Ridha</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/01/10/kesesatannya-jamaah-tabligh/#comment-840</link>
		<dc:creator>Rifqi Ridha</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 12:54:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://belajaralislam.wordpress.com/?p=142#comment-840</guid>
		<description>Sesungguhnya mengikuti Sunnah Rasulullah sesuai dengan pemahaman Salafussalih itu mulia tetapi susah luar biasa sehingga kita disuruh untuk mengigitnya dengan gigi geraham. Walaupun diboikot sehingga kemiskinan menimpa bahkan sampai idak menemukan makanan kecuali kecuali akar bahkan sampai kematian menjemput kita. mudah-mudahan saudara kita yang masih tersesat itu (Jamaah Tabligh) segera menyadari kekeliruannya dan memperoleh HidayahNya. Amin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sesungguhnya mengikuti Sunnah Rasulullah sesuai dengan pemahaman Salafussalih itu mulia tetapi susah luar biasa sehingga kita disuruh untuk mengigitnya dengan gigi geraham. Walaupun diboikot sehingga kemiskinan menimpa bahkan sampai idak menemukan makanan kecuali kecuali akar bahkan sampai kematian menjemput kita. mudah-mudahan saudara kita yang masih tersesat itu (Jamaah Tabligh) segera menyadari kekeliruannya dan memperoleh HidayahNya. Amin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rkn2003</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/01/10/kesesatannya-jamaah-tabligh/#comment-341</link>
		<dc:creator>rkn2003</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 21:01:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://belajaralislam.wordpress.com/?p=142#comment-341</guid>
		<description>kalau orang yang dikatakan sesat kemudian ternyata orang itu mati dengan mengucapkan laailaahaillalaah bagaimana?
terus orang yang mengatakan sesat tadi hukumnya gimana?
ada hadits barangsiapa diakhir hayat mengucapkan laailaahaillallaah maka dijamin masuk surga.



&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;abu salafy 01 &#62;&#62;&lt;/strong&gt;

antum betul, tapi  itu ada syaratnya, apakah antum tau syarat2 laa ilaaha ilallaah?
kalau antum belum tahu boleh baca ini:

&lt;strong&gt;
SYARAT-SYARAT TAUHID لااله الا الله 

Ustadz Muhammad Umar Assewed&lt;/strong&gt;

Kalimat tauhid mempunyai keuta-maan yang sangat agung. Dengan kalimat tersebut seseorang akan dapat masuk surga dan selamat dari api neraka. Sehingga dikata-kan bahwa kalimat tauhid merupakan kunci surga. Barangsiapa yang akhir kalimatnya adalah لا إله إلا الله maka dia termasuk ahlul jannah (penghuni surga).

Namun sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh dalam kitab Fathul Majid bahwa setiap kunci memiliki gigi-gigi. Dan tanpa gigi-gigi tersebut tidak dapat dikatakan kunci dan tidak bisa dipakai untuk membuka. Gigi-gigi pada kunci surga tersebut adalah syarat-syarat لا إله إلا الله Barang siapa memenuhi syarat-syarat tersebut dia akan mendapatkan surga, sedangkan barang-sapa yang tidak melengkapinya maka ucapannya hanya igauan tanpa makna.

Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jaminan surga kepada orang-orang mukmin, Rasulullah menyebutkannya degan lafadz:
مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ….. (متفق عليه

“Barang siapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diiba-dahi kecuali Allah…” (HR. Bukhari Muslim)

Lafadz شهد (bersaksi) bukanlah sekedar ucapan, karena persaksian lebih luas makna-nya daripada ucapan. Lafadz ini mengandung ucapan dengan lisan, ilmu, pemahaman, keyakinan dalam hati dan pembuktian dengan amalan.

