<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>HIDUPKAN SUNNAH HANCURKAN BID'AH</title>
	<atom:link href="http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws</link>
	<description>Just another Salafy.ws weblog</description>
	<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 13:50:21 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>HADITS-HADITS TENTANG KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR`AN</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/18/hadits-hadits-tentang-keutamaan-membaca-al-quran/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/18/hadits-hadits-tentang-keutamaan-membaca-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 12:21:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[AGAMA]]></category>

		<category><![CDATA[Puasa Ramadhan]]></category>

		<category><![CDATA[hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=782</guid>
		<description><![CDATA[

HADITS-HADITS TENTANG KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR`AN


Oleh: admin assalafy.org
Bulan Ramadhan merupakan bulan Al-Qur`an. Pada bulan inilah Al-Qur`an   diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana dalam firman-Nya  :
)شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ  فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى  وَالْفُرْقَانِ (البقرة: ١٨٥
“bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya  diturunkan  (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="entrytext" style="text-align: center"><img class="alignnone" src="http://i294.photobucket.com/albums/mm118/Scofieldtn/allah.gif" alt="" /></h3>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full                  wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<h2 style="text-align: center"><span style="color: #0000ff">HADITS-HADITS TENTANG KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR`AN</span></h2>
<p style="text-align: center">
<h2><a href="http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/files/2010/08/ramadan-mubarak1.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-790" src="http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/files/2010/08/ramadan-mubarak1.jpg" alt="" width="240" height="323" /></a></h2>
<h2><span style="color: #008000"><em>Oleh: <a href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=255">admin assalafy.org</a></em></span></h2>
<p>Bulan Ramadhan merupakan bulan Al-Qur`an. Pada bulan inilah Al-Qur`an   diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana dalam firman-Nya  :</p>
<h2 style="text-align: right"><strong>)</strong><strong>شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ  فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى  وَالْفُرْقَانِ</strong><strong> (</strong>البقرة: ١٨٥</h2>
<p dir="ltr"><strong><em>“bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya  diturunkan  (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan   penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang   haq dan yang bathil).” </em></strong><strong>[Al-Baqarah : 185]</strong></p>
<p dir="ltr">Di antara amal ibadah yang sangat ditekankan untuk  diperbanyak pada bulan Ramadhan adalah membaca (<em>tilawah</em>)<em> </em>Al-Qur`anul   Karim. Banyak sekali hadits-hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam   yang menyebutkan tentang keutamaan membaca Al-Qur`an. Di antaranya :</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">1.      Dari shahabat <em><strong><span style="color: #008000">Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu  ‘anhu </span></strong></em>: Saya mendengar <span style="color: #0000ff"><em><strong>Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam</strong></em></span> bersabda :</p>
<p dir="ltr">
<h2 style="text-align: right">«<span style="color: #0000ff"> اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ  الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه </span>»</h2>
<p dir="ltr"><span style="color: #0000ff"><strong><em>“Bacalah  oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia (Al-Qur`an)  akan datang pada Hari  Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi  orang-orang yang rajin  membacanya.” </em></strong></span><strong>[HR. Muslim 804</strong><strong>]</strong></p>
<p dir="ltr"><span id="more-782"></span></p>
<p dir="ltr">Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk   membaca Al-Qur`an dengan bentuk perintah yang bersifat mutlak. Sehingga   membaca Al-Qur`an diperintahkan pada setiap waktu dan setiap  kesempatan.  Lebih ditekankan lagi pada bulan Ramadhan. Nanti pada hari  Kiamat,  Allah subhanahu wata’ala akan menjadikan pahala membaca  Al-Qur`an  sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, datang memberikan  syafa’at dengan  seizin Allah kepada orang yang rajin membacanya.</p>
<p dir="ltr"><strong><em>Faidah </em></strong><strong>(Pelajaran) yang  diambil dari hadits :</strong></p>
<ol type="1">
<li>Dorongan      dan motivasi untuk memperbanyak membaca  Al-Qur`an.  Jangan sampai      terlupakan darinya karena  aktivitas-aktivitas  lainnya.</li>
<li>Allah jadikan Al-Qur`an memberikan syafa’at kepada       orang-orang  yang senantiasa rajin membacanya dan mengamalkannya ketika  di       dunia.</li>
</ol>
<p dir="ltr">2.      Dari shahabat <span style="color: #008000"><em><strong>Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu  ‘anhu </strong></em></span>: Saya mendengar <span style="color: #0000ff"><em><strong>Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam </strong></em></span>bersabda :</p>
<h2 style="text-align: right">« <span style="color: #0000ff">…  اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ : الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ  عِمْرَانَ؛  فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا  غَمَامَتَانِ  أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ  مِنْ طَيْرٍ  صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَءُوا سُورَةَ  الْبَقَرَةِ  فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلاَ  تَسْتَطِيعُهَا  الْبَطَلَةُ </span>».</h2>
<p dir="ltr"><span style="color: #0000ff"><strong><em>“Bacalah  oleh kalian dua bunga, yaitu surat Al-Baqarah  dan Surat Ali ‘Imran.  Karena keduanya akan datang pada hari Kiamat  seakan-akan keduanya dua  awan besar atau dua kelompok besar dari burung  yang akan membela  orang-orang yang senantiasa rajin membacanya. Bacalah  oleh kalian surat  Al-Baqarah, karena sesungguhnya mengambilnya adalah  barakah,  meninggalkannya adalah kerugian, dan sihir tidak akan mampu   menghadapinya.</em><strong><em>”</em></strong><em> </em></strong></span><strong>[HR. Muslim 804</strong><strong>]</strong></p>
<p dir="ltr"><strong>3. </strong>Dari shahabat <span style="color: #008000"><em><strong>An-Nawwas bin Sam’an  Al-Kilabi radhiallahu ‘anhu </strong></em></span>berkata : saya mendengar <em><strong><span style="color: #0000ff">Rasulullah  shalallahu ‘alaihi wasallam </span></strong></em>bersabda :</p>
<h2 style="text-align: right">«<span style="color: #0000ff"> يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ  الَّذِينَ كَانُوا  يَعْمَلُونَ بِهِ تَقْدُمُهُ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَآلُ  عِمْرَانَ  تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا </span>».</h2>
<p dir="ltr"><span style="color: #0000ff"><strong><em>“Akan  didatangkan Al-Qur`an pada Hari Kiamat kelak dan  orang yang rajin  membacanya dan senantiasa rajin beramal dengannya, yang  paling depan  adalah surat Al-Baqarah dan surat Ali ‘Imran, keduanya  akan membela  orang-orang yang rajin membacanya.” </em></strong></span><strong>[HR.  Muslim 805</strong><strong>]</strong><em> </em></p>
<p dir="ltr">Pada hadits ini <span style="color: #0000ff"><em><strong>Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam</strong></em></span> memberitakan bahwa surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran akan membela   orang-orang yang rajin membacanya. Namun Rasulullah shalallahu ‘alaihi   wasallam mempersyaratkan dalam hadits ini dengan dua hal, yaitu :</p>
<p dir="ltr">-          Membaca Al-Qur`an, dan</p>
<p dir="ltr">-          Beramal dengannya.</p>
<p dir="ltr">Karena orang yang membaca Al-Qur`an ada dua type :</p>
<p dir="ltr">-          type orang yang membacanya namun tidak beramal   dengannya, tidak mengimani berita-berita Al-Qur`an, tidak mengamalkan   hukum-hukumnya. Sehingga Al-Qur`an menjadi <em>hujjah</em> yang  membantah mereka.</p>
<p dir="ltr">-          Type lainnya adalah orang-orang yang membacanya   dan mengimani berita-berita Al-Qur`an, membenarkannya, dan mengamalkan   hukum-hukumnya, … sehingga Al-Qur`an menjadi <em>hujjah </em>yang  membela mereka.</p>
<p dir="ltr"><span style="color: #0000ff"><em><strong>Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam</strong></em></span> bersabda :</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">القرآن حجة لك أو عليك</span></h2>
<p dir="ltr"><span style="color: #0000ff"><strong><em>“Al-Qur`an itu bisa menjadi hujjah yang membelamu atau  sebaliknya menjadi hujjah yang membantahmu.” </em></strong></span><strong>[HR. Muslim]</strong></p>
<p dir="ltr">Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa tujuan terpenting   diturunkannya Al-Qur`an adalah untuk diamalkan. Hal ini diperkuat oleh   firman Allah subhanahu wata’ala :</p>
<h2 style="text-align: right">( <strong>كتاب أنزلناه إليك مبارك ليدبروا آياته وليتذكر  أولوا الألباب )</strong></h2>
<p dir="ltr"><strong><em>“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan  kepadamu  penuh dengan berkah, supaya mereka mentadabburi  (memperhatikan)  ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang  yang mempunyai  fikiran.” </em></strong><strong>[Shad : 29]</strong></p>
<p dir="ltr"><em>“supaya mereka mentadabburi”,</em> yakni agar mereka   berupaya memahami makna-maknanya dan beramal dengannya. Tidak mungkin   bisa beramal dengannya kecuali setelah <em>tadabbur. </em>Dengan <em>tadabbur </em>akan menghasilkan ilmu, sedangkan amal merupakan buah dari ilmu.</p>
<p dir="ltr">Jadi inilah tujuan diturunkannya Al-Qur`an :</p>
<p dir="ltr">-          untuk dibaca dan di<em>tadabburi </em>maknanya</p>
<p dir="ltr">-          diimani segala beritanya</p>
<p dir="ltr">-          diamalkan segala hukumnya</p>
<p dir="ltr">-          direalisasikan segala perintahnya</p>
<p dir="ltr">-          dijauhi segala larangannya</p>
<p dir="ltr"><strong><em> </em></strong></p>
<p dir="ltr"><strong><em>Faidah </em></strong><strong>(Pelajaran) yang  diambil dari hadits :</strong></p>
<p dir="ltr">1.        Al-Qur`an sebagai pemberi syafa’at bagi  orang-orang yang rajin membacanya dan beramal dengannya.</p>
<p dir="ltr">2.        Ilmu mengharuskan adanya amal. Kalau tidak maka  ilmu tersebut akan menjadi <em>hujjah </em>yang membantahnya pada hari  Kiamat.</p>
<p dir="ltr">3.        Keutamaan membaca surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran</p>
<p dir="ltr">4.        Penamaan surat-surat dalam Al-Qur`an bersifat <em>tauqifiyyah</em>.</p>
<p dir="ltr"><em> </em></p>
<p dir="ltr">4.       Dari shahabat <span style="color: #008000"><em><strong>‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu</strong></em></span> berkata, bahwa <span style="color: #0000ff"><em><strong>Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam </strong></em></span>bersabda :</p>
<h2 style="text-align: right"><sup>(<span style="color: #0000ff">(</span></sup><span style="color: #0000ff"> خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ  وَعَلَّمَهُ </span><sup><span style="color: #0000ff">)</span>)</sup> رواه البخاري .</h2>
<p dir="ltr"><em><span style="color: #0000ff"><strong>“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur`an  dan mengajarkannya.”</strong></span> </em><strong>[Al-Bukhari 5027]</strong></p>
<p dir="ltr">Orang yang terbaik adalah yang terkumpul padanya dua sifat   tersebut, yaitu : mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya. Ia   mempelajari Al-Qur`an dari gurunya, kemudian ia mengajarkan Al-Qur`an   tersebut kepada orang lain. Mempelajari dan mengajarkannya di sini   mencakup mempelajari dan mengajarkan lafazh-lafazh Al-Qur`an; dan   mencakup juga mempelajari dan mengajarkan makna-makna Al-Qur`an.</p>
<p dir="ltr">5.      Dari <span style="color: #008000"><em><strong>Ummul Mu`minin ‘Aisyah</strong></em> <em><strong>radhiallahu  ‘anha</strong></em></span> berkata, bahwa  <span style="color: #0000ff"><em><strong>Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam</strong></em></span> bersabda :</p>
<h2 style="text-align: right"><sup>(<span style="color: #0000ff">(</span></sup><span style="color: #0000ff"> الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ  بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ  الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ  الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ  فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ </span><sup><span style="color: #0000ff">)</span>)</sup> متفقٌ عَلَيْهِ</h2>
<p dir="ltr"><em><span style="color: #0000ff"><strong>“Yang  membaca Al-Qur`an dan dia mahir membacanya, dia  bersama para malaikat  yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur`an namun  dia tidak tepat  dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya  dua pahala.”</strong></span> </em><strong>[Al-Bukhari </strong>4937, <strong>Muslim </strong>244<strong>]</strong></p>
<p dir="ltr">Orang yang mahir membaca Al-Qur`an adalah orang yang bagus  dan tepat bacaannya.</p>
<p dir="ltr">Adapun orang yang tidak tepat dalam membacanya dan  mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala : pertama, pahala <em>tilawah</em>,  dan kedua, pahala atas  kecapaian dan kesulitan yang ia alami.</p>
<p dir="ltr">6.      Dari shahabat <span style="color: #008000"><em><strong>Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu</strong></em></span> berkata, bahwa <strong><em><span style="color: #0000ff">Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam</span></em></strong> bersabda :</p>
<h2 style="text-align: right"><sup>(<span style="color: #0000ff">(</span></sup><span style="color: #0000ff"> مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ  مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ :  رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ ، وَمَثَلُ  الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ  يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ : لاَ  رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا  حُلْوٌ ، وَمَثلُ المُنَافِقِ الَّذِي يقرأ  القرآنَ كَمَثلِ الرَّيحانَةِ :  ريحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ،  وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لاَ  يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثلِ الحَنْظَلَةِ  : لَيْسَ لَهَا رِيحٌ  وَطَعْمُهَا مُرٌّ </span><sup><span style="color: #0000ff">)</span>)</sup> متفقٌ عَلَيْهِ .</h2>
<p dir="ltr"><span style="color: #0000ff"><strong><em>“Perumpaan  seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an  adalah seperti buah  Al-Atrujah : aromanya wangi dan rasanya enak.  Perumpamaan seorang  mu`min yang tidak membaca Al-Qur`an adalah seperti  buah tamr (kurma) :  tidak ada aromanya namun rasanya manis.</em></strong></span></p>
<p dir="ltr"><span style="color: #0000ff"><strong><em>Perumpamaan  seorang munafiq namun ia rajin membaca  Al-Qur`an adalah seperti buah  Raihanah : aromanya wangi namun rasanya  pahit. Sedangkan perumpaan  seorang munafiq yang tidak rajin membaca  Al-Qur`an adalah seperti buah  Hanzhalah : tidak memiliki aroma dan  rasanya pun pahit.” </em></strong></span><strong>[Al-Bukhari </strong>5427, <strong>Muslim </strong>797<strong>]</strong><em> </em></p>
<p dir="ltr">Seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti   buah Al-Atrujah, yaitu buah yang aromanya wangi dan rasanya enak.  Karena  seorang mu`min itu jiwanya bagus, qalbunya juga baik, dan ia  bisa  memberikan kebaikan kepada orang lain. Duduk bersamanya terdapat   kebaikan. Maka seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an adalah baik   seluruhnya, baik pada dzatnya dan baik untuk orang lain. Dia seperti   buah Al-Atrujah, aromanya wangi dan harum, rasanya pun enak dan lezat.</p>
<p dir="ltr">Adapun seorang mu’min yang tidak membaca Al-Qur`an adalah   seperti buah kurma. Rasanya enak namun tidak memiliki aroma yang wangi   dan harum. Jadi seorang mu’min yang rajin membaca Al-Qur`an jauh lebih   utama dibanding yang tidak membaca Al-Qur`an. Tidak membaca Al-Qur`an   artinya tidak mengerti bagaimana membaca Al-Qur`an, dan tidak pula   berupaya untuk mempelajarinya.</p>
<p dir="ltr">Perumpamaan seorang munafiq, namun ia rajin membaca   Al-Qur`an adalah seperti buah Raihanah : aromanya wangi namun rasanya   pahit. Karena orang munafiq itu pada dzatnya jelek, tidak ada kebaikan   padanya. Munafiq adalah : orang yang menampakkan dirinya sebagai muslim   namun hatinya kafir -<em>wal’iyya dzubillah-.</em> Kaum munafiq inilah  yang Allah nyatakan dalam firman-Nya :</p>
<p dir="ltr"><em><strong>Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami  beriman  kepada Allah dan Hari Akhir,” padahal mereka itu sesungguhnya  bukan  orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan  orang-orang  yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri  sedang mereka  tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah  tambah  penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka   berdusta.”</strong> </em><strong>[Al-Baqarah : 8 - 10]</strong></p>
<p dir="ltr">Didapati orang-orang munafiq yang mampu membaca Al-Qur`an  dengan bacaan yang bagus dan <em>tartil</em>. Namun mereka hakekatnya  adalah para munafiq -<em>wal’iyyadzubillah- </em>yang kondisi mereka  ketika membaca Al-Qur`an adalah seperti yang digambarkan oleh <span style="color: #0000ff"><em><strong>Nabi  Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam</strong></em></span> :</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">يقرؤون القرآن لا يتجاوز حناجرهم</span></h2>
<p dir="ltr"><span style="color: #0000ff"><strong><em>“Mereka rajin membaca Al-Qur`an, namun bacaan Al-Qur`an  mereka tidak melewati kerongkongan mereka.”</em></strong></span></p>
<p dir="ltr">Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mengumpamakan mereka   dengan buah Raihanah, yang harum aromanya, karena mereka terlihat rajin   membaca Al-Qur`an; namun buah tersebut pahit rasanya, karena jelek dan   jahatnya jiwa mereka serta rusaknya niat mereka.</p>
<p dir="ltr">Adapun orang munafiq yang tidak rajin membaca Al-Qur`an,  maka diumpamakan oleh <em><strong><span style="color: #0000ff">Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam</span></strong></em> seperti  buah Hanzhalah, rasanya pahit dan tidak memiliki aroma wangi.  Inilah  munafiq yang tidak memiliki kebaikan sama sekali. Tidak memiliki  aroma  wangi, karena memang ia tidak bisa membaca Al-Qur`an, disamping  dzat dan  jiwanya adalah dzat dan jiwa yang jelek dan jahat.</p>
<p dir="ltr">Inilah jenis-jenis manusia terkait dengan Al-Qur`an. Maka   hendaknya engkau berusaha agar menjadi orang mu`min yang rajin membaca   Al-Qur`an dengan sebenar-benar bacaan, sehingga engkau seperti buah   Al-Atrujah, aromanya wangi, rasanya pun enak.</p>
<p dir="ltr"><strong> </strong></p>
<p dir="ltr">7.      Dari shahabat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu  ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :</p>
<h2 style="text-align: right"><sup>(<span style="color: #0000ff">(</span></sup><span style="color: #0000ff"> إنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ  أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخرِينَ </span><sup><span style="color: #0000ff">)</span>)</sup> رواه مسلم .</h2>
<p dir="ltr"><em><span style="color: #0000ff"><strong>“Sesungguhnya Allah dengan Al-Qur`an ini mengangkat  suatu kaum, dan menghinakan kaum yang lainnya.”</strong></span> </em><strong>[HR. Muslim 269</strong><strong>]</strong></p>
<p dir="ltr">
<h2><strong><span style="color: #ff00ff">WallaahuA’lam</span></strong></h2>
<p><strong><span style="color: #ff00ff">Sumber:</span></strong></p>
<h2><em><em><a href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=255">http://assalafy.org/mahad</a></em></em></h2>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/18/hadits-hadits-tentang-keutamaan-membaca-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hadits-hadits Palsu dan Lemah yang Sering Disebut di Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/17/hadits-hadits-palsu-dan-lemah-yang-sering-disebut-di-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/17/hadits-hadits-palsu-dan-lemah-yang-sering-disebut-di-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 04:40:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[AGAMA]]></category>

