<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>HIDUPKAN SUNNAH HANCURKAN BID'AH</title>
	<atom:link href="http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws</link>
	<description>Just another Salafy.ws weblog</description>
	<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 15:51:42 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>KITABUT TAUHID (BAB 9) MENGHARAPKAN BERKAH DARI PEPOHONAN, BEBATUAN ATAU YANG SEJENISNYA</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/03/10/kitabut-tauhid-bab-9-mengharapkan-berkah-dari-pepohonan-bebatuan-atau-yang-sejenisnya/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/03/10/kitabut-tauhid-bab-9-mengharapkan-berkah-dari-pepohonan-bebatuan-atau-yang-sejenisnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 13:37:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[AGAMA]]></category>

		<category><![CDATA[Kitab Tauhid]]></category>

		<category><![CDATA[abu salafy 01]]></category>

		<category><![CDATA[aqidah]]></category>

		<category><![CDATA[fiqh]]></category>

		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=523</guid>
		<description><![CDATA[

Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 كتاب التوحيد
BAB 9
 MENGHARAPKAN BERKAH DARI PEPOHONAN, BEBATUAN ATAU YANG SEJENISNYA


Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy 


Firman الله تعالى
 أفرأيتم اللات والعزى ومناة الثالثة الأخرى ألكم الذكر وله الأنثى تلك إذا قسمة ضيزا إن هي إلا أسماء سميتموها أنتم وآباءكم ما أنزل الله بها من سلطان [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img class="aligncenter" src="http://i294.photobucket.com/albums/mm118/Scofieldtn/allah.gif" alt="" /></p>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<h3><span style="color: #008000"><strong>Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 </strong><strong>كتاب التوحيد</strong></span></h3>
<h3><span style="color: #000000"><big><big>BAB 9</big></big></span></h3>
<h3><big><big> <span style="color: #ff0000">MENGHARAPKAN BERKAH DARI PEPOHONAN, BEBATUAN ATAU YANG SEJENISNYA</span></big></big></h3>
<div class="UIComposer_InputArea_Base UIComposer_InputArea">
<div class="UIComposer_InputShadow ">
<h2 class="Mentions_Input" style="width: 512px"><span style="color: #800000">Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy </span></h2>
</div>
</div>
<p><span style="color: #000000"><strong><big><span style="color: #800000">F</span>irman الله تعالى</big></strong></span></p>
<h3><big><span style="color: #000000"> أفرأيتم اللات والعزى ومناة الثالثة الأخرى ألكم الذكر وله الأنثى تلك إذا قسمة ضيزا إن هي إلا أسماء سميتموها أنتم وآباءكم ما أنزل الله بها من سلطان إن يتبعون إلا الظن وما تهوى الأنفس ولقد جاءهم من ربهم الهدى </span></big></h3>
<p><strong><big><span style="color: #000000"> “Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Latta dan al-Uzza dan Mannat yang ketiga, <span style="color: #0000ff">([27])</span>. Apakah ( patut ) untuk kamu ( anak ) laki- laki dan untuk Allah (anak ) perempuan ? yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang diada-adakan oleh kamu dan bapak-bapak kamu; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka; padahal sesungguhnya tidak datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan mereka.” ( QS. An najm, 19 – 23 )</span> </big></strong> <span id="more-523"></span> <big> <span style="color: #008000"><strong>Abi Waqid Al Laitsi </strong></span> <span style="color: #008000"><strong>رضي الله عنه</strong></span> <span style="color: #000000">menuturkan :</span></big> <span style="color: #000000"><big>“Suatu saat kami keluar bersama Rasulullah menuju Hunain, sedangkan kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk Islam), disaat itu orang-orang musyrik memiliki sebatang pohon bidara yang dikenal dengan <strong>dzatu anwath</strong>, mereka selalu mendatanginya dan menggantungkan senjata-senjata perang mereka pada pohon tersebut, disaat kami sedang melewati pohon bidara tersebut, kami berkata :<span style="color: #ff0000"><em><strong>“Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami dzat anwath sebagaimana mereka memilikinya.&#8221;</strong></em></span> Maka <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم</strong></span> menjawab :</big></span> <big></big></p>