Bukankah kita ketahui bahwa seseorang yang mempersaksikan suatu persaksian di hadapan hakim di pengadilan, tidak akan diterima jika saksi tersebut tidak mengetahui? Atau ia tidak memahami apa yang dia ucapkan? Bukankah jika ia berbicara dengan ragu dan tidak yakin juga tidak akan diterima persaksiannya? Demikian pula persaksian seseorang yang bertentangan dengan perbuatannya sendiri, tidak akan dipercaya oleh pengadilan manapun. Hal ini jika ditinjau dari makna شهد (mempersaksikan).

Oleh karena itu sebatas mengucapkannya tanpa adanya pengetahuan tentang maknanya, keyakinan hati, dan tanpa pengamalan terhadap konsekwensi-konsekwensinya baik berupa pensucian diri dari noda kesyirikan maupun pengikhlasan ucapan dan amalan, ucapan hati dan lisan, amalan hati dan anggota badan, maka hal tersebut tidaklah bermanfaat menurut kesepakatan para ulama (lihat Fathul Majid, Abdurrahman Alu Syaikh, hal. 52)

Itulah hakikat makna syahadat yang harus ditunjukkan dengan adanya keikhlasan dan kejujuran yang mana keduanya harus berjalan beriringan dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Jika tidak mengikhlaskan persaksiannya berarti dia adalah musyrik dan apabila tidak jujur dalam persaksiannya berarti dia munafiq.

Jadi, persaksian dengan kalimat لا إله إلا الله yang merupakan kunci untuk membuka pintu surga tentu harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut:

&lt;strong&gt;Syarat pertama: Ilmu&lt;/strong&gt;

yaitu pengetahuan terhadap makna syahadat yang membuahkan peniadaan terhadap kebodohan. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ…. محمد: 19

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) yang patut diiba-dahi kecuali Allah ….” (Muhammad: 19)

dan dalam hadits disebutkan:
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ. (رواه مسلم عن عثمان بن عفان

“Barangsiapa yang mati, sedangkan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang patut diibadahi kecuali Allah, maka ia akan masuk surga.” (HR. Muslim)

&lt;strong&gt;Syarat kedua: Yakin&lt;/strong&gt;

Yaitu keyakinan dengan tanpa keraguan terhadap kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. Hal tersebut tidak akan terwujud kecuali jika seseorang meng-ucapkannya dalam keadaan yakin terhadap kandungan makna dari persaksiannya.

Dalilnya adalah firman-Nya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا…الحجرات: 15

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu … “ (al-Hujurat: 15)

Untuk membuktikan kebenaran keimanannya, Allah memberikan syarat adanya keyakinan pada keimanannya ini. Karena orang yang ragu dalam keimanannya tidak lain hanyalah orang-orang munafiq –wal iyadzu billah- sebagaimana yang diterangkan dalam ayat-Nya:
إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ. التوبة: 45

“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (at-Taubah: 45)

Adapun dalil dari sunnah adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits:
مَنْ لَقِيْتُ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبَهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ. (رواه مسلم عن أبي هريرة

“Barangsiapa yang menemuiku dari balik tabir ini yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang patut diibadahi kecuali Allah dengan yakin terhadapnya dalam hatinya, maka berilah kabar gembira kepadanya dengan surga.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

&lt;strong&gt;Syarat ketiga: Menerima&lt;/strong&gt;

Yaitu menerima segala konsekwensi-konsek-wensi dari kalimat syahadat baik dengan hatinya maupun dengan lisannya. Tidak se-perti kaum musyrikin yang tidak mau mene-rima konsekwensi kalimat tauhid yaitu me-ninggalkan sesembahan-sesembahan mereka.