		<category><![CDATA[Puasa Ramadhan]]></category>

		<category><![CDATA[hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=778</guid>
		<description><![CDATA[



Hadits-hadits Palsu yg  Sering dipakai  dibulan Ramadhan

http://fadhlyoke.wordpress.com/
Oleh Admin http://assalafy.org/mahad/
Sesungguhnya segala pujian hanya bagi Allah, kami menyanjung-Nya,  memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan kami  juga berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan dari  kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh  Allah, maka sungguh dia termasuk orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="entrytext">
<p style="text-align: center"><img class="alignnone" src="http://i294.photobucket.com/albums/mm118/Scofieldtn/allah.gif" alt="" /></p>
</h3>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full                  wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<h1 style="text-align: center"><span><strong><strong><span style="color: #0000ff"><strong><strong>Hadits-hadits Palsu yg  Sering dipakai  dibulan Ramadhan</strong></strong></span></strong></strong></span></h1>
<p><a href="http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/files/2010/08/ramadhan-penuh-makna1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-780" src="http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/files/2010/08/ramadhan-penuh-makna1.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>http://fadhlyoke.wordpress.com/</p>
<h2><span style="color: #008000"><em>Oleh Admin <a href="http://assalafy.org/mahad/">http://assalafy.org/mahad/</a></em></span></h2>
<p>Sesungguhnya segala pujian hanya bagi Allah, kami menyanjung-Nya,  memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan kami  juga berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan dari  kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh  Allah, maka sungguh dia termasuk orang yang mendapatkan hidayah, dan  barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang  bisa memberikan petunjuk kepadanya.</p>
<p>Dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk  diibadahi dengan benar kecuali Allah satu-satunya, tidak ada sekutu  bagi-Nya, dan aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan  rasul-Nya.</p>
<p>Adapun setelah itu, bahwasanya sebaik-baik perkataan adalah  Kalamullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi kita Muhammad <em>shallallahu  ‘alaihi wa’ala alihi wasallam</em>, dan bahwasanya sejelek-jelek  perkara adalah segala sesuatu yang diadakan-adakan, dan segala sesuatu  yang diada-adakan dalam agama ini adalah bid’ah, dan setiap bid’ah  adalah sesat.</p>
<p><span id="more-778"></span></p>
<p>Kemudian setelah itu, ketahuilah bahwasanya perbuatan dusta atas nama  Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> merupakan penyakit berbahaya  dan sulit diobati yang telah menyebar (di tengah-tengah umat) seperti  menyebarnya api pada tumbuhan yang kering. Pernyakit ini merupakan  penjerumus ke dalam kebid’ahan, kesesatan, khurafat, menentang dalil,  serta menyimpang dari jalan yang lurus dan jalan kaum mu’minin. Berdusta  atas nama nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>juga menyebabkan  pelakunya pantas untuk mendapatkan ancaman berupa tempat duduk dari  neraka.<a name="_ftnref1" href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=533#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Saudara pembaca sekalian, akan kami sebutkan untuk anda beberapa  hadits yang dusta (palsu) atas nama nabi <em>shallallahu ‘alaihi  wasallam </em>dan juga hadits <em>dha’if</em> (lemah) yang sering  disebut pada bulan yang penuh barakah ini, dengan harapan agar anda  berhati-hati darinya, tidak mencampuradukkan antara al-haq dengan  al-bathil, dan agar urusan (agama) anda benar-benar di atas ilmu.</p>
<p><span style="color: #ff6600"><strong>HADITS PERTAMA</strong></span></p>
<p style="text-align: right"><span style="font-size: medium;font-family: Traditional Arabic">لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ  لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُوْنَ السَّنَة كُلّهَا</span></p>
<p><em>“Kalau seandainya hamba-hamba itu tahu apa yang ada pada bulan  Ramadhan (keutamaannya), maka niscaya umatku ini akan berangan-angan  bahwa satu tahun itu adalah bulan Ramadhan seluruhnya.”</em></p>
<p><strong>Hadits ini adalah hadits yang didustakan atas nama Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wasallam</em> (palsu).</strong></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam Shahihnya  [III/190], Abu Ya’la Al-Mushili di dalam Musnadnya [IX/180], dan selain  keduanya.</p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama <strong>Jarir bin Ayyub</strong>.  Tentang rawi yang satu ini, para ulama telah menjelaskan keadaannya, di  antaranya:</p>
<p>Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain mengatakan bahwa <strong>dia suka  memalsukan hadits</strong>.</p>
<p>Al-Bukhari, Abu Hatim, dan Abu Zur’ah mengatakan bahwa <strong>dia  adalah Munkarul Hadits</strong>.</p>
<p>Ibnu Khuzaimah mengatakan: “Jika haditsnya shahih …”<a name="_ftnref2" href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=533#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Ibnul Jauzi dalam kitabnya Al-Maudhu’at [II/103] dan juga  Asy-Syaukani dalam Al-Fawa’id Al-Majmu’ah [hal. 74] menghukumi dia  (Jarir bin Ayyub) adalah <strong>perawi yang suka memalsukan hadits  -yakni pendusta-</strong>.</p>
<p>Lihat Lisanul Mizan [II/302] karya Ibnu Hajar.</p>
<p><span style="color: #ff6600"><strong>HADITS KEDUA</strong></span></p>
<p style="text-align: right"><span style="font-size: medium;font-family: Traditional Arabic">رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِيْ  وَرَمَضَانُ شَهْرُ أمَّتِي</span></p>
<p><em>“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan  adalah bulan umatku.”</em></p>
<p><strong>Hadits ini adalah hadits yang didustakan atas nama Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wasallam</em> (palsu).</strong></p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama <strong>Abu Bakr  An-Naqqasy</strong>. Tentang rawi yang satu ini, para ulama telah  menjelaskan keadaannya, di antaranya:</p>
<p>Thalhah bin Muhammad Asy-Syahid mengatakan bahwa <strong>Abu Bakr  An-Naqqasy suka memalsukan hadits, dan kebanyakannya tentang kisah-kisah</strong>.</p>
<p>Abul Qasim Al-Lalika’i mengatakan bahwa tafsir dari <strong>Abu Bakr  An-Naqqasy justru akan mencelakakan hati, tidak menjadi obat bagi  hati-hati ini</strong>.</p>
<p>Dan di dalamnya juga terdapat rawi yang bernama <strong>Al-Kisa’i</strong> yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi sebagai rawi yang <strong><em>majhul</em> </strong>(tidak dikenal).</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Abul Fath bin Al-Fawaris di dalam  Al-Amali dari Al-Hasan Al-Bashri secara mursal.</p>
<p>Al-Hafizh Al-’Iraqi mengatakan dalam Syarh At-Tirmidzi: “Ini adalah  hadits <em>dha’if jiddan</em> (sangat lemah), dan dia termasuk  hadits-hadits mursal yang diriwayatkan dari Al-Hasan (Al-Bashri), kami  meriwayatkannya dari Kitab At-Targhib Wat Tarhib karya Al-Ashfahani,  hadits-hadits mursal yang diriwayatkan dari Al-Hasan (Al-Bashri) tidak  bernilai (shahih) menurut Ahlul Hadits, dan tidak ada satu hadits pun  yang menyebutkan tentang keutamaan bulan Rajab.”</p>
<p>Ibnul Jauzi dalam kitabnya Al-Maudhu’at [II/117], Adz-Dzahabi dalam  Tarikhul Islam [I/2990], dan Asy-Syaukani dalam Al-Fawa’id Al-Majmu’ah  [hal. 95] menghukumi bahwa hadits ini adalah hadits palsu, didustakan  atas nama Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Lihat Lisanul Mizan [VI/202] karya Ibnu Hajar.</p>
<p><span style="color: #ff6600"><strong>HADITS KETIGA</strong></span></p>
<p style="text-align: right"><span style="font-size: medium;font-family: Traditional Arabic">يا أيها الناس انه قد أظلكم شهر عظيم شهر  مبارك فيه ليلة خير من ألف شهر فرض الله صيامه وجعل قيام ليله تطوعا فمن  تطوع فيه بخصلة من الخير كان كمن أدّى فريضة فما سواه … وهو <span style="text-decoration: underline">شهر أوله رحمة وأوسطه مغفرة وآخره عتق  من النار</span></span></p>
<p><em>“Wahai sekalian manusia, sungguh hampir datang kepada kalian  bulan yang agung dan penuh barakah, di dalamnya terdapat satu malam yang  lebih baik daripada seribu bulan, Allah wajibkan untuk berpuasa pada  bulan ini, dan Allah jadikan shalat pada malam harinya sebagai amalan  yang sunnah, barangsiapa yang dengan rela melakukan kebajikan pada bulan  itu, maka dia seperti menunaikan kewajiban pada selain bulan tersebut  …, <span style="text-decoration: underline">dan dia merupakan bulan  yang awalnya adalah kasih sayang, pertengahannya adalah ampunan, dan  akhirnya adalah pembebasan dari api neraka</span>.”</em></p>
<p><strong>Hadits ini adalah hadits munkar</strong>, dikeluarkan oleh  Ibnu Khuzaimah di dalam Shahihnya [III/191], dan beliau mengatakan:  “Jika haditsnya shahih.” Maksud ungkapan ini adalah bahwa Al-Hafizh Ibnu  Khuzaimah ragu (tidak memastikan) penshahihan hadits ini karena derajat  sanadnya yang rendah (tidak sampai derajat shahih), maka jangan ada  seorangpun yang mengira bahwa hadits ini shahih menurut Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>Lihat Tadribur Rawi [I/89] karya As-Suyuthi.</p>
<p>Hadits ini juga dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman  [III/305], Al-Harits bin Usamah dalam Musnadnya [I/412], dan yang  lainnya.</p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama <strong>‘Ali bin Zaid  bin Jud’an</strong> yang dikatakan oleh para ulama, di antaranya:</p>
<p>Ibnu Khuzaimah mengatakan bahwa <strong>dia tidak bsa dijadikan  hujjah karena jeleknya hafalan dia</strong>.</p>
<p>Al-Bukhari mengatakan bahwa <strong>dia tidak bisa dijadikan hujjah</strong>.</p>
<p>Di dalam sanadnya juga terdapat rawi yang bernama <strong>Iyas bin  Abi Iyas</strong> yang dikatakan oleh para ulama, di antaranya:</p>
<p>Adz-Dzahabi mengatakan bahwa <strong>dia adalah rawi yang tidak  dikenal</strong>.</p>
<p>Al-’Uqaili mengatakan bahwa dia adalah rawi yang <strong><em>majhul</em></strong> (tidak dikenal) dan haditsnya tidak <em>mahfuzh</em> (yakni <em>syadz</em>/ganjil).</p>
<p>Abu Hatim mengatakan: “<strong>Ini adalah hadits Munkar</strong>.”  (Al-’Ilal karya Ibnu Abi Hatim [I/249]).</p>
<p>Lihat Lisanul Mizan [II/169] karya Ibnu Hajar, As-Siyar [V/207] karya  Adz-Dzahabi, dan As-Silsilah Adh-Dha’ifah [II/262] karya Asy-Syaikh  Al-Albani.</p>
<p><span style="color: #ff6600"><strong>HADITS KEEMPAT</strong></span></p>
<p style="text-align: right"><span style="font-size: medium;font-family: Traditional Arabic">إذا كان أوَّل ليلة من شهر رمضان نظر الله إلى  خلقِهِ الصيَّام فإذا نظر الله إلى عبدٍ لم يعذِّبْهُ أبدًا،ولله عزَّ  وجَلَّ في كُلِّ يومٍ ألف عتيقٍ من النَّار</span></p>
<p><em>“Ketika malam pertama bulan Ramadhan, Allah melihat makhluknya,  ketika Allah melihat kepada seorang hamba, maka Dia tidak akan  mengadzabnya selamanya, dan Allah ‘azza wajalla pada setiap harinya  memiliki seribu hamba yang dibebaskan dari neraka.”</em><a name="_ftnref3" href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=533#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong>Hadits ini adalah hadits yang didustakan atas nama Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wasallam</em> (palsu)</strong>.</p>
<p>Di dalam sanadnya banyak rawi yang <em>majhul</em> (tidak dikenal)  dan rawi yang dituduh berdusta yaitu ‘<strong>Utsman bin ‘Abdillah  Al-Qurasyi Al-Umawi Asy-Syami</strong> yang dikatakan oleh para ulama di  antaranya:</p>
<p>Al-Juzajani menyatakan bahwa dia adalah <strong><em>kadzdzab</em></strong> (pendusta), suka mencuri hadits.</p>
<p>Abu Mas’ud As-Sijzi menyatakan dia adalah <strong><em>kadzdzab</em></strong>.</p>
<p>Ibnul Jauzi di dalam Al-Maudhu’at [II/104], Ibnu ‘Arraq di dalam  Tanzihusy Syari’ah [II/146], Asy-Syaukani di dalam Al-Fawa’id  Al-Majmu’ah [hal. 85], dan yang lainnya menghukumi hadits ini sebagai  hadits palsu, didustakan atas nama Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Lihat Lisanul Mizan [V/147] karya Ibnu Hajar.</p>
<p><span style="color: #ff6600"><strong>HADITS KELIMA</strong></span></p>
<p style="text-align: right"><span style="font-size: medium;font-family: Traditional Arabic">صُوْمُوا تَصِحُّوا</span></p>
<p><em>“Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.”</em></p>
<p><strong>Ini adalah hadits dha’if</strong>, dikeluarkan oleh  Al-’Uqaili dalam Adh-Dhu’afa’ [II/92], Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam  Al-Kabir [1190], dan selain mereka.</p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama <strong>Zuhair bin  Muhammad At-Tamimi</strong>, riwayat penduduk negeri Syam dari dia  adalah <strong>riwayat yang di dalamnya banyak riwayat munkar</strong>.</p>
<p>Dalam sanadnya yang lain, terdapat rawi yang bernama <strong>Nahsyal  bin Sa’id</strong>, dan dia adalah rawi yang <strong><em>matruk</em> </strong>(ditinggalkan  haditsnya). Ishaq bin Rahuyah dan Abu Dawud Ath-Thayalisi menyatakan  dia adalah rawi yang <strong><em>kadzdzab</em></strong> (pendusta). Di  samping itu <strong>sanadnya juga terputus</strong>.</p>
<p>Dalam sanadnya yang lain juga terdapat rawi yang bernama <strong>Husain  bin ‘Abdillah bin Dhamirah Al-Himyari </strong>yang dikatakan oleh para  ulama di antaranya:</p>
<p>Al-Imam Malik menisbahkan dia sebagai <strong>rawi yang pendusta</strong>.</p>
<p>Ibnu Ma’in menyatakan bahwa dia adalah <strong><em>kadzdzab</em></strong> (pendusta), tidak ada nilainya sedikitpun.</p>
<p>Al-Bukhari menyatakan bahwa dia adalah <strong><em>munkarul hadits</em> </strong>(kebanyakan haditsnya munkar).</p>
<p>Abu Zur’ah menyatakan bahwa dia adalah <strong>rawi yang tidak ada  nilainya sedikitpun, hinakan haditsnya (yakni yang dia riwayatkan).</strong>”</p>
<p>Al-Hafizh Al-’Iraqi melemahkan sanadnya, dan Asy-Syaikh Al-Albani  melemahkan hadits ini. [As-Silsilah Adh-Dha’ifah (253)].</p>
<p><span style="color: #ff6600"><strong>HADITS KEENAM</strong></span></p>
<p style="text-align: right"><span style="font-size: medium;font-family: Traditional Arabic">أُعطِيت أمَّتِي خمس خِصالٍ في رمضان لم  تُعطهنَّ أمَّةٌ قبلهم:خلوفُ فَمِ الصائم أطيبُ عند اللهِ من ريحِ  المِسك،وتستغفرُ لهم الحِيتان حتي يُفطروا</span></p>
<p><em>“Umatku ini pada bulan Ramadhan diberi lima perangai yang tidak  diberikan kepada umat sebelumnya: (1) Bau mulut orang yang berpuasa  lebih harum di sisi Allah daripada aroma misk,(2) Ikan-ikan memintakan  ampun untuk mereka sampai berbuka …”</em></p>
<p><strong>Ini adalah hadits <em>dha’if jiddan</em> (sangat lemah)</strong>.</p>
<p>Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya [II/292, 310], Al-Harits bin  Usamah dalam Musnadnya [I/410], dan selain keduanya.</p>
<p>Di salam sanadnya terdapat rawi yang bernama <strong>Hisyam bin Ziyad  bin Abi Zaid</strong> yang dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagai <strong><em>matrukul  hadits</em> </strong>(ditinggalkan haditnya).</p>
<p>Asy-Syaikh Al-Albani menghukumi hadits ini sebagai hadits <em>dha’if  jiddan</em> (sangat lemah), sebagaimana dalam Dha’if At-Targhib Wat  Tarhib [586].</p>
<p><span style="color: #ff6600"><strong>HADITS KETUJUH</strong></span></p>
<p style="text-align: right"><span style="font-size: medium;font-family: Traditional Arabic">إِنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ  السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ لاَ يُرْفَعُ إِلاَّ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya bulan Ramadhan itu tergantung di antara langit dan  bumi, tidaklah bisa diangkat kecuali dengan zakat fitrah.”</em></p>
<p><strong>Ini adalah hadits dha’if</strong>.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Ibnu Shishri di dalam Al-Amali dan bagian hadits  ini hilang, juga diriwayatkan oleh Ibnu Syahin di dalam At-Targhib, dan  Ibnul Jauzi di dalam Al-’Ilal Al-Mutanahiyah [II/499].</p>
<p>Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama <strong>Muhammad bin  ‘Ubaid</strong> yang dikatakan oleh Ibnul JAuzi bahwa dia adalah <strong><em>majhul</em> </strong>(tidak dikenal). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan setelah  menyebutkan hadits ini di dalam Lisanul Mizan [V/276]: “Dia adalah rawi  yang tidak ada satupun yang mengikutinya.”</p>
<p>Asy-Syaikh Al-Albani mendha’ifkan hadits ini di dalam As-Silsilah  Adh-Dha’ifah (43).</p>
<p>-Ditulis secara ringkas oleh Abu Zur’ah Sulaiman bin ‘Ali bin Syihab  As-Salafy-.</p>
<p>Dan diterjemahkan secara ringkas<a name="_ftnref4" href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=533#_ftn4">[4]</a> pula dari <a href="http://sahab.net/forums/showthread.php?t=380588">http://sahab.net/forums/showthread.php?t=380588</a> ditambah sedikit catatan kaki dari penerjemah.</p>
<p>Wallahu a’lam bish-shawab.</p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=533#_ftnref1">[1]</a> Sebagaimana  sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>:</p>
<p style="text-align: right"><span style="font-size: medium;font-family: Traditional Arabic">مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا  فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار</span></p>
<p><em>“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka  hendaknya dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” </em>[Muttafaqun  ‘Alaihi dari shahabat Abu Hurairah, Al-Mughirah bin Syu’bah, dan yang  lainnya]<em> </em></p>
<p><a name="_ftn2" href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=533#_ftnref2">[2]</a> Ungkapan seperti ini menunjukkan bahwa beliau tidak memastikan  keshahihan hadits sebagaimana yang akan disebutkan dalam penjelasan  hadits ketiga setelah ini. Wallahu a’lam.</p>
<p><a name="_ftn3" href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=533#_ftnref3">[3]</a> Demikian lafazh yang tercantum dalam sumber rujukan. Namun di dalam  sebagian referensi, -dengan keterbatasan pengetahuan kami-, ditemukan  ada perbedaan lafazh, yaitu tentang jumlah hamba yang dibebaskan dari  neraka, di referensi tersebut disebutkan berjumlah satu juta. Wallahu  a’lam.</p>
<p><a name="_ftn4" href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=533#_ftnref4">[4]</a> Sengaja bagian yang tidak kami terjemahkan adalah beberapa istilah  muhadditsin atau istilah dalam ilmu hadits yang belum bisa kami  terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan tepat. Tetapi insya Allah  tidak akan mengubah isi dan substansi pembahasan. Wallahu a’lam.</p>
<h3><span style="color: #ff00ff">Sumber:</span></h3>
<h3><span style="color: #ff00ff"><a href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=533">http://www.assalafy.org/mahad/?p=533</a></span></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/17/hadits-hadits-palsu-dan-lemah-yang-sering-disebut-di-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Adab-Adab Berpuasa</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/07/adab-adab-berpuasa/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/07/adab-adab-berpuasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 12:50:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[AGAMA]]></category>