<h3><big> <span style="color: #0000ff">الله أكبر إنها السنن، قلتم والذي نفسي بيده كما قالت بنو أسرائيل لموسى ]اجعل لنا إلها كما لهم ءالهة، قال إنكم قوم تجهلون<strong> [ لتركبن سنن من كان قبلهم رواه الترمذي وصححه</strong></span></big></h3>
<p><big> <strong><span style="color: #0000ff"> “Allahu Akbar, itulah tradisi/adat (orang orang sebelum kalian) demi Allah yang jiwaku ada di tangan-NYA, kalian benar-benar telah mangatakan suatu perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa :“Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan", Musa menjawab : "Sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti (faham) kalian pasti akan mengikuti tradisi/adat orang orang sebelum kalian.”</span><span style="color: #000000">(HR. Turmudzi, dan dinyatakan shahih olehnya)</span></strong></big> <big></big></p>
<h4><big> <span style="color: #ff0000">Kandungan dalam bab ini :</span></big></h4>
<p><span style="color: #ff0000"><big> 1-Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat An Najm. <span style="color: #0000ff"><strong>([28]).</strong></span></big></span> <big><span style="color: #ff0000">2-Mengetahui bentuk permintaan mereka. </span><span style="color: #0000ff"><strong>([29])</strong></span></big> <span style="color: #ff0000"><big>3-Mereka belum melakukan apa yang mereka minta.</big></span> <span style="color: #ff0000"><big>4-Mereka melakukan itu semua untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah, karena mereka beranggapan bahwa Allah menyukai perbuatan itu.</big></span> <big><span style="color: #ff0000">5-</span><strong><span style="color: #ff0000">Apabila mereka (generasi terbaik dari ummat Islam) tidak mengerti hal ini, maka selain mereka  lebih tidak mengerti lagi.</span></strong></big> <span style="color: #ff0000"><big>6-Mereka memiliki kebaikan-kebaikan dan jaminan maghfirah  (untuk diampuni) yang tidak dimiliki oleh orang-orang selain mereka.</big></span> <big><span style="color: #ff0000">7-</span><span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم</strong></span> <span style="color: #ff0000">tidak menerima argumentasi mereka, bahkan menyanggahnya dengan sabdanya:</span> <span style="color: #0000ff"><strong>“Allahu Akbar, sungguh itu adalah tradisi orang-orang sebelum kalian dan kalian akan mengikuti mereka”.</strong></span> <span style="color: #ff0000">Beliau bersikap keras dan tegas terhadap permintaan mereka itu dengan ketiga kalimat ini.</span></big> <span style="color: #ff0000"><big>8-Satu hal yang sangat penting adalah pemberitahuan dari </big></span><span style="color: #ff0000"><big><span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم</strong></span></big></span><span style="color: #ff0000"><big> bahwa permintaan mereka itu persis seperti permintaan bani israil kepada nabi Musa : <em><strong>“Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan sesembahan …”</strong></em></big></span> <big><span style="color: #ff0000">9-Pengingkaran terhadap hal tersebut adalah termasuk diantara pengertian</span> <span style="color: #0000ff"><strong>لا إله إلا الله</strong></span> </big><span style="color: #ff0000"><big>yang sebenarnya, yang belum</big></span><span style="color: #ff0000"><big> difahami oleh mereka yang baru masuk Islam.</big></span> <big>10-</big><span style="color: #ff0000"><big><span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم</strong></span></big></span><span style="color: #ff0000"><big> menggunakan sumpah dalam menyampaikan petunjuknya, dan beliau tidak berbuat demikian kecuali untuk kemaslahatan.</big></span> <span style="color: #ff0000"><big>11-Syirik itu ada yang besar dan ada yang kecil, buktinya mereka tidak dianggap murtad dengan permintaannya itu.</big></span> <big><span style="color: #ff0000">12-Perkataan mereka <em><strong>“…sedang kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk islam) …”</strong></em> menunjukan bahwa para sahabat yang lain mengerti bahwa perbuatan mereka termasuk syirik.</span></big> <span style="color: #ff0000"><big>13-Diperbolehkan bertakbir ketika merasa heran, atau mendengar sesuatu yang tidak patut diucapkan dalam agama, berlainan dengan pendapat orang yang menganggapnya makruh.</big></span> <span style="color: #ff0000"><big>14-Diperintahkan menutup pintu yang menuju ke-syirik-an.