Allah Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ . وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ الصافات: 36

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” (ash-Shafat: 35-36)

Adapun dalil dari hadits adalah:
إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَ لِغَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ
فَأَنْبَتَتِ الْكَـَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَـَلأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِيْنِ اللهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ. (رواه البخاري

“Sesungguhnya permisalan apa-apa yang Allah Azza wa Jalla telah mengutusku dengan petunjuk dan ilmu ini adalah bagaikan hujan yang membasahi bumi. Ada di antara bumi yang subur, ia dapat menerima air, menumbuhkan pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan yang banyak. Ada pula bumi yang tidak subur, ia tidak dapat menerima air tesebut, namun Allah memberikan manfaat bagi manusia, hingga mereka dapat minum darinya dan menggembalakan ternaknya. Dan ada pula bumi lain yaitu padang pasir yang tidak bisa menerima air dan tidak pula dapat menumbuhkan pohon-pohonan. Maka demikianlah permisalan bagi siapa yang paham terhadap agama Allah dan dapat mengambil manfaat dari apa-apa yang Allah mengutusku dengannya maka dia mengetahui dan mengajarkannya. Dan permisalan bagi siapa yang tidak mengangkat kepalanya dengan hal itu dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.” (HR. Bukhari)

&lt;strong&gt;Syarat keempat: Tunduk&lt;/strong&gt;

Yaitu tunduk dan menerima konsek-wensi-konsekwensi kalimatلا إله إلا الله Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ اْلأُمُورِ. لقمان: 22

“Dan barangsiapa yang menyerahkan diri-nya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (Luqman: 22)

&lt;strong&gt;Syarat kelima: Jujur&lt;/strong&gt;

Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan mengucapkannya secara jujur dari dalam hatinya. Maka jika mengucapkan syahadat dengan lisannya akan tetapi tidak dibenarkan oleh hatinya berati dia adalah munafiq, pendusta.
Allah berfirman:

الم(1)أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ 2 وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ العنكبوت:3

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengata-kan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”(al-Ankabut: 1-3)

dan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:
مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ . (رواه البخاري

“Tidaklah dari salah seorang di antara kalian yang bersaksi bahwasanya tidak ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah dengan jujur dari lubuk hatinya, kecuali Allah akan mengharamkannya dari api neraka.” (HR. Bukhari)

&lt;strong&gt;Syarat keenam: Ikhlas&lt;/strong&gt;

Yaitu keikhlasan yang bermakna memurnikan, maka apabila ibadahnya diberikan pula kepada selain Allah, maka hilanglah ke-ikhlas-an dan jatuh ke dalam kesyirikan. Maka keikhlasan harus meniadakan bentuk amalan kesyirikan, kemunafiqan, riya’ dan sum’ah. Allah Azza wa Jalla berfirman:
…فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ. الزمر: 2

“…Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan agama kepada-Nya.” (az-Zu-mar: 2)
وَمَآ أُمِرُوآ إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ…

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali su-paya beribadah kepada Allah dengan me-murnikan ibadah kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (al-Bayyinah: 5)

dan dalam hadits:
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ. (رواه البخاري

“Manusia yang paling berbahagia dengan syafa’atku di hari kiamat adalah seseorang yang berkata لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ dengan ikhlas dari lubuk hatinya.” (HR. Bukhari)

&lt;strong&gt;Syarat ketujuh: Kecintaan&lt;/strong&gt;

Yaitu kecintaan kepada Allah, terhadap kalimat syahadat ini, terhadap konsekwensi-konsekwensinya, terhadap orang-orang yang mengamalkannya dan berpegang teguh dengan syarat-syaratnya serta benci terhadap perkara-perkara yang membatalkan syahadat. Sebagaimana firman-Nya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ…. البقرة: 165

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)

dan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانَ أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهُ أنَ ْيَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يَْقذِفَ فِي الناَّرِ. (رواه البخاري

“Barangsiapa yang ada padanya (tiga perkara ini) maka ia akan mendapatkan manisnya keimanan. Yakni jika ia lebih mencintai Allah dan rasul-Nya daripada selain keduanya, dan jika mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan benci pada kekafiran sebagaimana kebenciannya untuk dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari)

&lt;strong&gt;Syarat kedelapan: Mengingkari Thaghut&lt;/strong&gt;

Yaitu segala sesuatu yang diibadahi selain Allah. Bentuk-bentuknya bisa bermacam-macam, bisa dalam bentuk jin, manusia atau pun pohon-pohonan dan hewan-hewan. Didefinisikan oleh Ibnul Qayyim dengan ucapannya: “Thaghut adalah segala sesuatu yang menyebabkan manusia keluar dari batas kehambaannya kepada Allah apakah dalam bentuk matbu’ (panutan), ma’bud (sesembahan) atau mutha’ (yang ditaati)”. Atau dengan kata lain sesuatu yang menyebabkan seseorang menjadi kufur dan syirik.