		<category><![CDATA[Puasa Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=768</guid>
		<description><![CDATA[



Adab-Adab  Berpuasa

Penulis: Al-Ustadz Abu  Abdirrahman Al-Bugisi
Kajian Khusus Ramadhan, 12 – September – 2005
A. Makan Sahur
Orang yang berpuasa sangat dianjurkan untuk makan sahur. Hal ini   berdasarkan hadits dari ‘Amru  bin Al-‘Ash رضي الله عنه bahwa Rasulullah  صلى  الله عليه وسلم bersabda:
فَصْلُ  مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="entrytext">
<p style="text-align: center"><img class="alignnone" src="http://i294.photobucket.com/albums/mm118/Scofieldtn/allah.gif" alt="" /></p>
</h3>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full                 wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<h1 style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><strong><strong>Adab-Adab  Berpuasa</strong></strong></span></h1>
<p><a href="http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/files/2010/08/waiting-4-dinner.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-769" src="http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/files/2010/08/waiting-4-dinner.jpg" alt="" width="467" height="310" /></a></p>
<h2><span style="color: #008000"><em>Penulis: Al-Ustadz Abu  Abdirrahman Al-Bugisi</em></span></h2>
<h3>Kajian Khusus Ramadhan, 12 – September – 2005</h3>
<h2><span style="color: #ff00ff">A. Makan Sahur</span></h2>
<p>Orang yang berpuasa sangat dianjurkan untuk makan sahur. Hal ini   berdasarkan hadits dari <span style="color: #008000"><strong>‘Amru  bin Al-‘Ash</strong> <strong>رضي الله عنه</strong> </span>bahwa <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah  صلى  الله عليه وسلم</strong></span> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff"><strong>فَصْلُ  مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ  السَّحُوْرِ</strong></span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><em>“Perbedaan antara  puasa kami dengan puasa ahli kitab adalah makan  sahur.”</em></span> (HR. Muslim)</strong></p>
<p>Dari <span style="color: #008000"><strong>Salman <strong>رضي  الله عنه</strong><span style="font-family: islamic_"> </span></strong></span>,  <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah   صلى  الله  عليه وسلم</strong> </span>bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">الْبَرَكَةُ  فِيْ ثَلاَثَةٍ: الْجَمَاعَةِ وَالثَّرِيْدِ وَالسَّحُوْرِ</span></h2>
<h3><span style="color: #0000ff"><em>“Berkah ada pada 3 hal:  berjamaah, tsarid (roti remas yang direndam  dalam kuah), dan makan  sahur.” </em></span>(HR. Ath-Thabrani, 6/251, dengan sanad  yang hasan  dengan penguatnya, lihat Shifat Shaum An-Nabi oleh Ali  Al-Halabi, hal.  44)</h3>
<p>Disukai untuk mengakhirkan makan sahur berdasarkan hadits <span style="color: #008000"><strong>Anas </strong><strong><strong>رضي   الله عنه</strong></strong></span><span style="color: #008000"><strong> </strong><span style="color: #000000">dari</span><strong> Zaid   bin Tsabit <strong>رضي الله عنه</strong></strong></span>, ia berkata:<br />
Kami makan sahur bersama <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah    صلى  الله عليه وسلم</strong> </span>kemudian beliau bangkit menuju  shalat. Aku (Anas) bertanya: <strong><span style="color: #008000">“Berapa  jarak antara adzan</span><span style="color: #0000ff"> 1)]</span> <span style="color: #008000">dan sahur?”</span> </strong>Beliau menjawab: <span style="color: #008000"><strong>“Kadarnya  (seperti  orang membaca) 50 ayat.”</strong></span> <strong>(Muttafaqun  ‘alaih)</strong></p>
<p><span id="more-768"></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><em>Namun apa yang diistilahkan  oleh kebanyakan kaum muslimin dengan istilah  imsak, yaitu menahan  (tidak makan) beberapa saat sebelum adzan Shubuh  adalah perbuatan  bid’ah</em></span> karena dalam ajaran <strong><span style="color: #0000ff">nabi<strong> صلى  الله عليه وسلم</strong></span></strong> tidak ada imsak (menahan diri) kecuali bila adzan fajar dikumandangkan.  <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah   صلى  الله  عليه وسلم</strong></span> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">إِذَا  أَذَّنَ بِلاَلٌ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ   مَكْتُوْمٍِ</span></h2>
<p><em><strong><span style="color: #0000ff">“Apabila Bilal  mengumandangkan adzan (pertama), maka (tetap) makan dan  minumlah hingga  Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.”</span> </strong></em><strong>(Muttafaqun   ‘alaih)</strong><br />
Bahkan bagi orang yang ketika adzan dikumandangkan masih memegang gelas   dan semisalnya untuk minum, diberikan rukhshah (keringanan) khusus   baginya sehingga dia boleh meminumnya.<br />
<span style="color: #008000"><strong>Abu Hurairah <strong><strong>رضي   الله عنه</strong></strong><span style="font-family: islamic_"> </span></strong></span> meriwayatkan bahwa <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah    صلى  الله عليه وسلم</strong><span style="font-family: islamic_"> </span></span> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">إِذَ  سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءُ وَاْلإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ  يَضَعْهُ  حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ</span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><em>“Jika salah seorang  kalian mendengar panggilan (adzan) sedangkan bejana  (minumnya) ada di  tangannya, maka janganlah dia meletakkannya hingga  menunaikan  keinginannya dari bejana (tersebut).”</em> </span>(HR. Ahmad dan Abu   Dawud dan dihasankan oleh Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i <span style="font-family: islamic_">t</span> dalam Al-Jami’ Ash-Shahih,  2/418-419)</strong><br />
Hukum makan sahur adalah sunnah muakkadah. Berkata <strong>Ibnul Mundzir  رحمه الله</strong>: <span style="color: #008000"><em>“Umat  ini  telah bersepakat bahwa makan sahur hukumnya sunnah dan tidak ada  dosa  bagi yang tidak melakukannya berdasarkan hadits</em></span> <span style="color: #008000"><strong>Anas bin Malik <strong><strong>رضي   الله عنه</strong></strong></strong></span> bahwa <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah   صلى  الله عليه وسلم</strong></span> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">تَسَحَّرُوا  فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً</span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><em>“Makan sahurlah,  karena sesungguhnya pada makan sahur itu ada  barakahnya.” </em></span>(HR.  Al-Bukhari dan Muslim)</strong><br />
Dianjurkan makan sahur dengan buah kurma jika ada, dan boleh dengan yang   lain berdasarkan hadits <span style="color: #008000"><strong>Abu  Hurairah <strong><strong>رضي  الله عنه</strong></strong></strong></span>,   bahwa <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah    صلى   الله عليه وسلم</strong></span> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">نِعْمَ  السَّحُوْرِ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ</span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><em>“Sebaik-baik sahur  seorang mukmin adalah buah kurma.” </em></span>(HR. Abu Dawud,  2/2345,  dan Ibnu Hibban, 8/3475, Al-Baihaqi, 4/236, dan dishahihkan oleh   Asy-Syaikh Al-Albani <span style="font-family: islamic_"> </span>رحمه  الله</strong><strong>)</strong><br />
Jika seseorang ragu apakah fajar telah terbit atau belum, maka boleh dia   makan dan minum sampai dia yakin bahwa fajar telah terbit.<br />
Firman Allah <span style="font-family: islamic_">k</span>:</p>
<h2 style="text-align: right">وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ  لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ  مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ</h2>
<p><strong><em>“Makan dan minumlah kalian hingga jelas bagimu benang  putih dan benang  hitam, yaitu fajar ….” </em>(Al-Baqarah: 187)</strong><br />
Berkata <span style="color: #ff00ff"><strong>As-Sa’di <strong>رحمه  الله</strong></strong> : </span><strong><span style="color: #ff00ff"><em>“Padanya terdapat  (dalil) bahwa jika (seseorang) makan dan  semisalnya dalam keadaan ragu  akan terbitnya fajar maka (yang demikian)  tidak mengapa.”</em></span> (Taisir  Al-Karim Ar-Rahman hal. 87)</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h2><span style="color: #ff00ff">B. Berbuka Puasa</span></h2>
<p>Orang yang berpuasa dianjurkan untuk mempercepat berbuka jika memang   telah masuk waktu berbuka. Tidak boleh menundanya meski ia merasa masih   kuat untuk berpuasa.<span style="color: #008000"> <strong>‘Amr  bin Maimun Al-Audi </strong><strong>رحمه الله</strong><strong> </strong></span>meriwayatkan:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #008000">كَانَ  أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْجَلَ  النَّاسِ  إِفْطًارًا وَأَبْطَأَهُمْ سُحُوْرًا</span></h2>
<p><strong><em><span style="color: #008000">“Para shahabat </span></em></strong><span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah    صلى  الله عليه  وسلم</strong></span><strong><em><span style="color: #008000"><span style="color: #0000ff"> </span>adalah orang yang  paling cepat  berbukanya dan paling lambat sahurnya.” </span></em>(HR. Al-Baihaqi,   4/238, dan Al-Hafidz Ibnu Hajar <span style="font-family: islamic_">t</span> menshahihkan sanadnya)</strong><br />
Berkata <span style="color: #ff00ff"><strong>Asy-Syaikh Ibnu  ‘Utsaimin <strong>رحمه الله</strong></strong> :</span><br />
<span style="color: #ff00ff"><strong><em>“Cepat-cepat berbuka  puasa (dianjurkan) bila telah terbenam matahari,  bukan karena adzan.  Namun di waktu sekarang (banyak) manusia  menyesuaikan adzan dengan  jam-jam mereka. Maka bila matahari telah  terbenam boleh bagi kalian  berbuka walaupun muadzdzin belum  mengumandangkan adzan.”</em> </strong></span><strong>(Asy-Syarh  Al-Mumti’)</strong><br />
Buka puasa dilakukan dalam keadaan ia mengetahui dengan yakin bahwa   matahari telah terbenam. Hal ini bisa dilakukan dengan melihat di lautan   dan semisalnya. Adapun hanya sekedar menduga dengan kegelapan dan   semisalnya, maka bukan dalil atas terbenamnya matahari. Wallahu a’lam.<br />
Mempercepat buka puasa adalah mengikuti Sunnah <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah     صلى  الله عليه وسلم</strong></span><strong><em> </em></strong>. <span style="color: #008000"><strong>Sahl bin  Sa’ad <strong><strong><strong>رضي   الله عنه</strong></strong></strong></strong></span> meriwayatkan <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah      صلى  الله عليه وسلم</strong></span> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">لاَ  تَزَالُ أُمَّتِيْ عَلَى سُنَّتِيْ مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا   النُّجُوْمَ</span></h2>
<p><span style="color: #0000ff"><strong><em>“Senantiasa umatku  berada di atas Sunnahku selama mereka tidak menunggu  (munculnya)  bintang ketika hendak berbuka.”</em></strong></span><strong> (HR.  Al-Hakim, 1/599, Ibnu  Hibban, 8/3510, dengan sanad yang shahih. Lihat  Shifat Shaum An-Nabi  hal. 63)</strong><br />
Mempercepat berbuka puasa akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya.   Seperti yang diriwayatkan <span style="color: #008000"><strong>Sahl  bin Sa’ad <strong><strong><strong>رضي   الله عنه</strong></strong></strong></strong></span> bahwa <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah     صلى   الله عليه وسلم</strong></span> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">لاَ  يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِّطْرَ</span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><em>“Senantiasa manusia  berada dalam kebaikan selama mereka mempercepat buka  puasa.” </em></span>(HR.  Al-Bukhari, 2/1856, dan Muslim, 2/1098)</strong><br />
Mempercepat berbuka puasa adalah perbuatan menyelisihi Yahudi dan   Nashara. <span style="color: #008000"><strong>Abu Hurairah <strong><strong><strong>رضي    الله عنه</strong></strong></strong></strong></span> berkata, <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah     صلى  الله عليه  وسلم</strong></span> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">لاَ  يَزَالُ هَذَا الدِّيْنُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ  لأَنَّ  الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُوْنَ</span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><em>“Senantiasa agama  ini nampak jelas selama manusia mempercepat buka puasa  karena Yahudi  dan Nashara mengakhirkannya.” </em></span>(HR. Abu Dawud, 2/2353,  Ibnu  Majah, 1/1698, An-Nasai dalam Al-Kubra, 2/253, dan Ibnu Hibban,  8/3503,  dan dihasankan oleh <span style="color: #ff00ff">Asy-Syaikh  Al-Albani </span></strong><span style="color: #ff00ff"><strong><strong>رحمه   الله</strong></strong></span><strong><span style="color: #ff00ff"> </span>)</strong><br />
Selain itu, mempercepat buka puasa termasuk akhlak kenabian. Sebagaimana   dikatakan <span style="color: #008000"><strong>‘Aisyah رضي  الله عنها</strong></span> :</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">ثَلاَثٌ  مِنْ أَخْلاَقِ النُّبُوَّةِ: تَعْجِيْلُ اْلإِفْطَارِ  وَالتَّأْخِيْرُ  السُّحُوْرِ وَوَضْعُ الْيَمِيْنِ عَلَى الشِّمَالِ فِي  الصَّلاَةِ</span></h2>
<p><strong><em><span style="color: #0000ff">“Tiga hal dari  akhlak kenabian: mempercepat berbuka, mengakhirkan sahur,  dan  meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.”</span></em> (HR.  Ad-Daruquthni, 1/284, dan Al-Baihaqi, 2/29)</strong><br />
Orang harus berbuka puasa lebih dahulu sebelum shalat Maghrib,   berdasarkan hadits <span style="color: #008000"><strong>Anas رضي  الله عنه </strong></span>bahwa <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah      صلى  الله عليه وسلم</strong> </span>berbuka puasa sebelum shalat  (Maghrib) dan  makanan yang paling dianjurkan untuk berbuka puasa adalah  kurma. <span style="color: #008000"><strong>Anas  bin Malik رضي  الله عنه </strong></span>berkata:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">كَانَ  النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ   يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٍ فَتُمَيْرَاتٍ   فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٍ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ</span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><em>“Adalah </em>Nabi </span></strong><strong> صلى  الله عليه وسلم</strong><strong><span style="color: #0000ff"><em> berbuka dengan ruthab (kurma  muda) sebelum shalat  (Maghrib), bila tidak ada ruthab maka dengan tamr  (kurma yang matang),  bila tidak ada maka dengan beberapa teguk air.” </em></span>(HR. Abu  Dawud, 2/2356, dan At-Tirmidzi, 3/696, Ad-Daruquthni, 2/185,  dengan  sanad yang shahih, dishahihkan oleh <span style="color: #ff00ff">Asy-Syaikh Al-Albani </span></strong><span style="color: #ff00ff"><strong><strong>رحمه  الله</strong></strong></span><strong><span style="color: #ff00ff"> </span>)</strong><br />
Jangan lupa, berdoa sebelum berbuka puasa dengan doa:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">ذَهَبَ  الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ  اللهُ  تَعَالَى</span></h2>
<p><strong><em><span style="color: #0000ff">“Telah hilang dahaga  dan telah basah urat-urat dan telah tetap pahala  insya Allah <span style="font-family: islamic_">k</span>.”</span></em> (HR. Abu Dawud,  2/306 no.  2357, An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, 2/255, Ad-Daruquthni,  2/185,  Al-Baihaqi, 4/239, dari hadits Ibnu ‘Umar <span style="font-family: islamic_">c</span> dan dihasankan oleh <span style="color: #ff00ff">Asy-Syaikh Al-Albani </span></strong><span style="color: #ff00ff"><strong><strong>رحمه  الله</strong></strong></span><strong><span style="color: #ff00ff"> </span>)</strong><br />
Orang yang menjalankan ibadah puasa diharuskan menjauhkan perkataan   dusta sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abu Hurairah <span style="font-family: islamic_">z</span>, bersabda <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah     صلى  الله عليه وسلم</strong></span><strong><em> </em></strong>:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">مَنْ  لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ   فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ</span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><em>“Siapa yang tidak  meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka  tidak ada  keinginan Allah pada puasanya”</em></span> (HR. Bukhari no. 1804)</strong></p>