</big></span> <span style="color: #ff0000"><big>15-Dilarang meniru dan melakukan suatu perbuatan yang menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyah.</big></span> <span style="color: #ff0000"><big>16-Boleh marah ketika menyampaikan pelajaran.</big></span> <big><span style="color: #ff0000">17-Kaidah umum, bahwa diantara umat ini ada yang mengikuti tradisi-tradisi umat sebelumnya, berdasarkan Sabda Nabi:</span> <span style="color: #0000ff"><strong>“itulah tradisi orang orang sebelum kamu … ”</strong></span></big> <big><span style="color: #ff0000">18-Ini adalah salah satu dari tanda  kenabian</span> <span style="color: #0000ff"><strong>Nabi Muhammad,</strong></span> <span style="color: #ff0000">karena terjadi sebagaimana  yang beliau ceritakan.</span></big> <span style="color: #ff0000"><big>19-Celaan Allah yang ditujukan kepada orang yahudi dan nasrani, yang terdapat dalam Al qur’an berlaku juga untuk kita.</big></span> <span style="color: #ff0000"><big>20-Sudah menjadi ketentuan umum dikalangan para sahabat, bahwa ibadah itu harus berdasarkan perintah Allah [bukan mengikuti keinginan, pikiran atau hawa nafsu sendiri]. Dengan demikian, hadits tersebut di atas mengandung suatu isyarat tentang hal hal yang akan ditanyakan kepada manusia di alam kubur. Adapun <em><strong>“Siapakah Rabbmu ?”</strong></em>, sudah jelas; sedangkan <em><strong>“Siapakah Nabimu ?”</strong></em> berdasarkan keterangan masalah-masalah ghaib yang beliau beritakan akan terjadi; dan <em><strong>“apakah agamamu ?”</strong></em> berdasarkan pada ucapan mereka : <em><strong>“buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sesembahan sesembahan … ”</strong></em></big></span> <span style="color: #ff0000"><big>21-Tradisi orang-orang ahli kitab itu tercela seperti tradisinya orang-orang musyrik.</big></span> <big><span style="color: #ff0000">22-Orang yang baru saja pindah dari tradisi-tradisi batil yang sudah menjadi kebiasaan dalam dirinya, tidak bisa dipastikan secara mutlak bahwa dirinya terbebas dari sisa-sisa tradisi tersebut, sebagai buktinya mereka mengatakan : <em><strong>“kami baru saja masuk islam”</strong></em> dan merekapun belum terlepas dari tradisi tradisi kafir, karena kenyataannya mereka meminta dibuatkan </span><span style="color: #000000"><strong>Dzatu Anwath</strong></span> <span style="color: #ff0000">sebagaimana yang dipunyai oleh kaum musyrikin.</span> </big> <span style="color: #ff00ff">FOOTNOTES:</span> <strong><span style="color: #0000ff">([27])</span></strong> <span style="color: #ff00ff">Al-Lata, al-Uzza dan Mannat adalah nama berhala berhala yang dipuja orang arab jahiliyah dan dianggapnya sebagai anak anak perempuan Allah.</span> <span style="color: #0000ff"><strong>([28])</strong></span> <span style="color: #ff00ff">Dalam ayat ini, Allah I menyangkal tindakan kaum musyrikin yang tidak rasional, karena mereka menyembah ketiga berhala tersebut yang tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak pula dapat menolak madlarat. Dan Allah mencela tindakan dzalim mereka dengan memilih untuk diri mereka jenis yang baik dan memberikan untuk Allah jenis yang buruk dalam anggapan mereka. Tindakan mereka itu semua hanyalah berdasarkan sangkaan sangkaan dan hawa nafsu, tidak berdasarkan pada tuntunan para Rasul yang mengajak umat manusia untuk beribadah hanya kepada Allah dan tidak beribadah kepada selain-Nya.</span> <span style="color: #0000ff"><strong>([29])</strong></span> <span style="color: #ff00ff">Yaitu : mereka meminta dibuatkan</span> <span style="color: #000000"><strong>Dzatu Anwath</strong></span><span style="color: #ff00ff"> s</span><span style="color: #ff00ff">ebagaimana yang dimiliki oleh kaum musyrikin, untuk diharapkan berkahnya.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/03/10/kitabut-tauhid-bab-9-mengharapkan-berkah-dari-pepohonan-bebatuan-atau-yang-sejenisnya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KITABUT TAUHID (BAB 8) RUQYAH DAN TAMIMAH</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/03/03/kitabut-tauhid-bab-8-ruqyah-dan-tamimah/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/03/03/kitabut-tauhid-bab-8-ruqyah-dan-tamimah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 15:08:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[AGAMA]]></category>

