Mengharapkan Syafa’at

new1a

Oleh: Al-Ustadz Ayub Abu Ayub

Sebagai seorang manusia, tentulah kita selalu berkeinginan untuk
mendatangkan hal-hal yang bermanfaat bagi diri kita. Begitu juga
sebaliknya, kita berusaha sebisa mungkin untuk mencegah hal-hal yang
bermadhorot dan bisa menimbulkan kerugian menimpa kita.

Tentu saja ini adalah sifat yang lumrah. Kita makan dan minum untuk
bertahan hidup. Kita bekerja keras mencari nafkah untuk mencukupi
kebutuhan pribadi dan keluarga. Kita beribadah dan berusaha untuk taat
kepada perintah ALLAH agar kita bisa mendapatkan rahmat dan kasih
sayang-Nya yang sangat luas.

Begitu juga sebaliknya. kita berusaha untuk selalu menghindari hal-hal
yang bisa mendatangkan mara bahaya atas diri kita. Kita tidak mau
bermain-main dengan api, karena bisa membakar. Kita membutuhkan rumah
untuk melindungi diri, keluarga, dan harta kita serta dari ancaman
cuaca buruk. Kita berusaha agar tidak terjatuh ke dalam perbuatan
maksiat dan kefasikan, agar murka-ALLAH tidak menimpa kita. Inilah
sifat kita.

Tak jarang, kemampuan kita untuk mendatangkan manfaat bagi diri kita
dan mencegah serta menghindari madhorot atas diri kita jauh dari
cukup. Pada saat itulah kita membutuhkan seorang perantara. Perantara
yang mampu untuk membantu kita di dalam mendatangkan manfaat atau
perantara yang mampu membantu kita untuk menghindari bahaya dan
madhorot. Di dalam istilah syar’i, mengambil perantara dari yang lain
-di dalam rangka untuk mendatangkan manfaat atau untuk menghindari
madhorot- disebut syafa’at.

Syafa’at dalam rangka untuk mendatangkan manfaat contohnya adalah;
syafaat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bagi penduduk
surga, sehingga mereka bisa masuk ke dalamnya.

Syafaat dalam rangka untuk mencegah madhorot contohnya adalah; syafaat
Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bagi mereka yang berhak
untuk masuk ke dalam neraka, sehingga terhindar darinya.

Pembahasan tentang syafa’at sangatlah penting. Karena jika seseorang
salah di dalam memahaminya dan salah ketika menerapkannya, bukan
manfaat yang dia dapatkan dan bahaya yang dia hindarkan. Bahkan, bisa
jadi dia akan terperosok ke dalam jurang yang sangat dalam -yang tidak
ada seorangpun mampu untuk menolongnya kecuali ALLAH-, yaitu jurang
kesyirikan. Maka sudah semestinya bagi kita untuk memahami dengan baik
permasalahan ini, sesuai dengan apa yang telah dituntun oleh ALLAH
SUBAHANAHU WA TA’ALA dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Pembagian syafa’at:

1.Syafa’at yang batil. Yaitu syafa’at yang orang-orang musyrik
bergantung kepada berhala-berhala mereka, di mana mereka menyembah
berhala-berhala tersebut dalam keadaan menyangka bahwa berhala-berhala
tersebut adalah sebagai perantara -antara mereka dengan ALLAH- untuk
menyampaikan doa-doa mereka. ALLAH SUBAHANAHU WA TA’ALA berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا
يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

(Artinya: “Dan mereka beribadah kepada selain ALLAH, apa-apa yang yang
tidak bisa mencelakakan mereka dan juga tidak bisa mendatangakan
manfaat bagi mereka. Dan mereka,”Mereka adalah perantara-perantara
kami di sisi ALLAH”
) (Yunus:18)

ALLAH SUBAHANAHU WA TA’ALA berfirman:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

(Artinya: “Tidaklah kami beribadah kepada mereka kecuali agar mereka
bisa mendekatkan diri-diri kami kepada Allah lebih dekat lagi”
)
(Az-Zumar: 2)

Seperti halnya seorang rakyat yang ingin menyampaikan maksudnya kepada
seorang raja. Tak mungkin ada jalan atau sulit baginya untuk dapat
langsung menyampaiklan maksudnya kepada raja kecuali melalui
perantaraan orang-orang terdekat raja yang memiliki kedudukan khusus
di sisinya. Mereka beranggapan bahwa berhala-berhala mereka, wali-wali
mereka, mempunyai kedudukan khusus di sisi ALLAH. Dengan demikian,
menyampaikan keinginan kepada ALLAH melalui doa-doa, akan lebih cepat
sampai jika melalui perantaraan mereka.