<blockquote><p><strong><span style="color: #0000ff">1)]</span> </strong>Yang  dimaksud adalah iqomah, karena terkadang iqomah disebut adzan,  wallahu  a’lam. Yang dimaksud dengan sahur adalah akhir waktu sahur yaitu   ketika masuk waktu shubuh, sebagaimana akan lebih jelas pada artikel   ‘Sahur dan Berbuka’, -red.</p></blockquote>
<h2><span style="color: #ff00ff">C. Pembatal Puasa</span></h2>
<h3><em><span style="color: #ff0000">a. Makan dan minum dengan  sengaja</span></em></h3>
<p>Allah <span style="font-family: islamic_">k</span> berfirman:</p>
<h2 style="text-align: right">وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ  لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ  مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ  ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ  إِلَى اللَّيْلِ</h2>
<p><strong><em>“Makan dan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih  dari benang  hitam dari fajar kemudian sempurnakanlah puasa hingga  malam.” </em>(Al-Baqarah: 187)</strong><br />
Namun jika seseorang lupa maka puasanya tidak batal, berdasarkan hadits   <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah      صلى  الله  عليه وسلم</strong></span><strong><em> </em></strong>:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">إِذَا  نَسِيَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا  أَطْعَمَهُ  اللهُ وَسَقَاهُ</span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><em>“Jika ia lupa lalu  makan dan minum maka hendaklah dia sempurnakan  puasanya karena  sesungguhnya Allah yang memberinya makan dan minum.”</em></span> (HR.  Al-Bukhari no. 1831 dan Muslim no. 1155)</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h3><em><span style="color: #ff0000">b. Keluar darah haidh dan  nifas</span></em></h3>
<p>Hal ini sebagaimana dikatakan <span style="color: #008000"><strong>‘Aisyah   رضي الله عنها</strong><span style="font-family: islamic_"> </span> </span>:<br />
<strong><span style="color: #008000"><em>“Adalah kami mengalami  (haidh), maka kami diperintahkan untuk meng-qadha  puasa dan tidak  diperintahkan meng-qadha shalat.”</em></span> (HR. Al-Bukhari dan   Muslim)</strong><br />
Para ulama telah sepakat dalam perkara ini.</p>
<h3><span style="color: #ff0000"><em> c. Melakukan hubungan  suami istri di siang hari Ramadhan</em></span></h3>
<p>Hal ini berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah, dan kesepakatan para   ulama. Bagi yang melakukannya diharuskan membayar kaffarah yaitu   membebaskan budak, bila tidak mampu maka berpuasa dua bulan secara   terus-menerus, dan bila tidak mampu juga maka memberi makan 60 orang   miskin. Tidak ada qadha baginya menurut pendapat yang kuat. Hukum ini   berlaku secara umum baik bagi laki-laki maupun perempuan.<br />
Adapun bila seseorang melakukan hubungan suami istri karena lupa bahwa   dia sedang berpuasa, maka pendapat yang kuat dari para ulama adalah   puasanya tidak batal, tidak ada qadha dan tidak pula kaffarah. Hal ini   sebagaimana hadits <span style="color: #008000"><strong>Abu  Hurairah<strong> رضي الله عنه</strong><span style="font-family: islamic_"> </span></strong></span> bahwa <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah      صلى  الله عليه وسلم</strong><strong><em> </em></strong><span style="font-family: islamic_"> </span></span> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">مَنْ  أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ  وَلاَ  كَفَّارَةَ</span></h2>
<p><strong><em>“Barangsiapa yang berbuka sehari di bulan Ramadhan karena  lupa, maka  tidak ada qadha atasnya dan tidak ada kaffarah (baginya).” </em>(HR.   Al-Baihaqi, 4/229, Ibnu Khuzaimah, 3/1990, Ad-Daruquthni, 2/178, Ibnu   Hibban, 8/3521, dan Al-Hakim, 1/595, dengan sanad yang shahih)</strong></p>
<blockquote><p><em>Kata ifthar mencakup makan, minum dan bersetubuh.  Inilah pendapat jumhur  ulama dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu  Taimiyyah dan Asy-Syaukani  rahimahumallah.</em></p></blockquote>
<h3><span style="color: #ff0000"><em>d. Berbekam </em></span></h3>
<p>Ini termasuk perkara yang membatalkan puasa menurut pendapat yang  rajih,  berdasarkan hadits <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah       صلى  الله عليه وسلم</strong></span><strong><em> </em></strong><span style="font-family: islamic_"> </span>:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">أَفْطَرَ  الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُوْمُ</span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><em>“Telah berbuka  (batal puasa) orang yang berbekam dan yang dibekam.” </em></span>(HR.   At-Tirmidzi, 3/774, Abu Dawud, 2/2367;2370;2371, An-Nasai, 2/228, Ibnu   Majah no. 1679,dan lainnya)</strong><br />
Hadits ini shahih dan diriwayatkan dari kurang lebih 18 orang shahabat   dan dishahihkan oleh para ulama seperti Al-Imam Ahmad, Al-Bukhari, Ibnul   Madini dan yang lainnya. Ini merupakan pendapat Al-Imam Ahmad dan  Ishaq  bin Rahuyah serta dikuatkan oleh Ibnul Mundzir.<br />
Ada beberapa perkara lain yang juga disebutkan sebagian para ulama bahwa   hal tersebut termasuk pembatal puasa, di antaranya:</p>
<h3><span style="color: #ff00ff"> a. Muntah dengan sengaja </span></h3>
<p>Namun yang rajih dari pendapat ulama bahwa muntah tidaklah  membatalkan  puasa secara mutlak sengaja atau tidak sengaja. Sebab asal  puasa seorang  muslim adalah sah, tidaklah sesuatu itu membatalkan  kecuali dengan  dalil. Adapun hadits Abu Hurairah <span style="font-family: islamic_">z</span> bahwa <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah      صلى  الله عليه وسلم</strong></span><strong><em> </em></strong><span style="font-family: islamic_"> </span> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #ff0000">مَنْ  ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ وَمَنِ اسْتَقَاءَ  فَلْيَقْضِ</span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><em><span style="color: #ff0000">“Barangsiapa yang dikalahkan oleh muntahnya maka tidak  ada sesuatu  atasnya dan barangsiapa yang sengaja muntah maka hendaklah  dia  meng-qadha (menggantinya).”</span> </em></span>(HR. Ahmad, 2/498,  At-Tirmidzi, 3/720, Abu  Dawud, no. 2376 dan 2380, Ibnu Majah no. 1676)</strong><br />
Hadits ini dilemahkan oleh para ulama, di antaranya Al-Bukhari dan   Ahmad. Juga dilemahkan oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi <span style="font-family: islamic_">t</span>.<br />
Namun jika muntah tersebut keluar lalu dia sengaja memasukkannya kembali   maka hal ini membatalkan puasanya.</p>
<h3><span style="color: #ff00ff">b. Menggunakan cairan  penngganti makanan seperti infus </span></h3>
<p>Terjadi perselisihan di kalangan para ulama, dan yang rajih bahwa   suntikan terbagi menjadi dua bagian:<br />
1). Suntikan yang kedudukannya sebagai pengganti makanan maka hal ini   membatalkan puasanya, sebab nash-nash syari’at bila didapatkan pada   sesuatu yang termasuk dalam penggambaran yang sama maka dihukumi sama   seperti yang terdapat dalam nash.</p>
<p>2). Suntikan yang tidak berkedudukan sebagai pengganti makanan, maka  hal  ini tidaklah membatalkan puasa sebab gambarannya tidak seperti yang   terdapat dalam nash baik lafadz maupun makna, tidak dikatakan makan  dan  tidak pula minum dan tidak pula termasuk dalam makna keduanya. Dan   asalnya adalah sahnya puasa seorang muslim sampai meyakinkan  pembatalnya  berdasarkan dalil yang syar’i. (lihat fatwa Asy-Syaikh Ibnu  Utsaimin <span style="font-family: islamic_">t</span> dalam Fatawa  Islamiyyah: 2/130, fatwa  Asy-Syaikh Bin Baaz <span style="font-family: islamic_">t</span> dalam Fatawa  Ramadhan: 2/485, dan Fatwa Lajnah  Da’imah: 2/486, dan fatwa Syaikhul  Islam <span style="font-family: islamic_">t</span> dalam Haqiqotus Shiyam: 54-60).<br />
Namun Asy-Syaikh Muqbil <span style="font-family: islamic_">t</span> menasehatkan bagi  orang yang sakit untuk berbuka dan tidak berpuasa  agar tidak terjatuh  ke dalam sesuatu yang menimbulkan syubhat. (Min  Fatawa Ash-Shiyaam: 6)</p>
<h3><span style="color: #ff00ff"> c. Onani </span></h3>
<p>Pendapat yang rajih dari pendapat para ulama bahwa onani tidaklah   membatalkan puasa, namun termasuk perbuatan dosa yang diharamkan   melakukannya baik ketika berpuasa maupun tidak. Allah <span style="font-family: islamic_">k</span> berfirman menyebutkan di antara  ciri-ciri orang  mukmin:</p>
<h2 style="text-align: right">وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ  حَافِظُوْنَ. إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ  أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ  فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ. فَمَنِ  ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ  فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُوْنَ</h2>
<p><strong><em>“Dan (mereka adalah) orang yang memelihara kemaluannya,  kecuali kepada  istri-istrinya atau budak wanita yang mereka miliki.  Maka sesungguhnya  (hal itu) tidak tercela. Maka barangsiapa yang  mencari selain itu,  mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”</em> (Al-Mu’minun: 5-7)</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h2><span style="color: #ff00ff">D. Hal-Hal yang Diperbolehkan  Bagi Orang yang Berpuasa</span></h2>
<h3><span style="color: #33cccc">a. Bersiwak</span></h3>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah       صلى   الله عليه وسلم</strong></span><strong><em><span style="color: #0000ff"> </span> </em></strong>bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">لَوْ  لاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ   كُلِّ صَلاَةٍ</span></h2>
<h3><em>“Jika aku tidak memberatkan umatku, niscaya akan kuperintahkan  mereka  bersiwak setiap hendak shalat.” </em>(Muttafaq ‘alaih)</h3>
<h3><span style="color: #33cccc">b. Masuknya waktu fajar  dalam keadaan junub</span></h3>
<p>Hal ini berdasarkan hadits <span style="color: #008000"><strong>‘Aisyah    رضي الله عنها</strong></span> dan <span style="color: #008000"><strong>Ummu Salamah<strong> رضي الله عنها</strong></strong></span> bahwa<span style="color: #0000ff"><strong> Nabi </strong><strong> صلى  الله عليه وسلم</strong><strong><em> </em></strong></span><span style="color: #008000"><em><strong><span style="color: #0000ff"><span style="font-family: islamic_"> </span> </span>mendapati  waktu fajar dalam keadaan junub setelah (bersetubuh dengan)  istrinya,  kemudian beliau mandi dan berpuasa. </strong></em></span><strong>(Muttafaq  ‘alaihi)</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h3><span style="color: #33cccc">c. Berkumur-kumur dan  memasukkan air ke dalam hidung asal tidak  berlebihan </span></h3>
<p><span style="color: #008000"><strong>Laqith bin Shabirah <strong>رضي   الله عنه</strong></strong></span> meriwayatkan bahwa <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah       صلى  الله عليه  وسلم</strong><strong><em> </em></strong><span style="font-family: islamic_"> </span></span> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">وَبَالِغْ  فِي اْلإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا</span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><em>“Dan  bersungguh-sungguhlah kalian dalam ber-istinsyaq (memasukkan air ke   dalam hidung) kecuali bila kalian berpuasa.” </em></span>(HR. Abu Dawud,  1/132, dan  At-Tirmidzi, 3/788, An-Nasai, 1/66, dan dishahihkan oleh  Asy-Syaikh  Al-Albani <span style="font-family: islamic_">t</span>)</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h3><span style="color: #33cccc">d. Menggauli istri selain  bersetubuh </span></h3>
<p>Sebagaimana yang dikatakan oleh <strong><span style="color: #008000">‘Aisyah   رضي الله عنها</span> </strong><span style="font-family: islamic_"> </span>:<br />
<strong><span style="color: #008000"><em>“Adalah </em></span></strong><span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah        صلى  الله عليه  وسلم</strong></span><strong><em> </em></strong><strong><span style="color: #008000"><em><span style="font-family: islamic_"> </span>mencium (istrinya) dan  beliau berpuasa, menggaulinya (bukan  jima’) dan beliau berpuasa.”</em></span> (Muttafaqun ‘alaihi)</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h3><span style="color: #33cccc">e. Mencicipi makanan dan  menciumnya asal tidak memasukkan ke dalam  kerongkongannya </span></h3>
<p>Berkata <span style="color: #008000"><strong>Ibnu ‘Abbas</strong> <strong>رضي  الله عنه</strong></span> :<br />
<strong><em><span style="color: #008000">“Tidak mengapa  seseorang mencicipi cuka atau sesuatu (yang lain) selama  tidak masuk  kerongkongannya dalam keadaan dia berpuasa.”</span></em> (Diriwayatkan   Al-Bukhari secara mu’allaq dan disambung sanadnya oleh Ibnu Abi Syaibah   dan Al-Baihaqi)</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h3><span style="color: #33cccc">f. Mandi di siang hari </span></h3>
<p>Sebagaimana yang terdapat pada kisah junub <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah       صلى  الله عليه وسلم</strong><strong><em> </em></strong><span style="font-family: islamic_"> </span></span> yang  telah lalu.</p>
<h2><span style="color: #ff00ff">E. Perbuatan yang Dianjurkan  di bulan Ramadhan</span></h2>
<h3><span style="color: #ff00ff"> a. Memperbanyak shadaqah</span></h3>
<h3><span style="color: #ff00ff">b. Memperbanyak bacaan Al  Qur’an, dzikir, doa, dan shalat </span></h3>
<p><span style="color: #008000"><strong>Ibnu ‘Abbas <strong>رضي   الله عنه</strong> </strong></span>meriwayatkan:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #008000">كَانَ</span> <span style="color: #0000ff">رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</span> <span style="color: #008000">أَجْوَدَ  النَّاسِ  وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ  جِبْرِيْلُ  فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ</span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff">“<strong>Rasulullah        صلى  الله عليه وسلم</strong><strong><em> </em></strong></span><span style="font-family: islamic_"> </span> <span style="color: #008000"><em>adalah orang yang paling  dermawan, dan beliau lebih dermawan  lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril  menemuinya lalu membacakan padanya  Al Qur`an.”</em></span> (HR. Al-Bukhari)</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h3><span style="color: #ff00ff"> c. Memberikan makan kepada  orang yang berbuka puasa </span></h3>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah       صلى   الله عليه وسلم</strong><strong><em> </em></strong></span><span style="font-family: islamic_"> </span> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">مَنْ  فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ   يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا</span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><em>“Barangsiapa yang  memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya  seperti pahala (yang  berpuasa) dalam keadaan tidak berkurang sedikitpun  dari pahala orang  yang berpuasa itu.”</em> </span>(HR. Ahmad, 4/114, At-Tirmidzi,  3/807,  Ibnu Majah, 1/1746, Ad-Darimi no. 1702, dan dishahihkan oleh  Asy-Syaikh  Al-Albani <span style="font-family: islamic_">t</span> dalam Shahih   At-Tirmidzi).</strong></p>
<h2><span style="color: #ff00ff">Wallaahul muwaffiq.</span></h2>
<h3><span style="color: #ff00ff">Sumber: </span></h3>
<h3><a href="http://rumahbelajarku.wordpress.com/2010/07/27/adab-adab-berpuasa/">http://rumahbelajarku.wordpress.com/</a></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/07/adab-adab-berpuasa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>24 Adab Menggunakan HP</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/04/24-adab-menggunakan-hp/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/04/24-adab-menggunakan-hp/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 12:58:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Adab HP]]></category>