		<category><![CDATA[Kitab Tauhid]]></category>

		<category><![CDATA[abu salafy 01]]></category>

		<category><![CDATA[aqidah]]></category>

		<category><![CDATA[fiqh]]></category>

		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[

Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 كتاب التوحيد


BAB 8
 
RUQYAH DAN TAMIMAH
Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy 
 
Diriwayatkan dalam shahih Bukhary dan Muslim bahwa Abu Basyir Al Anshori رضي الله عنه  bahwa dia pernah bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم  dalam suatu perjalanan, lalu beliau mengutus seorang utusan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img class="aligncenter" src="http://i294.photobucket.com/albums/mm118/Scofieldtn/allah.gif" alt="" /></p>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<h3><span style="color: #008000"><strong>Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 </strong><strong>كتاب التوحيد</strong></span></h3>
<p><span style="color: #000000"><big><big><br />
</big></big></span></p>
<h3><big><big>BAB 8</big></big></h3>
<h3><big><big> </big></big></h3>
<h3><span style="color: #ff0000"><big><big>RUQYAH DAN TAMIMAH</big></big></span></h3>
<h2 class="Mentions_Input" style="width: 512px"><span><span style="color: #800000">Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy </span></span></h2>
<p><big><big> </big></big></p>
<p><span style="color: #000000"><big>Diriwayatkan dalam shahih Bukhary dan Muslim bahwa <span style="color: #008000"><strong>Abu Basyir Al Anshori رضي الله عنه</strong></span> </big></span><big></big><big><span style="color: #000000"> bahwa dia pernah bersama</span></big><big><span style="color: #000000"> <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم</strong></span> </span></big><big><span style="color: #000000"> dalam suatu perjalanan, lalu</span></big><big><span style="color: #000000"> beliau mengutus seorang utusan untuk menyampaikan pesan :</span></big></p>
<p><big></big></p>
<h2><big><span style="color: #0000ff"> ” أن لا يبقين في رقبة بعير قلادة من وتر أو قلادة إلا قطعت “</span></big></h2>
<p><big><br />
<span style="color: #0000ff"><strong> “Agar tidak terdapat lagi dileher onta  kalung dari tali busur panah atau kalung apapun harus diputuskan.&#8221;</strong></span></big></p>
<p><span id="more-498"></span></p>
<p><big><span style="color: #008000"><strong>Ibnu Mas’ud رضي الله عنه</strong></span> <span style="color: #000000">menuturkan : aku telah mendengar </span><span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah </strong><strong>صلى </strong><strong>الله </strong><strong>عليه </strong><strong>وسلم <span style="color: #000000"> </span></strong></span><span style="color: #000000">bersabda </span>:</big></p>
<h2><big><strong><span style="color: #0000ff">إن الرقى والتمائم والتولة شرك رواه أحمد وأبو داود</span></strong></big></h2>
<p><big><strong><span style="color: #0000ff">“Sesungguhnya Ruqyah, Tamimah dan Tiwalah adalah  syirik.”</span>(HR. Ahmad dan Abu Dawud )</strong></big></p>
<p><span style="color: #000000"><big><strong>TAMIMAH</strong> adalah sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak untuk menangkal dan menolak penyakit ‘ain. Jika yang dikalungkan itu berasal dari ayat-ayat Al Qur’an, sebagian ulama salaf memberikan keringanan dalam hal ini ; dan sebagian yang lain tidak memperbolehkan dan melarangnya, diantaranya</big></span><big> </big><strong><big><span style="color: #008000">Ibnu Mas&#8217;ud Radhiyallahu &#8216;Anh</span> <span style="color: #0000ff">([24])</span></big></strong></p>
<p><big><br />
<span style="color: #000000"><strong>RUQYAH</strong> <span style="color: #0000ff"><strong>([25])</strong></span> yaitu : Pembacaan doa2 yg barsandar pada Kitabullah. Ini diperbolehkan apabila penggunaannya bersih dari hal hal syirik, karena <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم</strong></span> telah memberikan keringanan dalam hal ruqyah ini untuk mengobati ‘ain atau sengatan kalajengking.<br />
</span><br />
<span style="color: #000000"><br />
<strong>TIWALAH</strong> adalah sesuatu yang dibuat dengan anggapan bahwa hal tersebut dapat menjadikan seorang istri mencintai suaminya, atau seorang suami mencintai istrinya.</span></big></p>
<p><big><span style="color: #000000">Dalam hadits marfu’ dari</span> <span style="color: #008000"><strong>Abdullah bin ‘Ukaim رضي الله عنه</strong></span> <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah  صلى الله عليه وسلم</strong></span> <span style="color: #000000">bersabda :</span></big></p>
<p><big></big></p>
<h2><big><span style="color: #0000ff">” من تعلق شيئا وكل إليه ” رواه أحمد والترمذي</span></big></h2>
<p><big><span style="color: #0000ff"><br />
</span> <strong><span style="color: #0000ff">“Barang siapa yang menggantungkan sesuatu (dengan anggapan bahwa barang tersebut bermanfaat atau dapat melindungi dirinya) maka Allah akan menjadikan orang tersebut selalu bergantung kepadanya.”</span><span style="color: #000000">(HR. Ahmad dan At Turmudzi )</span></strong></big></p>