Maka pimpinan thaghut yang harus diingkari pertama adalah setan, kemudian dukun-dukun yang datang pada mereka setan-setan, kemudian semua yang diibadahi selain Allah dalam keadaan ridha yang mengajak manusia untuk beribadah kepada dirinya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
…قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. البقرة: 256

“Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang-siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 256)

dan dalam hadits:
مَنْ قالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَرَّمَ مَالُهُ وَدَمُّهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ. (رواه مسلم

“Barangsiapa yang berkata لا إله إلا الله dan me-ngingkari terhadap apa-apa yang diibadahi selain Allah, maka haram harta dan darahnya. Adapun perhitungannya ada pada sisi Allah.” (HR. Muslim). Wallahu a’lam.
Sumber Penukilan:
http://belajaralislam.wordpress.com/2009/02/04/syarat-syarat-tauhid/&lt;/blockquote&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalau orang yang dikatakan sesat kemudian ternyata orang itu mati dengan mengucapkan laailaahaillalaah bagaimana?<br />
terus orang yang mengatakan sesat tadi hukumnya gimana?<br />
ada hadits barangsiapa diakhir hayat mengucapkan laailaahaillallaah maka dijamin masuk surga.</p>
<blockquote><p><strong>abu salafy 01 &gt;&gt;</strong></p>
<p>antum betul, tapi  itu ada syaratnya, apakah antum tau syarat2 laa ilaaha ilallaah?<br />
kalau antum belum tahu boleh baca ini:</p>
<p><strong><br />
SYARAT-SYARAT TAUHID لااله الا الله </p>
<p>Ustadz Muhammad Umar Assewed</strong></p>
<p>Kalimat tauhid mempunyai keuta-maan yang sangat agung. Dengan kalimat tersebut seseorang akan dapat masuk surga dan selamat dari api neraka. Sehingga dikata-kan bahwa kalimat tauhid merupakan kunci surga. Barangsiapa yang akhir kalimatnya adalah لا إله إلا الله maka dia termasuk ahlul jannah (penghuni surga).</p>
<p>Namun sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh dalam kitab Fathul Majid bahwa setiap kunci memiliki gigi-gigi. Dan tanpa gigi-gigi tersebut tidak dapat dikatakan kunci dan tidak bisa dipakai untuk membuka. Gigi-gigi pada kunci surga tersebut adalah syarat-syarat لا إله إلا الله Barang siapa memenuhi syarat-syarat tersebut dia akan mendapatkan surga, sedangkan barang-sapa yang tidak melengkapinya maka ucapannya hanya igauan tanpa makna.</p>
<p>Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jaminan surga kepada orang-orang mukmin, Rasulullah menyebutkannya degan lafadz:<br />
مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ….. (متفق عليه</p>
<p>“Barang siapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diiba-dahi kecuali Allah…” (HR. Bukhari Muslim)</p>
<p>Lafadz شهد (bersaksi) bukanlah sekedar ucapan, karena persaksian lebih luas makna-nya daripada ucapan. Lafadz ini mengandung ucapan dengan lisan, ilmu, pemahaman, keyakinan dalam hati dan pembuktian dengan amalan.</p>
<p>Bukankah kita ketahui bahwa seseorang yang mempersaksikan suatu persaksian di hadapan hakim di pengadilan, tidak akan diterima jika saksi tersebut tidak mengetahui? Atau ia tidak memahami apa yang dia ucapkan? Bukankah jika ia berbicara dengan ragu dan tidak yakin juga tidak akan diterima persaksiannya? Demikian pula persaksian seseorang yang bertentangan dengan perbuatannya sendiri, tidak akan dipercaya oleh pengadilan manapun. Hal ini jika ditinjau dari makna شهد (mempersaksikan).</p>
<p>Oleh karena itu sebatas mengucapkannya tanpa adanya pengetahuan tentang maknanya, keyakinan hati, dan tanpa pengamalan terhadap konsekwensi-konsekwensinya baik berupa pensucian diri dari noda kesyirikan maupun pengikhlasan ucapan dan amalan, ucapan hati dan lisan, amalan hati dan anggota badan, maka hal tersebut tidaklah bermanfaat menurut kesepakatan para ulama (lihat Fathul Majid, Abdurrahman Alu Syaikh, hal. 52)</p>
<p>Itulah hakikat makna syahadat yang harus ditunjukkan dengan adanya keikhlasan dan kejujuran yang mana keduanya harus berjalan beriringan dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Jika tidak mengikhlaskan persaksiannya berarti dia adalah musyrik dan apabila tidak jujur dalam persaksiannya berarti dia munafiq.</p>
<p>Jadi, persaksian dengan kalimat لا إله إلا الله yang merupakan kunci untuk membuka pintu surga tentu harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut:</p>
<p><strong>Syarat pertama: Ilmu</strong></p>
<p>yaitu pengetahuan terhadap makna syahadat yang membuahkan peniadaan terhadap kebodohan. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:<br />
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ…. محمد: 19</p>