		<category><![CDATA[Download]]></category>

		<category><![CDATA[abu salafy 01]]></category>

		<category><![CDATA[e-Book]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=763</guid>
		<description><![CDATA[




e-book: 24 Adab Menggunakan HP

Karya: Abu Ibrahim bin Ahmad bin Muqbil 

Pengantar : 

Pada zaman modern  ini telah banyak teknologi yang memudahkan  aktivitas manusia. Termasuk dengan tersebarnya Jawwal/Handphone  (HP),  komunikasi bisa dijalankan dengan sangat mudah dan  cepat. Seorang yang  berada di ujung dunia bisa menghubungi orang lain yang  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="entrytext">
<p style="text-align: center"><img class="alignnone" src="http://i294.photobucket.com/albums/mm118/Scofieldtn/allah.gif" alt="" /></p>
</h3>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full                wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"></h2>
<h1 style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><span style="color: #ff0000">e-book:</span> 24 Adab Menggunakan HP</span></h1>
<p><span style="color: #0000ff"><a href="http://rumahbelajarku.files.wordpress.com/2010/08/adab-hp.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-911" src="http://rumahbelajarku.files.wordpress.com/2010/08/adab-hp.jpg?w=468&amp;h=708" alt="" width="468" height="708" /></a></span></p>
<h2><span style="color: #0000ff"><span style="color: #008000"><em>Karya: Abu Ibrahim bin Ahmad bin Muqbil </em></span></span></h2>
<div>
<h3><span style="color: #ff00ff"><em>Pengantar : </em></span></h3>
</div>
<div>Pada zaman modern  ini telah banyak teknologi yang memudahkan  aktivitas manusia. Termasuk dengan tersebarnya Jawwal/Handphone  (HP),  komunikasi bisa dijalankan dengan sangat mudah dan  cepat. Seorang yang  berada di ujung dunia bisa menghubungi orang lain yang  ada di belahan  dunia lain dengan sangat mudah dan kapan saja ia mau.  Kejadian yang  terjadi di suatu daerah, bisa diinformasikan dengan cepat ke benua   lainnya saat itu juga.</div>
<p>Tidak diragukan, keberadaan Jawwal/HP merupakan  salah satu di antara  sekian banyak nikmat Allah. Maka agar nikmat tersebut  bisa tetap  terjaga dan benar-benar menjadi karunia bagi kita perlu kita  mensyukuri  nikmat tersebut. Di antara bentuk syukur adalah menggunakan nikmat   tersebut pada tempatnya dan menjadikannya sebagai sarana yang bisa   membantu untuk kita menjalankan ketaatan kepada  Allah.</p>
<p>Banyak terjadi, terkait dengan penggunaan Jawwal/HP ini yang  sebenarnya itu bertentangan dengan nilai-nilai syukur. Yaitu tatkala   teknologi seluler yang memberikan banyak kemudahan ini ternyata  digunakan  tidak pada tempatnya dan bahkan dijadikan sebagai sarana baru  untuk berbuat  maksiat. Maka perlu kiranya kita menengok bagaimana  bimbingan Syari’at  Islamiyyah dalam memberikan rambu-rambu untuk  bersikap dan berakhlaq,  serta mana hal-hal yang boleh dan mana yang  dilarang oleh syari’at, untuk  kemudian seorang muslim menerapkannya  dalam  penggunaan teknologi seluler tersebut.</p>
<p style="text-align: center">***</p>
<p style="text-align: left"><span id="more-763"></span></p>
<h3>Sehubungan dengan pentingnya nilai syukur tersebut maka <a href="http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/">kami</a> berinisiatif  mengingatkan antum semua akan pentingnya adab-adab ber HP, dengan memuat  <span style="color: #ff0000">e-book:</span> <span style="color: #0000ff">24 Adab Menggunakan HP</span> dalam 2 format, versi scribd dan versi  pdf.</h3>
<h2><span style="color: #ff0000">1. <a href="http://www.scribd.com/doc/21752115/adab-hp">Format scribd </a>(lihat  dan donlot)</span></h2>
<h2><span style="color: #ff0000">2. <a href="http://www.assalafy.org/chm/adab_hp.pdf">Format pdf</a> (lihat dan  donlot)</span></h2>
<h2><span style="color: #ff0000">Sumber:</span></h2>
<h2><a href="http://rumahbelajarku.wordpress.com/2010/08/04/24-adab-menggunakan-hp/">http://rumahbelajarku.wordpress.com/</a></h2>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/04/24-adab-menggunakan-hp/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kilauan Mutiara Hikmah</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/04/kilauan-mutiara-hikmah/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/04/kilauan-mutiara-hikmah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 12:37:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Download]]></category>

		<category><![CDATA[abu salafy 01]]></category>

		<category><![CDATA[e-Book]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=754</guid>
		<description><![CDATA[