<p><big><span style="color: #000000"><strong>Imam Ahmad</strong></span> <span style="color: #000000">meriwayatkan dari</span> <span style="color: #008000"><strong>Ruwaifi’ رضي الله عنه</strong></span> <strong><span style="color: #0000ff">Rasulullah  صلى الله عليه وسلم</span></strong> <span style="color: #000000">pernah bersabda kepadanya :</span></big></p>
<p><big></big></p>
<h2><big> <span style="color: #0000ff">” يا رويفع، لعل الحياة تطول بك، فأخبر الناس أن من عقد لحيته، أو تقلد وترا، أو استنجى برجيع دابة أو عظم، فإن محمدا بريء منه “</span></big></h2>
<p><big><br />
<span style="color: #0000ff"><strong>“Hai Ruwaifi’, semoga engkau berumur panjang, oleh karena itu sampaikanlah kepada orang orang bahwa barang siapa yang menggulung jenggotnya, atau memakai kalung dari tali busur panah, atau bersuci dari buang air dengan kotoran binatang atau tulang, maka sesungguhnya Muhammad berlepas diri dari orang tersebut”.</strong></span></big></p>
<p><span style="color: #000000"><big><br />
<strong>Waki’</strong> meriwayatkan bahwa</big></span><big> <span style="color: #008000"><strong>Said bin Zubair رضي الله عنه</strong></span> berkata :</big></p>
<p><span style="color: #008000"><big><strong><br />
“Barang siapa yang memotong tamimah dari seseorang maka tindakannya itu  sama dengan  memerdekakan seorang budak.”</strong></big></span></p>
<p><span style="color: #000000"><big>Dan waki’ meriwayatkan pula bahwa Ibrahim (An Nakho’i) berkata :</big></span><big> <strong><span style="color: #008000">“mereka (para sahabat) membenci segala jenis tamimah, baik dari ayat ayat Al Qur’an maupun bukan dari ayat ayat Al Qur’an.”</span></strong></big></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big><br />
</big></span><big></big></p>
<h3><big><span style="color: #ff0000"> Kandungan bab ini :</span></big></h3>
<p><span style="color: #ff0000"><big><span><br />
1-Pengertian ruqyah dan tamimah.</span></big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>2-Pengertian tiwalah.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>3-Ketiga hal diatas merupakan bentuk syirik dengan tanpa pengecualian.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>4-Adapun ruqyah dengan menggunakan ayat ayat Al Qur’an atau do’a-do’a yang telah diajarkan oleh <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم</strong></span> untuk mengobati penyakit ‘ain, sengatan serangga atau yang lainnya, maka tidak termasuk syirik.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>5-Jika tamimah itu terbuat dari ayat-ayat Al Qur’an, dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, apakah termasuk ruqyah yang diperbolehkan atau tidak?</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>6-Mengalungkan tali busur panah pada leher binatang untuk mengusir penyakit ‘ain, termasuk syirik juga.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>7-Ancaman berat bagi orang yang mengalungkan tali busur panah dengan maksud dan tujuan diatas.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>8-Besarnya pahala bagi orang yang memutus tamimah dari tubuh seseorang.</big></span></p>
<p><big><span style="color: #ff0000">9-</span><span style="color: #ff0000">Kata-kata Ibrahim An Nakhoi tersebut di atas, tidaklah bertentangan dengan perbedaan pendapat yang telah disebutkan, sebab yang dimaksud Ibrahim di sini adalah sahabat sahabat </span><span style="color: #008000"><strong>Abdullah bin Mas’ud</strong></span> </big><strong><big><span style="color: #008000">Radhiyallahu &#8216;Anh</span> </big></strong><big> <span style="color: #0000ff"><strong>([26]).</strong></span></big></p>
<p><span style="color: #ff00ff">FOOTNOTES:</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><span style="color: #0000ff"><strong>([24])</strong></span> Tamimah dari ayat Al Qur’an dan Al Hadits lebih baik ditinggalkan, karena tidak ada dasarnya dari syara’ ; bahkan hadits yang melarangnya bersifat umum, tidak seperti halnya ruqyah, ada hadits lain yang membolehkan. Di samping itu apabila dibiarkan atau diperbolehkan akan membuka peluang untuk menggunakan tamimah yang haram.</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><span style="color: #0000ff"><strong>([25])</strong></span> Ruqyah : penyembuhan suatu penyakit dengan pembacaan ayat ayat suci Al Qur’an, atau doa doa.</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><span style="color: #0000ff">([26]) </span>Sahabat Abdullah bin Mas’ud antara lain : Alqomah, Al Aswad, Abu Wail, Al Harits bin Suwaid, ‘Ubaidah As Salmani, Masruq, Ar Rabi’ bin Khaitsam, Suwaid bin ghoflah. Mereka ini adalah tokoh generasi tabiin.</span></p>
<p><span style="color: #000000"><big><big><br />
</big></big><strong><big>والله أعـلــم</big></strong></span><br />
<big><big><br />
</big></big></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/03/03/kitabut-tauhid-bab-8-ruqyah-dan-tamimah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KITABUT TAUHID (BAB 7) MEMAKAI GELANG DAN SEJENISNYA</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/02/15/kitabut-tauhid-bab-7-memakai-gelang-dan-sejenisnya/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/02/15/kitabut-tauhid-bab-7-memakai-gelang-dan-sejenisnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 09:15:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[AGAMA]]></category>