<p>“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) yang patut diiba-dahi kecuali Allah ….” (Muhammad: 19)</p>
<p>dan dalam hadits disebutkan:<br />
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ. (رواه مسلم عن عثمان بن عفان</p>
<p>“Barangsiapa yang mati, sedangkan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang patut diibadahi kecuali Allah, maka ia akan masuk surga.” (HR. Muslim)</p>
<p><strong>Syarat kedua: Yakin</strong></p>
<p>Yaitu keyakinan dengan tanpa keraguan terhadap kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. Hal tersebut tidak akan terwujud kecuali jika seseorang meng-ucapkannya dalam keadaan yakin terhadap kandungan makna dari persaksiannya.</p>
<p>Dalilnya adalah firman-Nya:<br />
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا…الحجرات: 15</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu … “ (al-Hujurat: 15)</p>
<p>Untuk membuktikan kebenaran keimanannya, Allah memberikan syarat adanya keyakinan pada keimanannya ini. Karena orang yang ragu dalam keimanannya tidak lain hanyalah orang-orang munafiq –wal iyadzu billah- sebagaimana yang diterangkan dalam ayat-Nya:<br />
إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ. التوبة: 45</p>
<p>“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (at-Taubah: 45)</p>
<p>Adapun dalil dari sunnah adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits:<br />
مَنْ لَقِيْتُ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبَهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ. (رواه مسلم عن أبي هريرة</p>
<p>“Barangsiapa yang menemuiku dari balik tabir ini yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang patut diibadahi kecuali Allah dengan yakin terhadapnya dalam hatinya, maka berilah kabar gembira kepadanya dengan surga.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)</p>
<p><strong>Syarat ketiga: Menerima</strong></p>
<p>Yaitu menerima segala konsekwensi-konsek-wensi dari kalimat syahadat baik dengan hatinya maupun dengan lisannya. Tidak se-perti kaum musyrikin yang tidak mau mene-rima konsekwensi kalimat tauhid yaitu me-ninggalkan sesembahan-sesembahan mereka.</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman:<br />
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ . وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ الصافات: 36</p>
<p>“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” (ash-Shafat: 35-36)</p>
<p>Adapun dalil dari hadits adalah:<br />
إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَ لِغَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ<br />
فَأَنْبَتَتِ الْكَـَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَـَلأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِيْنِ اللهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ. (رواه البخاري</p>
<p>“Sesungguhnya permisalan apa-apa yang Allah Azza wa Jalla telah mengutusku dengan petunjuk dan ilmu ini adalah bagaikan hujan yang membasahi bumi. Ada di antara bumi yang subur, ia dapat menerima air, menumbuhkan pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan yang banyak. Ada pula bumi yang tidak subur, ia tidak dapat menerima air tesebut, namun Allah memberikan manfaat bagi manusia, hingga mereka dapat minum darinya dan menggembalakan ternaknya. Dan ada pula bumi lain yaitu padang pasir yang tidak bisa menerima air dan tidak pula dapat menumbuhkan pohon-pohonan. Maka demikianlah permisalan bagi siapa yang paham terhadap agama Allah dan dapat mengambil manfaat dari apa-apa yang Allah mengutusku dengannya maka dia mengetahui dan mengajarkannya. Dan permisalan bagi siapa yang tidak mengangkat kepalanya dengan hal itu dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.” (HR. Bukhari)</p>
<p><strong>Syarat keempat: Tunduk</strong></p>
<p>Yaitu tunduk dan menerima konsek-wensi-konsekwensi kalimatلا إله إلا الله Allah Azza wa Jalla berfirman:<br />
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ اْلأُمُورِ. لقمان: 22</p>
<p>“Dan barangsiapa yang menyerahkan diri-nya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (Luqman: 22)</p>
<p><strong>Syarat kelima: Jujur</strong></p>
<p>Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan mengucapkannya secara jujur dari dalam hatinya. Maka jika mengucapkan syahadat dengan lisannya akan tetapi tidak dibenarkan oleh hatinya berati dia adalah munafiq, pendusta.<br />
Allah berfirman:</p>
<p>الم(1)أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ 2 وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ العنكبوت:3</p>
<p>“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengata-kan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”(al-Ankabut: 1-3)</p>