e-Book: Kilauan Mutiara Hikmah dari Nasihat Salaful Ummah

Karya: Syaikh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsi 
Diterjemahkan: Ustadz Idral Harits 
Pengantar: Ustadz Muhammad Umar As Sewwed
إن  الحمد لله نحمده، ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من  شرور أنفسنا، ومن  سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا  هادى له، وأشهد [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="entrytext">
<p style="text-align: center"><img class="alignnone" src="http://i294.photobucket.com/albums/mm118/Scofieldtn/allah.gif" alt="" /></p>
</h3>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full               wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<h1 style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><span style="color: #ff00ff">e-Book:</span> Kilauan Mutiara Hikmah dari Nasihat Salaful Ummah</span></h1>
<p><span style="color: #0000ff"><a href="http://rumahbelajarku.files.wordpress.com/2010/07/kilauan-mutiara-hikmah.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-878" src="http://rumahbelajarku.files.wordpress.com/2010/07/kilauan-mutiara-hikmah.jpg?w=468&amp;h=351" alt="" width="468" height="351" /></a></span></p>
<h2><span style="color: #008000"><span style="color: #ff00ff">Karya:</span> Syaikh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsi </span></h2>
<h2><span style="color: #008000"><span style="color: #ff6600">Diterjemahkan:</span> Ustadz Idral Harits </span></h2>
<h2><span style="color: #008000"><span style="color: #ff0000">Pengantar:</span> Ustadz Muhammad Umar As Sewwed</span></h2>
<h3 style="text-align: center"><span style="color: #ff00ff"><strong></strong><strong>إن  الحمد لله نحمده، ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من  شرور أنفسنا، ومن  سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا  هادى له، وأشهد أن  لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده  ورسوله</strong></span></h3>
<h3 style="text-align: center"><strong></strong><strong>يا أيها الذين  آمنوا  اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون. آل عمران (102)</strong></h3>
<h3 style="text-align: center"><strong></strong><strong>يا أيها الناس  اتقوا  ربكم الذي خلقكم من نفسٍ واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالاً  كثيراً  ونساءً واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم  رقيبا .  النساء (1)</strong></h3>
<h3 style="text-align: center"><strong></strong><strong>يا أيها الذين  آمنوا  اتقوا الله وقولوا قولاً سديداً يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم  ومن يطع  الله ورسوله فقد فاز فوزاً عظيماً الأحزاب (70-71</strong></h3>
<h3 style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><strong></strong><strong>أما  بعد : فإن أصدق الحديث كتاب الله، وخير الهدى  هدى محمد صلى الله عليه  وسلم وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل  بدعة ضلالة، وكل ضلالة فى  النار</strong></span></h3>
<p><strong></strong><strong>Kami persembahkan sebuah e-Book yang sangat  bermanfaat bagi pembaca <a href="http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws">blog  kesayangan</a> kita ini, sebagai gambaran kami nukilkan sebagian isinya  sbb:</strong></p>
<p><span id="more-754"></span></p>
<h3><span style="color: #ff00ff"><span class="text_exposed_show">BAB 21 Titik (Tujuan) Akhir Ahli Bid’ah  Dan Sifat-Sifat Mereka</span></span></h3>
<h3><span class="text_exposed_show">198. Dari Abu Qilabah ia berkata :  “Tidaklah seseorang berbuat bid’ah melainkan (suatu saat) ia akan  menganggap halal menghunus pedang (menumpahkan darah).” (Al I’tisham  1/112 dan Ad Darimy 1/58 nomor 99) 199. Ayyub menamakan para mubtadi’  itu (sebagai) Khawarij dan ia menyatakan bahwa sesungguhnya orang-orang  Khawarij itu nama dan julukan mereka berbeda namun mereka bersepakat  dalam menghalalkan darah kaum Muslimin. (Al I’tisham 1/113)</span></h3>
<h3><span class="text_exposed_show">200.  Abu Qilabah berkata : “Sesungguhnya ahlul ahwa itu adalah orang-orang  yang sesat dan saya tidak menganggap ada tempat kembali mereka selain  neraka.” (Al I’tisham 1/112 dan Ad Darimy 1/158)</span></h3>
<h3><span class="text_exposed_show">201. Seseorang  berkata kepada Ibnu Abbas : “Segala puji hanya bagi Allah yang telah  menjadikan hawa nafsu kami (berjalan) di atas hawa nafsu kalian (para  shahabat).” Ibnu Abbas menukas : “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan  kebaikan sedikitpun di dalam hawa nafsu ini. Dan ia dinamakan hawa  karena ia menjerumuskan pemiliknya ke dalam neraka.” (Asy Syarhu wal  Ibanah 123 nomor 62)</span></h3>
<h3><span class="text_exposed_show">202. Pendapat tersebut juga berasal dari Al  Hasan Al Bashry, Mujahid, Abul Aliyah, dan Asy Sya’bi. (Asy Syarhu 124  nomor 63 dan Ad Darimy 1/120 nomor 395)</span></h3>
<h3><span class="text_exposed_show">203. Ibnu Sirin  berpendapat bahwa orang yang paling segera murtad adalah ahlul ahwa  (mubtadi’). (Al I’tisham 1/113)</span></h3>
<h3><span class="text_exposed_show">204. Dari Abi Ghalib dari Umamah,  ia berkata mengenai ayat : “Lalu mereka mengikuti ayat-ayat yang  mutasyabihat (samar)” (QS. Ali Imran : 7) Bahwa ayat ini menerangkan  keadaan orang Khawarij dan para ahli bid’ah. (Al Ibanah 2/606 nomor 783)</span></h3>
<h3><span class="text_exposed_show">205.  Dari Ma’mar dari Qatadah ia menerangkan maksud ayat : “Adapun  orang-orang yang di hatinya terdapat zaigh (kecenderungan kepada  kesesatan)” Ia berkata : “Jika yang dimaksud ayat ini bukan Khawarij dan  kaum Sabaiyyah, saya tidak tahu lagi siapa mereka. Demi Allah,  seandainya orang Khawarij itu di atas hidayah tentulah mereka akan  bersatu namun ternyata mereka di atas kesesatan maka mereka  bercerai-berai. Begitupula segala perkara yang bukan berasal dari sisi  Allah tentu akan terdapat di dalamnya perselisihan yang sangat banyak.  Demi Allah sungguh Haruriyyah itu benar-benar bid’ah dan Sabaiyyah juga  benar-benar bid’ah yang tidak pernah ada dalam satu kitab pun dan tidak  pula disunnahkan oleh seorang Nabi pun.” Ibnu Baththah Al Ukbary berkata  : “Al Haruriyyah adalah Khawarij dan As Sabaiyyah adalah kaum Rafidliy  pengikut Abdullah bin Saba’ yang dibakar oleh Aly bin Abi Thalib dan  hanya tertinggal sebagian di antara mereka.” (Al Ibanah 2/607 nomor 785)</span></h3>
<h3><span class="text_exposed_show">206.  Dari Ayyub dari Abu Qilabah ia berkata : [ Sesungguhnya ahlil ahwa  adalah orang-orang yang sesat. Saya menganggap tidak ada tempat kembali  mereka selain neraka. Cobalah kalian uji mereka maka tidak ada satu pun  dari mereka yang meyakini suatu ucapan atau berpendapat dengan satu  pendapat lalu urusan mereka berakhir kecuali dengan pedang (menumpahkan  darah). Dan sesungguhnya karakter kemunafikan itu beraneka-ragam  modelnya. Kemudian ia membaca : “Di antara mereka ada yang mengikat  janji kepada Allah.” (QS. At Taubah : 75) “Di antara mereka ada yang  mencelamu dalam (pembagian) zakat.” (QS. At Taubah : 58) “Dan di antara  mereka ada yang menyakiti Nabi.” (QS. At Taubah : 61) Ucapan mereka  berbeda-beda namun mereka bersatu dalam keraguan, kedustaan, dan pedang  (penumpahan darah kaum Muslimin). Dan saya menganggap bahwa tempat  kembali mereka tidak lain adalah neraka. ] (Ad Darimy 1/58 nomor 100)  Kemudian Ayyub mengatakan : “Abu Qilabah adalah &#8211;demi Allah&#8211; salah  seorang dari para fuqaha’ yang berakal (cerdas).”</span></h3>
<h3><span class="text_exposed_show">207. Sa’id bin  Anbasah berkata : “Tidak akan ada seseorang yang mengerjakan suatu  kebid’ahan kecuali dengki hatinya terhadap kaum Muslimin dan tercabut  amanah dari dirinya.” (Ibanah Ash Shughra 135 nomor 98-100)</span></h3>
<h3><span class="text_exposed_show">208.  Al Auza’iy berkata : “Tidaklah seseorang berbuat suatu bid’ah melainkan  hilang sikap wara’-nya.” (Ibid)</span></h3>
<h3><span class="text_exposed_show">209. Al Hasan Al Bashry berkata :  “Tidaklah seseorang berbuat suatu bid’ah melainkan keimanannya akan  berlepas diri darinya.” (Ibid)</span></h3>
<h3><span class="text_exposed_show">210. Imam Al Barbahary berkata  (Syarhus Sunnah halaman 122) : “Dan ketahuilah sesungguhnya hawa nafsu  itu semuanya rendah dan selalu mengajak kepada pedang (penumpahan  darah).”</span></h3>
<h3><span class="text_exposed_show">Saya (Jamal) berkata : “Engkau lihat firqah-firqah dan hizb  (golongan) yang ada dewasa ini seperti Ikhwanul Muslimin, Sururiyyah, Al  Jabhah (di Aljazair), Tandhimul Jihad, Firqah At Turabi, Hizb Mas’udi  dan lain-lain di manapun juga. Seolah-olah mereka berselisih sesama  mereka namun (ternyata) mereka bersepakat dalam (urusan) pedang yaitu  menghalalkan darah kaum Muslimin dan memusuhi Ahlus Sunnah.”</span></h3>
<h3><span class="text_exposed_show">Penasaran? Buruan ke <span style="color: #ff0000">TKP </span>&gt;&gt; <span style="color: #ff00ff">T4 Kejadian Pendonlotan</span>:</span></h3>
<h3><a href="http://rumahbelajarku.files.wordpress.com/2010/07/kilauan-mutiara-hikmah-dari-nasehat-salafush-shalih.pdf"><img class="aligncenter size-full wp-image-756" src="http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/files/2010/08/download-icon.jpg" alt="" width="300" height="288" /></a></h3>
<h3><span style="color: #ff0000"><br />
</span></h3>
<h3><span style="color: #ff0000">Sumber:</span></h3>
<h3><a href="http://rumahbelajarku.wordpress.com/2010/07/29/kilauan-mutiara-hikmah/">http://rumahbelajarku.wordpress.com/</a></h3>
<p><span class="text_exposed_show"><a rel="nofollow" href="http://rumahbelajarku.wordpress.com/2010/07/29/kilauan-mutiara-hikmah/" target="_blank"></a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/04/kilauan-mutiara-hikmah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Donlot Audio: Bedah Buku “PANDUAN PUASA RAMADHAN”</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/04/donlot-audio-bedah-buku-%e2%80%9cpanduan-puasa-ramadhan%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/04/donlot-audio-bedah-buku-%e2%80%9cpanduan-puasa-ramadhan%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 12:02:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[AGAMA]]></category>

		<category><![CDATA[Audio]]></category>

		<category><![CDATA[Download]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=752</guid>
		<description><![CDATA[





Donlot  Audio: Bedah Buku “PANDUAN PUASA RAMADHAN”

Nara Sumber : Al Ustadz Abu  Muhammad Dzulqarnain Bin Muhammad Sanusi
Kajian ini direkam oleh  al-akh Ridwan Abu Nadiyah – dalam format wav-, Jazakallaahu Khair. (Semoga amal ibadah beliau mendapat  balasan setimpal dari-NYA Allaahuma amien….)



Sesi 1 (donlot)
Terputus karena mati lampu, lalu  dilanjut pada:

Sesi 2 (donlot)

Dilanjut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 class="entrytext">
<h3 class="entrytext">
<p style="text-align: center"><img class="alignnone" src="http://i294.photobucket.com/albums/mm118/Scofieldtn/allah.gif" alt="" /></p>
</h3>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full              wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"></h2>
<h1 style="text-align: center"><span style="color: #ff00ff">Donlot  Audio:</span> <span style="color: #0000ff"><span style="color: #ff0000">Bedah Buku </span>“PANDUAN PUASA RAMADHAN”</span></h1>
<p><a href="http://rumahbelajarku.files.wordpress.com/2010/08/panduan-puasa1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-892" src="http://rumahbelajarku.files.wordpress.com/2010/08/panduan-puasa1.jpg?w=468&amp;h=684" alt="" width="468" height="684" /></a></p>
<h2><span style="color: #008000"><em>Nara Sumber : Al Ustadz Abu  Muhammad Dzulqarnain Bin Muhammad Sanusi</em></span></h2>
<h3><span style="color: #ff00ff">Kajian ini direkam oleh  al-akh Ridwan Abu Nadiyah – dalam format wav-, Jazakallaahu Khair. <span style="color: #008000">(Semoga amal ibadah beliau mendapat  balasan setimpal dari-<span style="color: #0000ff">NYA</span> Allaahuma amien….)</span></span></h3>
<p><span id="more-752"></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><span style="color: #008000"><br />
</span></span></p>
<h2><a href="http://www.4shared.com/audio/4d__okGE/panduan_puasa_1.html"><span style="color: #0000ff">Sesi 1</span></a><span style="color: #0000ff"> <span style="color: #008000">(donlot)</span></span></h2>
<p><span style="color: #0000ff">Terputus karena mati lampu, lalu  dilanjut pada:<br />
</span></p>
<h2><span style="color: #ff0000"><a href="http://www.4shared.com/audio/7bW02zTy/panduan_puasa_2.html">Sesi 2</a><span style="color: #ff0000"> (donlot)</span><br />
</span></h2>
<p><span style="color: #ff0000">Dilanjut setelah shalat dzuhur  dan  rehat<br />
</span></p>
<h2><span style="color: #008000"><a href="http://www.4shared.com/audio/w8g7p_-U/panduan_puasa_3.html">Sesi 3</a> <span style="color: #ff00ff">(donlot)</span></span></h2>
<h2><span style="color: #008000"><span style="color: #ff00ff"><a href="http://www.4shared.com/audio/wee6fUnC/BedahBukuPuasaRamadhanSesiTany.html">Sesi  tanya Jawab</a> (donlot) &gt;&gt; <span style="color: #ff0000">sumber</span></span></span><span style="color: #ff0000"> : </span>http://statics.ilmoe.com/</h2>
<blockquote>
<h3><em><span style="color: #ff0000"> </span></em></h3>
</blockquote>
<p><span style="color: #008000"><span style="color: #ff00ff"><br />
</span></span></p>
<h2><span style="color: #008000"><span style="color: #ff00ff">Sumber:</span></span></h2>
<p><a href="http://rumahbelajarku.wordpress.com/2010/08/02/donlot-audio-%E2%80%9Cpanduan-puasa-ramadhan%E2%80%9D/">http://rumahbelajarku.wordpress.com/</a></h2>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/08/04/donlot-audio-bedah-buku-%e2%80%9cpanduan-puasa-ramadhan%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Nulis Arab di Komputer</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/07/30/nulis-arab-di-komputer/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/07/30/nulis-arab-di-komputer/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 06:25:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Download]]></category>

		<category><![CDATA[Nulis Arab]]></category>

		<category><![CDATA[abu salafy 01]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=743</guid>
		<description><![CDATA[



Cara  Setting Keyboard Arab Di Windows Xp

Oleh : Abu Salma bin Rosyid
Pengantar
Telah banyak artikel yang menjelaskan cara mennyeting agar windows Xp  dapat digunakan untuk menulis huruf arab, namun menurut kaca mata saya  belum cukup sebagai panduan bagi para pengguna komputer tingkat pemula.
Oleh karena itu untuk membantu para pengguna komputer pemula  terkhusus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="entrytext">
<p style="text-align: center"><img class="alignnone" src="http://i294.photobucket.com/albums/mm118/Scofieldtn/allah.gif" alt="" /></p>
</h3>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full             wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<h1 style="text-align: center"><span style="color: #0000ff">Cara  Setting Keyboard Arab Di Windows Xp</span></h1>
<p><a href="http://rumahbelajarku.files.wordpress.com/2010/07/cara-nulis-arab.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-846" src="http://rumahbelajarku.files.wordpress.com/2010/07/cara-nulis-arab.jpg?w=450&amp;h=208" alt="" width="450" height="208" /></a></p>
<h2><span style="color: #008000"><em>Oleh : Abu Salma bin Rosyid</em></span></h2>
<p><strong>Pengantar</strong></p>
<p>Telah banyak artikel yang menjelaskan cara mennyeting agar windows Xp  dapat digunakan untuk menulis huruf arab, namun menurut kaca mata saya  belum cukup sebagai panduan bagi para pengguna komputer tingkat pemula.</p>
<p>Oleh karena itu untuk membantu para pengguna komputer pemula  terkhusus mereka para pengunjung blog saya, saya hadirkan tulisan  berikut tentang Cara Setting Keyboart Arab Di Windows Xp</p>
<p>Untuk memudahkan para pembaca menggunakannya tulisan tersebut saya  wujudkan dalam format doc (dapat dibuka dengan microsoft word), sehingga  nanti pembaca dapat mendownload dengan mengklik link yang saya  sediakan, simpan, pelajari dan silakan dipraktekkan.</p>
<p>Semoga tulisan saya ini dapat dimanfaatkan oleh kaum muslimin dalam  perkara-perkara yang diridhoi oleh Allah ta’ala.</p>
<p><span id="more-743"></span></p>
<p>Selamat mencoba dan klik “download icon” di bawah ini,  silakan:</p>
<p><a href="http://dc213.4shared.com/img/348375114/46131dab/cara-setting-keyboard-arab-di-.pdf?rnd=0.9174586449705077%22%20border=%220%22%3E%3C/a%3E"><br />
</a></p>
<p><a href="http://www.4shared.com/document/1xUBXSAh/cara-setting-keyboard-arab-di-.html"><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-843" src="http://rumahbelajarku.files.wordpress.com/2010/07/download-icon1.jpg?w=150&amp;h=144" alt="" width="150" height="144" /><br />
</a></p>
<h3><span style="color: #ff00ff">Sumber:</span></h3>
<h3><a href="http://rumahbelajarku.wordpress.com/2010/07/27/nulis-arab-di-komputer/">http://rumahbelajarku.wordpress.com/</a></h3>
<h3><span style="color: #ff00ff"><a href="http://abasalma.wordpress.com/2008/09/16/cara-setting-keyboard-arab-di-windows-xp/">http://abasalma.wordpress.com/</a></span></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/07/30/nulis-arab-di-komputer/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Ringkas Puasa Ramadhan</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/07/30/hukum-ringkas-puasa-ramadhan/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/07/30/hukum-ringkas-puasa-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 06:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[AGAMA]]></category>

		<category><![CDATA[Puasa Ramadhan]]></category>

		<category><![CDATA[abu salafy 01]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=740</guid>
		<description><![CDATA[