		<category><![CDATA[Kitab Tauhid]]></category>

		<category><![CDATA[abu salafy 01]]></category>

		<category><![CDATA[aqidah]]></category>

		<category><![CDATA[fiqh]]></category>

		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=476</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم

Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 كتاب التوحيد


BAB 7

MEMAKAI GELANG DAN SEJENISNYA UNTUK MENANGKAL BAHAYA ADALAH PERBUATAN SYIRIK  ([20]).
Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy 
Firman الله تعالى


 ] قل أفرأيتم ما تدعون من دون الله إن أرادني الله بضر هل هن كاشفات ضره أو أرادني برحمة هل هن [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><strong><strong><span style="font-size: x-large;color: #0000ff">بسم الله الرحمن الرحيم</span></strong></strong></h1>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<h3><span style="color: #008000"><strong>Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 </strong><strong>كتاب التوحيد</strong></span></h3>
<h3><big><big><br />
</big></big></h3>
<p><big><big><span style="color: #000000"><strong>BAB 7</strong></span><br />
<span style="color: #ff0000"><br />
<strong>MEMAKAI GELANG DAN SEJENISNYA UNTUK MENANGKAL BAHAYA ADALAH PERBUATAN SYIRIK</strong> </span> <span style="color: #0000ff"><strong>([20]).</strong></span></big></big></p>
<h2 class="Mentions_Input" style="width: 512px"><span><span style="color: #800000">Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy </span></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><big><strong>Firman الله تعالى</strong></big></span><big><br />
<span style="color: #000000"><strong><br />
</strong></span></big></p>
<h3><span style="color: #000000"><strong><big> ] قل أفرأيتم ما تدعون من دون الله إن أرادني الله بضر هل هن كاشفات ضره أو أرادني برحمة هل هن ممسكات رحمته قل حسبي الله عليه يتوكل المتوكلون [</big></strong></span></h3>
<p><span style="color: #000000"><strong><big><br />
“Katakanlah (hai Muhammad kepada orang-orang musyrik) : terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemadhoratan kepadaku, apakah berhala berhala itu dapat menghilangkan kemadhorotan itu ? Atau jika Allah menghendaki untuk melimpahkan suatu rahmat kepadaku apakah mereka mampu menahan rahmatNya ? Katakanlah: cukuplah Allah bagiku, hanya kepada-Nyalah orang orang yang berserah diri bertawakkal.” (QS. Az zumar, 38 )</big></strong></span></p>
<p><span id="more-476"></span></p>
<p><big> <strong><span style="color: #008000">Imron bin Husain رضي الله عنه</span></strong> <span style="color: #000000">menuturkan bah</span></big><big><span style="color: #000000">wa</span> <strong><span style="color: #0000ff">Rasulullah صلى الله عليه وسلم</span></strong> <span style="color: #000000">melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan, kemudian beliau bertanya :</span></big></p>
<p><big></big></p>
<h3><big><span style="color: #0000ff">" ما هذه ؟، قال : من الواهنة، فقال : انزعها فإنها لا تزيدك إلا وهنا، فإنك لو مت وهي عليك ما أفلحت أبدا "</span></big></h3>
<p><big><span style="color: #0000ff"><br />
<strong>“Apakah itu ?”, orang laki-laki itu menjawab : “gelang penangkal penyakit”, lalu Nabi bersabda : “lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya</strong>.”( HR. Ahmad dengan sanad yang bisa diterima)</span></big></p>
<p><span style="color: #000000"><big>Di riwayatkan oleh <strong>Imam Ahmad </strong>pula dari </big></span><span style="color: #008000"><big><strong>Uqbah bin Amir رضي الله عنه</strong></big></span><big> <span style="color: #000000">dalam hadits yang marfu’, <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم</strong></span></span> <span style="color: #000000">bersabda :</span></big></p>
<p><big></big></p>
<h3><span style="color: #0000ff"><big> " من تعلق تميمة فلا أتم الله له، ومن تعلق ودعة فلا ودع الله له"، وفي رواية من تعلق تميمة فقد أشرك".</big></span></h3>
<p><span style="color: #0000ff"><strong><big><br />
“Barang siapa yang menggantungkan tamimah <span style="color: #ff00ff">([21])</span> maka Allah tidak akan mengabulkan keinginannya, dan barang siapa yang menggantungkan Wada’ah <span style="color: #ff00ff">([22]) </span>maka Allah tidak akan memberikan ketenangan kepadanya” dan dalam riwayat yang lain Rasul bersabda : “Barang siapa yang menggantungkan tamimah maka ia telah berbuat ke-syirik-an”.</big></strong></span></p>
<p><span style="color: #008000"><strong><big><br />
</big></strong></span><strong><big> </big><big><span style="color: #008000"> Ibnu Abi Hatim</span> </big></strong><span style="color: #000000"><big>meriwayatkan dari</big></span><strong><big> <span style="color: #008000">Hudzaifah رضي الله عنه</span> </big></strong><span style="color: #000000"><big>bahwa ia melihat seorang laki-laki yang ditangannya ada benang untuk mengobati sakit panas, maka dia putuskan benang itu seraya membaca firman <strong>Allah الله تعالى</strong></big><strong><big><br />
</big></strong></span></p>
<h3><span style="color: #000000"><big>وما يؤمن أكثرهم بالله إلا وهم مشركون</big></span></h3>
<p><span style="color: #000000"><big> </big></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong><big>“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sesembahan sesembahan lain ). ( QS. Yusuf, 106).</big></strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong><big><br />