<p>dan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:<br />
مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ . (رواه البخاري</p>
<p>“Tidaklah dari salah seorang di antara kalian yang bersaksi bahwasanya tidak ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah dengan jujur dari lubuk hatinya, kecuali Allah akan mengharamkannya dari api neraka.” (HR. Bukhari)</p>
<p><strong>Syarat keenam: Ikhlas</strong></p>
<p>Yaitu keikhlasan yang bermakna memurnikan, maka apabila ibadahnya diberikan pula kepada selain Allah, maka hilanglah ke-ikhlas-an dan jatuh ke dalam kesyirikan. Maka keikhlasan harus meniadakan bentuk amalan kesyirikan, kemunafiqan, riya’ dan sum’ah. Allah Azza wa Jalla berfirman:<br />
…فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ. الزمر: 2</p>
<p>“…Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan agama kepada-Nya.” (az-Zu-mar: 2)<br />
وَمَآ أُمِرُوآ إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ…</p>
<p>“Padahal mereka tidak disuruh kecuali su-paya beribadah kepada Allah dengan me-murnikan ibadah kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (al-Bayyinah: 5)</p>
<p>dan dalam hadits:<br />
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ. (رواه البخاري</p>
<p>“Manusia yang paling berbahagia dengan syafa’atku di hari kiamat adalah seseorang yang berkata لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ dengan ikhlas dari lubuk hatinya.” (HR. Bukhari)</p>
<p><strong>Syarat ketujuh: Kecintaan</strong></p>
<p>Yaitu kecintaan kepada Allah, terhadap kalimat syahadat ini, terhadap konsekwensi-konsekwensinya, terhadap orang-orang yang mengamalkannya dan berpegang teguh dengan syarat-syaratnya serta benci terhadap perkara-perkara yang membatalkan syahadat. Sebagaimana firman-Nya:<br />
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ…. البقرة: 165</p>
<p>“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)</p>
<p>dan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:<br />
مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانَ أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهُ أنَ ْيَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يَْقذِفَ فِي الناَّرِ. (رواه البخاري</p>
<p>“Barangsiapa yang ada padanya (tiga perkara ini) maka ia akan mendapatkan manisnya keimanan. Yakni jika ia lebih mencintai Allah dan rasul-Nya daripada selain keduanya, dan jika mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan benci pada kekafiran sebagaimana kebenciannya untuk dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari)</p>
<p><strong>Syarat kedelapan: Mengingkari Thaghut</strong></p>
<p>Yaitu segala sesuatu yang diibadahi selain Allah. Bentuk-bentuknya bisa bermacam-macam, bisa dalam bentuk jin, manusia atau pun pohon-pohonan dan hewan-hewan. Didefinisikan oleh Ibnul Qayyim dengan ucapannya: “Thaghut adalah segala sesuatu yang menyebabkan manusia keluar dari batas kehambaannya kepada Allah apakah dalam bentuk matbu’ (panutan), ma’bud (sesembahan) atau mutha’ (yang ditaati)”. Atau dengan kata lain sesuatu yang menyebabkan seseorang menjadi kufur dan syirik.</p>
<p>Maka pimpinan thaghut yang harus diingkari pertama adalah setan, kemudian dukun-dukun yang datang pada mereka setan-setan, kemudian semua yang diibadahi selain Allah dalam keadaan ridha yang mengajak manusia untuk beribadah kepada dirinya. Allah Azza wa Jalla berfirman:<br />
…قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. البقرة: 256</p>
<p>“Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang-siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 256)</p>
<p>dan dalam hadits:<br />
مَنْ قالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَرَّمَ مَالُهُ وَدَمُّهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ. (رواه مسلم</p>
<p>“Barangsiapa yang berkata لا إله إلا الله dan me-ngingkari terhadap apa-apa yang diibadahi selain Allah, maka haram harta dan darahnya. Adapun perhitungannya ada pada sisi Allah.” (HR. Muslim). Wallahu a’lam.<br />
Sumber Penukilan:<br />
<a href="http://belajaralislam.wordpress.com/2009/02/04/syarat-syarat-tauhid/" rel="nofollow">http://belajaralislam.wordpress.com/2009/02/04/syarat-syarat-tauhid/</a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: adi</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/01/10/kesesatannya-jamaah-tabligh/#comment-335</link>
		<dc:creator>adi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 05:57:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://belajaralislam.wordpress.com/?p=142#comment-335</guid>
		<description>mau salafi atau tagligh yang penting taat kpd allah dan rasul dan saling berkasihsayang bukannya saling membid'ahkan