Hukum  Ringkas Puasa Ramadhan



Penulis : Al-Ustadz Abu  Abdirrahman Al-Bugisi
Selasa, 12 September 2005
Menyambut Ramadhan, banyak acara digelar kaum muslimin. Di  antara  acara tersebut ada yang telah menjadi tradisi yang “wajib”  dilakukan  meski syariat tidak pernah memerintahkan untuk membuat  berbagai acara  tertentu menyambut datangnya bulan mulia tersebut.
Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari kewajiban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img class="alignnone" src="http://i294.photobucket.com/albums/mm118/Scofieldtn/allah.gif" alt="" /></p>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full              wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<h1 style="text-align: center"><span style="color: #0000ff">Hukum  Ringkas Puasa Ramadhan</span></h1>
<p><a href="http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/files/2010/08/ramadhan-al-mubarak.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-765" src="http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/files/2010/08/ramadhan-al-mubarak.jpg" alt="" width="260" height="194" /></a></p>
<p><a href="http://rumahbelajarku.files.wordpress.com/2010/07/ramadhan-al-mubarak.jpg"><br />
</a></p>
<h2><span style="color: #008000"><em>Penulis : Al-Ustadz Abu  Abdirrahman Al-Bugisi</em></span></h2>
<h3>Selasa, 12 September 2005</h3>
<p>Menyambut Ramadhan, banyak acara digelar kaum muslimin. Di  antara  acara tersebut ada yang telah menjadi tradisi yang “wajib”  dilakukan  meski syariat tidak pernah memerintahkan untuk membuat  berbagai acara  tertentu menyambut datangnya bulan mulia tersebut.<br />
Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari kewajiban puasa yang ditetapkan   syariat yang ditujukan dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada   <strong>الله تعالى</strong>.</p>
<p>Hukum puasa sendiri terbagi  menjadi dua, yaitu puasa wajib dan puasa  sunnah. Adapun puasa wajib  terbagi menjadi 3: puasa Ramadhan, puasa  kaffarah (puasa tebusan), dan  puasa nadzar.</p>
<p><span id="more-740"></span></p>
<h2><span style="color: #ff00ff"><em>Keutamaan Bulan Ramadhan</em></span></h2>
<p>Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an.  <strong>الله  تعالى</strong> berfirman:</p>
<h2 style="text-align: right">شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ  الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ  وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ</h2>
<p><strong><em>“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan  (permulaan) Al  Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan  penjelasan-penjelasan mengenai  petunjuk itu dan pembeda (antara yang  haq dan yang batil).” </em>(Al-Baqarah:  185)</strong></p>
<p>Pada bulan ini para setan dibelenggu, pintu neraka ditutup dan pintu   surga dibuka.</p>
<div><span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah <span style="font-size: x-small"> </span><span style="font-size: x-small">صلى  الله عليه وسلم</span></strong></span><span style="color: #0000ff"> </span>bersabda:</div>
<p><span style="font-size: x-small"><strong> </strong></span></p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">إِذَا  جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِقَتْ أَبْوَابُ   النِّيْرَانِ وَصُفِدَتِ الشَّيَاطِيْنُ</span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><em>“Bila datang bulan  Ramadhan dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah  pintu-pintu neraka dan  dibelenggulah para setan.” </em></span>(HR. Al-Bukhari dan  Muslim).</strong><br />
Pada bulan Ramadhan pula terdapat malam Lailatul Qadar.   <strong>الله  تعالى</strong> berfirman:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #000000">إِنَّا  أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا  لَيْلَةُ  الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ.  تَنَزَّلُ  الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ  كُلِّ  أَمْرٍ. سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ</span></h2>
<p><strong><em>“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an pada malam  kemuliaan.  Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu  lebih baik  dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat  dan malaikat  Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.  Malam itu  penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.” </em>(Al-Qadar:  1-5)</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h2><span style="color: #ff00ff"><em>Penghapus Dosa</em></span></h2>
<p>Ramadhan adalah bulan untuk menghapus dosa. Hal ini berdasar hadits <span style="color: #008000"><strong>Abu  Hurairah رضي الله عنه<span style="font-family: islamic_"> </span></strong></span> bahwa <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah <span style="font-size: x-small"> </span><span style="font-size: x-small">صلى  الله عليه وسلم</span></strong> </span>bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">الصَّلَوَاتُ  الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى  رَمَضَانَ  مُكَفِّرَاتٌ لَمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ</span></h2>
<h3><em><span style="color: #0000ff">“Shalat lima waktu, dari  Jum’at (yang satu) menuju Jum’at berikutnya,  (dari) Ramadhan hingga  Ramadhan (berikutnya) adalah penghapus dosa di  antaranya, apabila  ditinggalkan dosa-dosa besar.” </span></em>(HR. Muslim)</h3>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">مَنْ  صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ   مِنْ ذَنْبِهِ</span></h2>
<h3><em><span style="color: #0000ff">“Barangsiapa yang berpuasa  Ramadhan dengan keimanan dan mengharap ridha  Allah, akan diampuni  dosa-dosanya yang terdahulu.” </span></em>(HR. Al-Bukhari dan  Muslim  dari <span style="color: #008000">Abu Hurairah رضي الله عنه</span>)</h3>
<h2><em><span style="color: #ff00ff">Rukun Berpuasa</span></em></h2>
<p><span style="color: #008000"><strong>A).</strong></span> Berniat sebelum munculnya fajar shadiq. Hal ini berdasarkan hadits  <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah <span style="font-size: x-small"> </span><span style="font-size: x-small">صلى  الله عليه وسلم</span></strong><br />
</span></p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">إِنَّمَا  اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ</span></h2>
<h3><span style="color: #0000ff"><em>“Sesungguhnya amalan itu  tergantung niatnya.” </em></span>(Muttafaqun ‘alaih dari  hadits ‘Umar  bin Al-Khaththab <span style="font-family: islamic_">z</span>)</h3>
<p>Juga hadits <span style="color: #008000"><span style="color: #008000"><strong>Hafshah رضي الله عنها</strong></span><span style="font-family: islamic_"> </span></span>, bersabda <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah <span style="font-size: x-small"> </span><span style="font-size: x-small">صلى  الله عليه وسلم</span></strong><br />
</span></p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">مَنْ  لَمْ يَجْمَعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ</span></h2>
<h3><span style="color: #0000ff"><em>“Barangsiapa yang tidak  berniat berpuasa sebelum fajar maka tidak ada  puasa baginya.” </em></span>(HR.  Ahmad dan Ashabus Sunan)</h3>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>Asy-Syaikh Muqbil رحمه  الله </strong></span> menyatakan bahwa hadits  ini mudhtharib (goncang)  walaupun sebagian ulama menghasankannya.<br />
Namun mereka mengatakan bahwa ini adalah pendapat <span style="color: #008000"><strong>Ibnu ‘Umar, Hafshah,  ‘Aisyah رضي الله عنهم</strong></span>,  dan tidak ada yang  menyelisihinya dari kalangan para shahabat.<br />
Persyaratan berniat puasa sebelum fajar dikhususkan pada puasa yang   hukumnya wajib, karena <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah   صلى الله  عليه وسلم</strong><span style="font-family: islamic_"> </span> </span>pernah  datang kepada <span style="color: #008000"><strong>‘Aisyah  <strong>رضي الله  عنها</strong></strong></span> pada selain bulan   Ramadhan lalu bertanya:</p>
<h3><em><span style="color: #0000ff">“Apakah kalian mempunyai  makan siang? Jika tidak  maka saya berpuasa.”</span></em> (HR. Muslim)</h3>
<p>Masalah ini dikuatkan pula dengan perbuatan <span style="color: #008000"><strong>Abud-Darda, Abu Thalhah, Abu  Hurairah, Ibnu  ‘Abbas dan Hudzaifah ibnul Yaman <strong>رضي  الله عنهم</strong></strong></span>.   Ini adalah pendapat jumhur.<br />
Para ulama juga berpendapat bahwa persyaratan niat tersebut dilakukan   pada setiap hari puasa karena malam Ramadhan memutuskan amalan puasa   sehingga untuk mengamalkan kembali membutuhkan niat yang baru. Wallahu   a’lam.<br />
Berniat ini boleh dilakukan kapan saja baik di awal malam,   pertengahannya maupun akhir. Ini pula yang dikuatkan oleh jumhur ulama. <span style="color: #0000ff"><strong>1)]</strong></span><br />
<span style="color: #008000"><strong>B).</strong></span> Menahan  diri dari setiap perkara yang membatalkan puasa dimulai dari  terbit  fajar hingga terbenamnya matahari.<br />
Telah diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim hadits   dari <span style="color: #008000"><strong>‘Umar bin Al-Khaththab  رضي الله عنه</strong></span> bahwa <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah <span style="font-size: x-small"> </span><span style="font-size: x-small">صلى  الله عليه وسلم</span></strong></span> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">إِذَا  أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَهُنَا وَأَدْرَكَ النَّهَارُ مِنْ هَهُنَا   وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ</span></h2>
<h3><em><span style="color: #0000ff">“Jika muncul malam dari  arah sini (barat) dan hilangnya siang dari arah  sini (timur) dan  matahari telah terbenam, maka telah berbukalah orang  yang berpuasa.” </span></em>(HR.  Al-Bukhari dan Muslim)</h3>
<p>Puasa dimulai dengan munculnya fajar. Namun kita harus hati-hati  karena  terdapat dua jenis fajar, yaitu fajar kadzib dan fajar shadiq.  Fajar  kadzib ditandai dengan cahaya putih yang menjulang ke atas  seperti ekor  serigala. Bila fajar ini muncul masih diperbolehkan makan  dan minum  namun diharamkan shalat Shubuh karena belum masuk waktu.</p>
<p>Fajar yang kedua adalah fajar shadiq yang ditandai dengan cahaya  merah  yang menyebar di atas lembah dan bukit, menyebar hingga ke  lorong-lorong  rumah. Fajar inilah yang menjadi tanda dimulainya  seseorang menahan  makan, minum dan yang semisalnya serta diperbolehkan  shalat Shubuh.<br />
Hal ini berdasarkan hadits <span style="color: #008000"><strong>Ibnu  ‘Abbas رضي الله عنه</strong></span> bahwa <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah <span style="font-size: x-small"> </span><span style="font-size: x-small">صلى الله عليه وسلم</span></strong></span> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><strong><span style="color: #0000ff">الْفَجْرُ فَجْرَانِ فَأَمَّا اْلأَوَّلُ فَإِنَّهُ لاَ يُحْرِمُ   الطَّعَامَ وَلاَ يُحِلُّ الصَّلاَةَ وَأَمَّا الثَّانِي فَإِنَّهُ   يُحْرِمُ الطَّعَامَ وَيُحِلُّ الصَّلاَةَ</span><span style="color: #0000ff"><br />
</span></strong></h2>
<p><em><strong><span style="color: #0000ff">“Fajar itu ada dua,  yang pertama tidak diharamkan makan dan tidak  dihalalkan shalat  (Shubuh). Adapun yang kedua (fajar) adalah yang  diharamkan makan (pada  waktu tersebut) dan dihalalkan shalat.”</span></strong></em> <strong>(HR.  Ibnu  Khuzaimah, 1/304, Al-Hakim, 1/304, dan Al-Baihaqi, 1/377)</strong></p>
<p>Namun para ulama menghukumi riwayat ini mauquf (hanya perkataan <span style="color: #008000"><strong>Ibnu  ‘Abbas رضي الله عنها</strong></span> dan bukan sabda Nabi ). Di antara mereka adalah Al-Baihaqi,   Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya (2/165), Abu Dawud dalam Marasil-nya   (1/123), dan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Tarikh-nya (3/58). Juga   diriwayatkan dari Tsauban dengan sanad yang mursal. Sementara   diriwayatkan juga dari hadits Jabir dengan sanad yang lemah.<br />
Wallahu a’lam.</p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>1)]</strong></span> Cukup dengan hati dan tidak dilafadzkan dan makan sahurnya seseorang   sudah menunjukkan dia punya niat berpuasa, red.</p>
<h2><span style="color: #ff00ff"><em>Yang Diwajibkan Berpuasa</em></span></h2>
<p>Orang yang wajib menjalankan puasa Ramadhan memiliki syarat-syarat   tertentu. Telah sepakat para ulama bahwa puasa diwajibkan atas seorang   muslim yang berakal, baligh, sehat, mukim, dan bila ia seorang wanita   maka harus bersih dari haidh dan nifas.<br />
Sementara itu tidak ada kewajiban puasa terhadap orang kafir, orang   gila, anak kecil, orang sakit, musafir, wanita haidh dan nifas, orang   tua yang lemah serta wanita hamil dan wanita menyusui.</p>
<p>Bila ada orang kafir yang berpuasa, karena puasa adalah ibadah di  dalam  Islam maka tidak diterima amalan seseorang kecuali bila dia  menjadi  seorang muslim dan ini disepakati oleh para ulama.<br />
Adapun orang gila, ia tidak wajib berpuasa karena tidak terkena beban   beramal. Hal ini berdasarkan hadits <span style="color: #008000">‘<strong>Ali  bin Abi Thalib رضي الله عنه </strong></span>bahwa <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah <span style="font-size: x-small"> </span><span style="font-size: x-small">صلى الله عليه وسلم</span></strong> <strong> </strong></span>bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">رُفِعَ  الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ  وَعَنِ  النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقَظَ وَعَنِ الصَّبِي حَتَّى يَحْتَلِمَ </span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><em>“Diangkat pena  (tidak dicatat) dari 3 golongan: orang gila sampai dia  sadarkan diri,  orang yang tidur hingga dia bangun dan anak kecil hingga  dia baligh.” </em></span>(HR.  Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)</strong><br />
Meski anak kecil tidak memiliki kewajiban berpuasa sebagaimana   dijelaskan hadits di atas, namun sepantasnya bagi orang tua atau wali   yang mengasuh seorang anak agar menganjurkan puasa kepadanya supaya   terbiasa sejak kecil sesuai kesanggupannya.<br />
Sebuah hadits diriwayatkan <span style="color: #008000"><strong>Ar-Rubayyi’  bintu Mu’awwidz رضي الله عنها</strong></span> :</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><em>“Utusan Rasulullah n  mengumumkan di pagi  hari ‘Asyura agar siapa di antara kalian yang  berpuasa maka hendaklah  dia menyempurnakannya dan siapa yang telah  makan maka jangan lagi dia  makan pada sisa harinya. Dan kami berpuasa  setelah itu dan kami  mempuasakan kepada anak-anak kecil kami. Dan kami  ke masjid lalu kami  buatkan mereka mainan dari wol, maka jika salah  seorang mereka menangis  karena (ingin) makan, kamipun memberikan  (mainan tersebut) padanya  hingga mendekati buka puasa.” </em></span>(HR.  Al-Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p>Sementara itu, bagi orang-orang lanjut usia yang sudah lemah (jompo),   orang sakit yang tidak diharapkan sembuh, dan orang yang memiliki   pekerjaan berat yang menyebabkan tidak mampu berpuasa dan tidak   mendapatkan cara lain untuk memperoleh rizki kecuali apa yang dia   lakukan dari amalan tersebut, maka bagi mereka diberi keringanan untuk   tidak berpuasa namun wajib membayar fidyah yaitu memberi makan setiap   hari satu orang miskin.<br />
Berkata <span style="color: #008000"><strong>Ibnu Abbas رضي الله  عنه</strong></span> :<br />
<strong><span style="color: #008000"><em>“Diberikan keringanan  bagi orang yang sudah tua untuk tidak berpuasa dan  memberi makan setiap  hari kepada seorang miskin dan tidak ada qadha  atasnya.” </em></span>(HR.  Ad-Daruquthni dan Al-Hakim dan dishahihkan oleh keduanya)</strong></p>
<p><em><br />
</em> <strong><em><span style="color: #008000">Anas bin Malik <span style="font-family: islamic_">z</span> tatkala sudah tidak  sanggup  berpuasa maka beliau memanggil 30 orang miskin lalu (memberikan  pada  mereka makan) sampai mereka kenyang.</span> </em>(HR. Ad-Daruquthni  2/207 dan  Abu Ya’la dalam Musnad-nya 7/204 dengan sanad yang shahih.  Lihat Shifat  Shaum An-Nabi, hal. 60)</strong><br />
Orang-orang yang diberi keringanan untuk tidak berpuasa namun wajib atas   mereka menggantinya di hari yang lain adalah musafir, dan orang yang   sakit yang masih diharap kesembuhannya yang apabila dia berpuasa   menyebabkan kekhawatiran sakitnya bertambah parah atau lama sembuhnya.<br />
<strong>Allah عز وجل</strong> berfirman:</p>
<p style="text-align: right">
<h2 style="text-align: right">فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا أَوْ  عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ  أَيَّامٍ أُخَرَ</h2>
<p><strong><em>“Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau  dalam perjalanan  lalu ia berbuka, maka wajib baginya berpuasa sebanyak  hari yang  ditinggalkan pada hari-hari yang lain.” </em>(Al-Baqarah:  184)</strong><br />
Demikian pula bagi wanita hamil dan menyusui yang khawatir terhadap   janinnya atau anaknya bila dia berpuasa, wajib baginya meng-qadha   puasanya dan bukan membayar fidyah menurut pendapat yang paling kuat   dari pendapat para ulama.<br />
Hal ini berdasar hadits <span style="color: #008000"><strong>Anas  bin Malik Al-Ka’bi رضي الله عنه</strong></span>,  bersabda <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah  صلى الله  عليه وسلم</strong><span style="font-family: islamic_"> </span></span>:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">إِنَّ  اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلاَةِ   وَالصَّوْمَ وَعَنِ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ</span></h2>
<h3><em><span style="color: #0000ff">“Sesungguhnya Allah telah  meletakkan setengah shalat dan puasa bagi  orang musafir dan (demikian  pula) bagi wanita menyusui dan yang hamil.” </span></em> (HR. An-Nasai,  4/180-181, Ibnu Khuzaimah, 3/268, Al-Baihaqi, 3/154, dan  dishahihkan  oleh Asy-Syaikh Al-Albani <span style="font-family: islamic_">t</span>)</h3>
<p><strong><span style="color: #ff0000"><em>Yang tidak wajib  berpuasa namun wajib meng-qadha (menggantinya) di hari  lain adalah  wanita haidh dan nifas.</em></span></strong></p>
<p>Telah terjadi kesepakatan di antara fuqaha bahwa wajib atas keduanya   untuk berbuka dan diharamkan berpuasa. Jika mereka berpuasa, maka dia   telah melakukan amalan yang bathil dan wajib meng-qadha.<br />
Di antara dalil atas hal ini adalah hadits <span style="color: #008000"><strong>Aisyah رضي الله عنها</strong></span>:</p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">كَانَ  يُصِيْبُنَا ذَلِكَ فَنُأْمَرُ بِقَضَاءِ الصِّيَامِ وَلاَ نُأْمَرُ   بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ</span></h2>
<h3><span style="color: #0000ff"><em>“Adalah kami mengalami  haidh lalu kamipun diperintahkan untuk meng-qadha  puasa dan tidak  diperintahkan meng-qadha shalat.” </em></span>(HR. Al-Bukhari dan   Muslim)</h3>
<h2><span style="color: #ff0000">Wallaahu A’lam Bishawab</span></h2>
<h3><span style="color: #ff0000"><span style="color: #ff00ff">Sumber:</span></span></h3>
<h3><a href="http://rumahbelajarku.wordpress.com/2010/07/26/hukum-ringkas-puasa-ramadhan/">http://rumahbelajarku.wordpress.com/</a></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/07/30/hukum-ringkas-puasa-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>“PANDUAN PUASA RAMADHAN”</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/07/30/%e2%80%9cpanduan-puasa-ramadhan%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/07/30/%e2%80%9cpanduan-puasa-ramadhan%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 06:15:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=737</guid>
		<description><![CDATA[