</big></strong></span><strong><big></big></strong></p>
<h3><big><span style="color: #ff0000"> <strong>Kandungan bab ini :</strong></span></big></h3>
<p><big><span style="color: #ff0000"><br />
1-Larangan keras memakai gelang , benang dan sejenisnya untuk tujuan-tujuan seperti tersebut diatas.</span></big></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>2-Dikatakan bahwa sahabat Nabi tadi apabila mati sedangkan gelang (atau sejenisnya) itu masih melekat pada tubuhnya, maka ia tidak akan beruntung selamanya, ini menunjukkan kebenaran pernyataan para sahabat bahwa syirik kecil itu lebih berat dari pada dosa besar.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>3-Syirik tidak dapat  dimaafkan dengan alasan tidak mengerti.</big></span></p>
<p><big><span style="color: #ff0000">4-Gelang, benang dan sejenisnya tidak berguna untuk menangkal atau mengusir suatu penyakit, bahkan ia bisa mendatangkan bahaya, seperti sabda </span><span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم </strong></span><span style="color: #0000ff">“… karena dia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu”</span><span style="color: #0000ff">.</span></big></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>5-Wajib mengingkari orang orang yang melakukan perbuatan di atas.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>6-Penjelasan bahwa orang yang menggantungkan sesuatu dengan tujuan di atas, maka Allah akan menjadikan orang tersebut memiliki ketergantungan pada barang tersebut.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>7-Penjelasan bahwa orang yang menggantungkan tamimah telah melakukan perbuatan syirik.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>8-Mengikatkan benang pada tubuh untuk mengobati penyakit panas adalah bagian dari syirik.</big></span></p>
<p><big><span style="color: #ff0000">9-Pembacaan ayat di atas oleh </span><span style="color: #008000"><strong>Hudzaifah رضي الله عنه</strong></span> <span style="color: #ff0000">menunjukkan bahwa para sahabat menggunakan ayat-ayat yang berkaitan dengan syirik akbar sebagai dalil untuk syirik ashghor, sebagaimana penjelasan yang disebutkan oleh Ibnu Abbas dalam salah satu ayat yang ada dalam surat Al Baqarah</span> ([23]).</big></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>10-Menggantungkan Wada’ah untuk mengusir atau menangkal penyakit, termasuk syirik.</big></span></p>
<p><big><span style="color: #ff0000">11-Orang yang menggantungkan tamimah didoakan : <strong><span style="color: #000000">“semoga Allah tidak akan mengabulkan keinginannya” </span></strong></span></big></p>
<p><big><span style="color: #ff0000">Dan orang yang menggantungkan wadaah didoakan : <span style="color: #000000"><strong>“semoga Allah tidak memberikan ketenangan pada dirinya.”</strong></span></span><br />
</big></p>
<p><big><br />
<span style="color: #ff00ff"> <strong>FOOTNOTES:</strong><br />
</span></big></p>
<h5><big><span style="color: #ff00ff"> <span style="color: #0000ff">([20])</span> Dimulai dengan bab ini, penulis hendak menerangkan lebih lanjut tentang pengertian tauhid dan syahadat <strong><span style="color: #0000ff">“لا إِلَهَ إِلا اللهُ”,</span></strong> dengan menyebutkan hal hal yang bertentangan dengannya, yaitu : syirik dan macam macamnya, baik yang akbar maupun yang ashghor, karena dengan mengenal syirik sebagai lawan tauhid akan jelas sekali pengertian yang sebenarnya dari tauhid dan syahadat <span style="color: #0000ff">لا إِلَهَ إِلا اللهُ</span> </span></big></h5>
<h5><big><span style="color: #ff00ff"> <span style="color: #0000ff">([21])</span> Tamimah : sesuatu yang dikalungkan di leher anak anak sebagai penangkal atau pengusir penyakit, pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang, dan lain sebagainya.</span></big></h5>
<h5><big><span style="color: #ff00ff"> <span style="color: #0000ff">([22])</span> Wada’ah : sesuatu yang diambil dari laut, menyerupai rumah kerang ; menurut anggapan orang orang jahiliyah dapat digunakan sebagai penangkal penyakit. Termasuk dalam pengertian ini adalah jimat.</span></big></h5>
<h5><big><span style="color: #ff00ff"> <span style="color: #0000ff">([23])</span> Penjelasan Ibnu Abbas ini akan disebutkan dalam bab 42.</span></big></h5>
<p><big> </big></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/02/15/kitabut-tauhid-bab-7-memakai-gelang-dan-sejenisnya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Kalimat Tauhid LAA ILAHA ILLALLAH ( لا إِلَهَ إِلا اللهُ )</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/02/11/makna-kalimat-tauhid-laa-ilaha-illallah-%d9%84%d8%a7-%d8%a5%d9%90%d9%84%d9%8e%d9%87%d9%8e-%d8%a5%d9%90%d9%84%d8%a7-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87%d9%8f/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/02/11/makna-kalimat-tauhid-laa-ilaha-illallah-%d9%84%d8%a7-%d8%a5%d9%90%d9%84%d9%8e%d9%87%d9%8e-%d8%a5%d9%90%d9%84%d8%a7-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87%d9%8f/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 13:26:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[AGAMA]]></category>