&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;abu salafy 01 &#62;&#62;&lt;/strong&gt;

Kalau kalian taat kepada Allah dan Rasul-Nya,
pasti akan menyambut seruan kami, bukan menolak&lt;/blockquote&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mau salafi atau tagligh yang penting taat kpd allah dan rasul dan saling berkasihsayang bukannya saling membid&#8217;ahkan</p>
<blockquote><p><strong>abu salafy 01 &gt;&gt;</strong></p>
<p>Kalau kalian taat kepada Allah dan Rasul-Nya,<br />
pasti akan menyambut seruan kami, bukan menolak</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: adi</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/01/10/kesesatannya-jamaah-tabligh/#comment-334</link>
		<dc:creator>adi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 05:54:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://belajaralislam.wordpress.com/?p=142#comment-334</guid>
		<description>intropeksi diri gwsh mencela



&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;abu salafy 01 &#62;&#62;&lt;/strong&gt;

cuma mengingatkan akan kesesatan JT,
jika diterima, itu yg diharapkan
jika ditolak, kami telah melaksanakan kewajiban 

barakallahu fiik&lt;/blockquote&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>intropeksi diri gwsh mencela</p>
<blockquote><p><strong>abu salafy 01 &gt;&gt;</strong></p>
<p>cuma mengingatkan akan kesesatan JT,<br />
jika diterima, itu yg diharapkan<br />
jika ditolak, kami telah melaksanakan kewajiban </p>
<p>barakallahu fiik</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