Tentu saja analogi (perumpamaan/permisalan- ed) di atas tidak bisa
dibenarkan. Seorang raja, bagaimanapun berkuasanya dia tetap saja dia
adalah seorang manusia yang mempunyai banyak kekurangan. Dia
membutuhkan orang-orang yang dapat membantu di dalam tugasnya. Bahkan aspirasi dari rakyatnya pun tidak semuanya bisa diketahui disebabkan keterbatasannya itu. Wajar saja peran orang khusus -pada kondisi ini sangat berarti bagi mereka yang ingin menyampaikan aspirasi atau
keinginannya. Akan tetapi ALLAH adalah Dzat yang Maha Sempurna. Dia
Maha Kaya lagi Maha Mengetahui. Tidak membutuhkan kepada suatu apapun
karena kekayaan dan kekuasaanNya. Maha Mengetahui apa yang dilakukan
oleh hamba-Nya -lahiriah atau batiniah-. ALLAH Maha Mendengar doa para
hamba-Nya. ALLAH tidak membutuhkan perantara untuk mendengarkan doa
hamban-hamba-Nya.

Terlebih yang dijadikan perantara adalah orang-orang yang sudah mati
tak berdaya apa-apa. Tidak mampu untuk menolong atau mencelakakan.
Bahkan merekalah yang lebih berhak untuk ditolong. Bahkan ketika
orang-orang musryik Quraisy melakukan demikian, hal ini dianggap
peribadatan kepada selain ALLAH dan termasuk bentuk kesyirikan.

1.Syafa’at yang benar.

Syafa’at yang benar ini harus memenuhi 3 syarat:

· Ridho ALLAH terhadap si perantara

·Ridho ALLAH terhadap yang mendapatkan syafa’at

·Idzin dari ALLAH untuk memberikan syafa’at. Dan ALLAH Ta’ala tidak
akan memberikan idzin, kecuali setelah Dia meridhoi si perantara dan
yang menerima syafa’at.

ALLAH Ta’ala berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

(Artinya: “Tidak ada yang bisa memberi syafaat di sisiNya kecuali
dengan idzinNya.”
) (Al Baqoroh 255)

Syafa’at terbesar adalah syafa’at yang menjadi kekhususan Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam di hari kiamat kelak. Pada waktu itu
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadi perantara dari manusia
untuk memohon kepada ALLAH agar mereka bisa mendapatkan kenyamanan dipadang mahsyar, ketika seluruh manusia dikumpulkan untuk diadili. Sebagaimana yang kita ketahui, hari tersebut adalah hari yang sangat dahsyat. Matahari berada di atas kepala kita dalam jarak satu mil.
Keringat bercucuran deras sesuai dengan amalan masing-masing. Ada yang
keringatnya semata kaki, ada yang sepinggang, ada yang seleher bahkan
ada yang tenggelam di dalam keringatnya sendiri. Manusia menunggu di
dalam waktu yang lama dan hati yang gelisah, “Di manakah tempatku
nanti?”