“PANDUAN  PUASA RAMADHAN DI BAWAH NAUNGAN AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH”﻿




HADIRILAH!!!
Kajian Pekan ke 5 di Masjid Al I’tisham  Jakarta
Bedah  Buku:
“PANDUAN  PUASA RAMADHAN DI BAWAH NAUNGAN AL-QUR’AN DAN  AS-SUNNAH”
Karya: Al Ustadz Dzulqarnain
Pembahas: Al Ustadz  Dzulqarnain
Hari/Tanggal : Sabtu, 31 Juli 2010
Waktu :09.00 wib –  Ashar.
Kontak Person :
Abu Bakar 021 9281 2630
Munir  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entrytext">
<p style="text-align: center"><img class="alignnone" src="http://i294.photobucket.com/albums/mm118/Scofieldtn/allah.gif" alt="" /></p>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full             wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<h2 style="text-align: center"><span style="color: #0000ff">“PANDUAN  PUASA RAMADHAN DI BAWAH NAUNGAN AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH”﻿</span></h2>
<p><span style="color: #0000ff"><a href="http://rumahbelajarku.files.wordpress.com/2010/07/panduan-puasa.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-840" src="http://rumahbelajarku.files.wordpress.com/2010/07/panduan-puasa.jpg?w=468&amp;h=684" alt="" width="468" height="684" /></a><br />
</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><a href="http://rumahbelajarku.files.wordpress.com/2010/07/panduan-puasa-ramadhan.jpg"><br />
</a></span></p>
<h2 style="text-align: center"><span style="color: #ff0000">HADIRILAH!!!</span></h2>
<h3 style="text-align: center">Kajian Pekan ke 5 di Masjid Al I’tisham  Jakarta<br />
Bedah  Buku:</h3>
<h2 style="text-align: center"><span style="color: #ff00ff">“PANDUAN  PUASA RAMADHAN DI BAWAH NAUNGAN AL-QUR’AN DAN  AS-SUNNAH”</span></h2>
<h3 style="text-align: center">Karya: Al Ustadz Dzulqarnain<br />
Pembahas: Al Ustadz  Dzulqarnain<br />
Hari/Tanggal : Sabtu, 31 Juli 2010<br />
Waktu :09.00 wib –  Ashar.</h3>
<h3 style="text-align: center">Kontak Person :<br />
Abu Bakar 021 9281 2630<br />
Munir  0812 1000 5551<br />
Abu Shafi 0811 916 896</h3>
<h3 style="text-align: center">Buku dapat di pesan melalui  Kontak  person di atas.</h3>
<h3><span style="color: #ff00ff">Peta Lokasi:</span></h3>
<h3 style="text-align: center"><a rel="nofollow" href="http://www.streetdirectory.co.id/indonesia/jakarta/?x=701217.8&amp;y=9313798.2&amp;l=9&amp;s=jkt" target="_blank">http://streetdirectory.co.id/indonesia/jakarta/?x=701217.8&amp;y=9313798.2&amp;l=9&amp;s=jkt</a></h3>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/07/30/%e2%80%9cpanduan-puasa-ramadhan%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Satu Celupan Menghapuskan Segalanya</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/07/21/satu-celupan-menghapuskan-segalanya/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/07/21/satu-celupan-menghapuskan-segalanya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 01:08:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<category><![CDATA[abu salafy 01]]></category>

		<category><![CDATA[aqidah]]></category>

		<category><![CDATA[hadits]]></category>

		<category><![CDATA[nashihat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=731</guid>
		<description><![CDATA[

Satu Celupan Menghapuskan Segalanya

Oleh : Ibnu Setiyadi Al Borneo
Amr an-Naqid menuturkan kepada kami. Dia berkata: Yazid bin Harun  menuturkan kepada kami. Dia berkata: Hammad bin Salamah memberitakan  kepada kami dari Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik, dia berkata:
Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Pada hari kiamat nanti akan  didatangkan penduduk neraka yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img class="alignnone" src="http://i294.photobucket.com/albums/mm118/Scofieldtn/allah.gif" alt="" /></p>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full            wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<h1 style="text-align: center"><span style="color: #0000ff">Satu Celupan Menghapuskan Segalanya</span></h1>
<p><a href="http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/files/2010/07/surga-dan-neraka.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-733" src="http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/files/2010/07/surga-dan-neraka.jpg" alt="" width="450" height="338" /></a></p>
<h1><em><span style="color: #008000">Oleh : Ibnu Setiyadi Al Borneo</span></em></h1>
<h3><span style="color: #008000">Amr an-Naqid menuturkan kepada kami. Dia berkata: Yazid bin Harun  menuturkan kepada kami. Dia berkata: Hammad bin Salamah memberitakan  kepada kami dari Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik, dia berkata:</span></h3>
<h3><em><span style="color: #0000ff">Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></em></h3>
<h3><em><span style="color: #0000ff">“Pada hari kiamat nanti akan  didatangkan penduduk neraka yang ketika di dunia adalah orang yang  paling merasakan kesenangan di sana. </span></em></h3>
<h3><em></em></h3>
<h3><em><span style="color: #0000ff"><span class="text_exposed_show">Kemudian dia dicelupkan di dalam  neraka sekali celupan, lantas ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam,  apakah kamu pernah melihat kebaikan sebelum ini? Apakah kamu pernah  merasakan kenikmatan sebelum ini?’. </span></span></em></h3>
<h3><em><span style="color: #0000ff"><span class="text_exposed_show">Maka dia menjawab, ‘Demi Allah,  belum pernah wahai Rabbku!’.</span></span></em></h3>
<h3><em></em></h3>
<h3><em><span style="color: #0000ff"><span class="text_exposed_show">Dan didatangkan pula seorang  penduduk surga yang ketika di dunia merupakan orang yang paling  merasakan kesusahan di sana kemudian dia dicelupkan ke dalam surga satu  kali celupan.</span></span></em></h3>
<h3><em></em></h3>
<h3><em><span style="color: #0000ff"><span class="text_exposed_show"> Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam,  apakah kamu pernah melihat kesusahan sebelum ini? Apakah kamu pernah  merasakan kesusahan sebelum ini?’. Maka dia menjawab, ‘Demi Allah, belum  pernah wahai Rabbku, aku belum pernah merasakan kesusahan barang  sedikit pun. </span></span></em></h3>
<h3><em><span style="color: #0000ff"><span class="text_exposed_show">Dan aku juga tidak pernah melihat kesulitan sama  sekali’.” (HR. Muslim dalam Kitab Shifat al-Qiyamah wa al-Jannah wa  an-Naar)</span></span></em></h3>
<p><span id="more-731"></span><br />
Hadits yang agung ini menyimpan banyak pelajaran berharga, di  antaranya :<br />
<span class="text_exposed_show"><br />
1. Iman kepada hari kiamat dan meyakini  bahwa dunia adalah sementara.</span></p>
<p>2. Iman akan adanya kebangkitan  setelah kematian.</p>
<p>3. Iman bahwasanya setiap orang akan mendapatkan  pembalasan atas amalnya di dunia, apabila baik maka baik pula  balasannya demikian pula sebaliknya.</p>
<p>4. Iman kepada surga dan  neraka dan bahwasanya surga merupakan negeri kebahagiaan dan neraka  adalah negeri kesengsaraan.</p>
<p>5. Kenikmatan dan kesusahan di dunia  tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan apa yang terjadi di  akhirat.</p>
<p>6. Hadits ini menunjukkan bahwa kesenangan dunia  bukanlah tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.</p>
<p>7. Hadits ini  menunjukkan bahwa bisa jadi orang-orang kafir itu hidup dalam keadaan  serba mewah dan nikmat di dunia namun di akhirat mereka tidak  mendapatkan apa-apa kecuali siksa di neraka, wal ‘iyadzu billah.</p>
<p>8.  Hadits ini menunjukkan bahwa setiap orang yang meninggal dalam keadaan  beriman meskipun imannya hanya sebesar biji sawi maka ia pasti masuk ke  dalam surga.</p>
<p>9. Hadits ini menunjukkan bahwa Adam ‘alaihis salam  adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah ta’ala.</p>
<p>10.  Hadits ini menunjukkan bahwa kenikmatan yang ada di surga bukan main  nikmatnya sehingga sekali celupan saja bisa melupakan segala kesusahan  hidup di dunia.</p>
<p>11. Hadits ini menunjukkan bahwa kesengsaraan di  neraka bukan main mengerikan dan menyakitkan sehingga sekali celupan di  dalamnya bisa melupakan segala tetek bengek kesenangan dunia entah yang  berwujud harta, kedudukan atau yang lainnya.</p>
<p>12. Hadits ini  menunjukkan bolehnya bersumpah untuk menekankan sesuatu tanpa diminta  sebelumnya.</p>
<p>13. Hadits ini menunjukkan bahwa bersumpah adalah  dengan nama Allah bukan dengan nama makhluk.</p>
<p>14. Hadits ini juga  menunjukkan penetapan sifat rububiyah Allah.</p>
<p>15. Hadits ini  menunjukkan keadilan Allah kepada hamba-hamba-Nya.</p>
<p>16. Kesenangan  dan kesusahan di dunia adalah hal yang biasa, namun yang terpenting  adalah bagaimana cara menyikapinya; apakah dengan kesusahan itu dia  bersabar dan apakah dengan kesenangan itu dia mau bersyukur kepada-Nya  atau tidak.</p>
<p>17. Dunia adalah negeri cobaan dan tempat untuk  beramal sedangkan akhirat adalah negeri pembalasan.</p>
<p>18. Iman  kepada perkara gaib dan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam berbicara dengan wahyu dari Allah ta’ala.</p>
<p>19. Hadits ini  menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  benar-benar utusan Allah untuk manusia.</p>
<p>20. Hadits ini merupakan  mukjizat yang dimiliki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana beliau  mengabarkan sesuatu yang belum terjadi di dunia.</p>
<p>21. Di dalamnya  juga terkandung khauf (takut) dan roja’ (harap).Takut akan neraka dan  berharap untuk masuk ke dalam surga.</p>
<p>22. Hadits ini juga  menunjukkan betapa lemahnya akal manusia sehingga gara-gara sebuah  kejadian saja dia bisa melupakan segala-galanya.</p>
<p>23. Hadits ini  menunjukkan bahwa keadaan yang sangat menyenangkan bisa membuat orang  lupa akan kesusahan yang pernah dialaminya.</p>
<p>24. Hadits ini juga  menunjukkan bahwa kesusahan dan kesulitan yang amat sangat dapat membuat  orang lupa akan kesenangan yang pernah dirasakannya.</p>
<p>25. Hadits  ini juga menunjukkan bahwa kesenangan dunia ini adalah kesenangan yang  semu dan menipu.</p>
<p>26. Hadits ini juga menunjukkan bahwa kesenangan  di surga adalah kesenangan yang sejati dan hakiki.</p>
<p>27. Hadits ini  juga mengandung dorongan bagi para mujahid untuk bersungguh-sungguh  dalam berperang di jalan-Nya tanpa perlu merasa khawatir akan luka yang  akan mereka derita.</p>
<p>28. Hadits ini juga mengandung dorongan kepada  para da’i agar terus mengajak manusia ke jalan-Nya meskipun orang-orang  sedemikian keras memusuhi dakwahnya.</p>
<p>29. Hadits ini juga  mengandung dorongan kepada para penuntut ilmu agar bersungguh-sungguh  dalam menuntut ilmu meskipun banyak hambatan yang dijumpainya karena  sesungguhnya menuntut ilmu agama merupakan jalan menuju surga.</p>
<p>30.  Hadits ini juga mengandung dorongan bagi anak agar bersungguh-sungguh  dalam berbakti kepada orang tuanya karena ridha Allah terletak pada  ridha kedua orang tuanya.</p>
<p>31. Hadits ini juga mengandung dorongan  kepada para isteri untuk berbakti kepada suaminya karena keridhaan suami  kepadanya merupakan salah satu sebab masuk ke dalam surga.</p>
<p>32.  Hadits ini juga mengandung peringatan kepada orang-orang yang menyimpan  kesombongan di dalam dirinya karena kesombongan merupakan sebab masuk ke  dalam neraka</p>
<p>33. Hadits ini juga mengandung peringatan yang  sangat keras bagi para penyeru kekafiran semacam Jaringan Islam Liberal  dan sebagainya karena kekafiran mereka pada akhirnya akan menyeret  mereka ke dalam neraka.</p>
<p>34. Hadits ini juga mengandung ancaman  bagi para pelaku maksiat agar tidak meneruskan maksiat dan segera  bertaubat dengan tulus kepada Allah ta’ala karena maksiat akan  mendatangkan murka-Nya.</p>
<p>35. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan  mempelajarai tauhid dan mengetahui seluk beluk syirik dan kekafiran</p>
<p>36.  Hadits ini juga mengandung peringatan kepada orang-orang munafik yang  di dunia menampakkan diri sebagai orang yang mendukung Islam namun pada  hakikatnya mereka ingin menghancurkan Islam dari dalam, sebab orang  munafik adalah penghuni kerak neraka yang paling bawah.</p>
<p>37. Hadits  ini menunjukkan bahwa kenikmatan yang ada di surga itu  bertingkat-tingkat.</p>
<p>38. Hadits ini juga menunjukkan bahwa siksa di  dalam neraka juga bertingkat-tingkat.</p>
<p>39. Hadits ini menunjukkan  bahwa Rasulullah diutus untuk memberikan kabar gembira dan sebagai  pemberi peringatan (lihat QS. al-Furqan : 56).</p>
<p>40. Dan faidah  lainnya yang belum saya ketahui, wallahu a’lam.</p>
<p><span class="text_exposed_show">Wa shallallahu ‘ala  Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam, walhamdu  lillahi Rabbil ‘alamin.<br />
<span style="color: #008000"><br />
</span></span></p>
<h2><span style="color: #008000"><span class="text_exposed_show">Wallahu A&#8217;lam Bishawab </span></span></h2>
<h3><span style="color: #ff00ff">Sumber:</span></h3>
<h3><span style="color: #ff00ff"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000040029818&amp;v=wall&amp;story_fbid=139117489451610&amp;ref=notif&amp;notif_t=feed_comment_reply">http://www.facebook.com/profile.php?id=100000040029818</a></span></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/07/21/satu-celupan-menghapuskan-segalanya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