Ketelanjangan tidaklah menjadi perhatian disebabkan dahsyatnya hari
tersebut. Di saat-saat yang sulit tersebut, sekelompok orang datang
kepada Nabi Nuh AS agar dia berdoa kepada ALLAH untuk meringankan
beban mereka. Akan tetapi Beliau AS tidak sanggup. Pergilah mereka
kepada Ibrahim, kemudian Musa, kemudian Isya AS. Tetapi seperti halnya
Nuh, mereka pun tidak bisa memenuhi keiinginan mereka. Akhirnya
rombongan tersebut pergi kepada semulia-mulianya makhluk, Muhammad
shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wa sallam bersujud dalam waktu yang sangat panjang. Beliau juga
mengucapkan puji-pujian kepada ALLAH Ta’ala dengan pujian yang tidak
pernah disebutkan sebelumnya. Akhirnya ALLAH pun mengjinkan Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam memberi syafa’at kepada manusia -agar
mereka mendapatkan keringanan dari beban-beban yang menghimpit mereka
pada hari yang sangat dahsyat tersebut-. Inilah yang disebut Syafa’at
Udzhma atau syafa’at terbesar -yang hanya menjadi hak khusus bagi
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah ini dibawakan oleh Al
Imam Bukhari dalam kitab Shohih beliau.

Selain syafa’at terbesar ini, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
juga memiliki hak khusus di dua syafa’at yang lain.

Yang pertama adalah, syafa’at untuk penduduk surga agar mereka bisa masuk ke dalamnya. Ini dikarenakan ketika para penduduk surga sudah berhasil menyebarangi jembatan ash shiroth dan sampai kepada pintu surga, mereka mendapatkan pintu-pintu surga dalam keadaan tertutup. Maka mereka membutuhkan seseorang sebagai perantara mereka untuk membuka pintu-pintu tersebut. ALLAH kumpulkan mereka sampai mereka mendekati surga. Mereka berseru kepada Adam, “Wahai bapak kami, tolong minta agar pintunya dibukakan buat kami!” Akan tetapi beliau tidak sanggup sampai akhirnya para penduduk surga meminta kepada Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliaupun berdiri dan mendapatkan
idzin agar pintu-pintu tersebut dibuka. Kisah ini dibawakan oleh Imam
Muslim dalam kitab Shohih beliau.

Syafaat berikutnya yang hanya menjadi hak khusus bagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah syafaat untuk pamannya Abu Thalib.
Abu Thalib semasa hidupnya selalu membantu dan membela Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang harus berpikir panjang untuk
mengusik Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dikarenakan pembelaan
yang dilakukan oleh pamannya tersebut. Sayang sekali ketika menjelang
ajalnya, Abu Thalib enggan untuk mengucapkan kalimat tauhid, “Laa
ilaaha illallah”. Diapun mati dalam keadaan kafir dan berhak atas
neraka. Akan tetapi karena jasanya di dalam membela Islam, Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan hak khusus untuk memberikan
syafa’at kepada pamannya tersebut. Syafa’at tersebut berupa peringanan
adzab yang harus ditanggung oleh Abu Thalib, bukan syafa’at untuk
mengeluarkan dia dari neraka. Bentuknya hanya peringanan adzab. Dan
ini hanya menjadi hak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam saja,
juga khusus untuk satu orang saja, yaitu Abu Tholib -disebabkan
pembelaan dan pertolongan dia kepada dakwah-

Ketiga syafa’at di atas adalah syafa’at yang khusus bagi Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam saja. Selain itu ada beberapa syafa’at
yang menjadi hak umum. Tidak hanya untuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wa sallam saja, tetapi juga untuk orang-orang mukmin yang lain.
Misalnya syafa’at bagi mereka yang berhak masuk neraka agar tidak jadi
dimasukkan ke dalamnya. Pemberian syafaat untuk mereka ini selain
menjadi hak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadi hak
untuk selain beliau.

Begitu juga syafa’at bagi mereka yang sudah masuk ke dalam neraka agar
mereka keluar darinya dan juga syafa’at bagi mereka yang sudah masuk
ke dalam surga agar ditinggikan kedudukannya dari semula. Mereka yang
bisa memberikan syafa’at ini bisa mereka yang mati syahid, mereka yang
wafat ketika kecilnya -dan memberi syafa’at untuk kedua orangtuanya-,
para malaikat, dan yang lainnya.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Sumber Penukilan:
Buletin Jum’at Risalah -Depok Jabar-Tauhid edisi 88
nashihah@yahoogroups.com

Last 5 posts in abu salafy 01

Comments are closed.