		<category><![CDATA[abu salafy 01]]></category>

		<category><![CDATA[aqidah]]></category>

		<category><![CDATA[fiqh]]></category>

		<category><![CDATA[nashihat]]></category>

		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=464</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم
لا إِلَهَ إِلا اللهُ



Makna Kalimat Tauhid    لااله الا الله
Oleh: Al-Ustadz Hammad Abu Mu’awiyah
Mengetahui makna kalimat yang mulia ini merupakan salah satu prinsip yang sangat mendasar pada ‘aqidah seorang muslim. Bagaimana tidak, karena jika seseorang mengucapkan kalimat tauhid ini maka dia tidak akan bisa melaksanakan konsekuensinya sebelum mengetahui apa maknanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: center"><span style="font-size: x-large;color: #ff00ff">بسم الله الرحمن الرحيم</span></h2>
<h1 style="text-align: center"><span style="color: #0000ff">لا إِلَهَ إِلا اللهُ</span></h1>
<p style="text-align: center">
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<p style="text-align: left">
<h2 style="text-align: left"><span style="color: #0000ff"><strong>Makna Kalimat Tauhid    لااله الا الله</strong></span></h2>
<h3 style="text-align: left"><em><span style="color: #008000"><strong>Oleh: Al-Ustadz Hammad Abu Mu’awiyah</strong></span></em></h3>
<p style="text-align: left"><span style="color: #000000"><strong>Mengetahui makna kalimat yang mulia ini merupakan salah satu prinsip yang sangat mendasar pada ‘aqidah seorang muslim. Bagaimana tidak, karena jika seseorang mengucapkan kalimat tauhid ini maka dia tidak akan bisa melaksanakan konsekuensinya sebelum mengetahui apa maknanya serta dia tidak akan mendapatkan berbagai keutamaan kalimat yang mulia ini sampai dia mengetahui apa maknanya, mengamalkannya dan meninggal di atasnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :</strong></span></p>
<h2 style="text-align: left"><span style="color: #000000"><strong>وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ</strong></span></h2>
<p style="text-align: left"><span style="color: #000000"><strong>“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa`at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dalam keadaan mereka mengetahui(nya)”.</strong><strong> (QS. Az-Zukhruf : 86)</strong></span></p>
<p style="text-align: center"><span id="more-464"></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>Dan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah menegaskan :</strong></span></p>
<h2><span style="color: #0000ff"><strong>مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ</strong></span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff">“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengatahui bahwa sesungguhnya tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah maka akan masuk Surga.”</span> <span style="color: #000000">(HSR. Bukhary dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)</span></strong><span style="color: #000000"> <strong>Oleh karena itu, berikut penjelasan secara singkat mengenai makna kalimat tauhid yang mulia ini :</strong> </span><strong><span style="color: #000000">Laa Ilaaha Illallah adalah kalimat yang terdiri dari 4 kata, yaitu : kata</span> <span style="color: #0000ff">(لا</span></strong><strong><span style="color: #0000ff">)</span>, <span style="color: #000000">kata</span><span style="color: #0000ff"> (إِلَهَ</span></strong><strong><span style="color: #0000ff">)</span>, <span style="color: #000000">kata</span> <span style="color: #0000ff">(إِلا</span></strong><strong><span style="color: #0000ff">)</span> dan <span style="color: #000000">kata </span><span style="color: #0000ff">(اللهُ</span></strong><strong><span style="color: #0000ff">)</span>. <span style="color: #000000">Adapun secara bahasa bisa kita uraikan secara ringkas sebagai berikut :</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #000000">1</span>) <span style="color: #0000ff">Laa</span> </strong><span style="color: #0000ff"><strong>(لا</strong><strong>)</strong></span><strong> <span style="color: #000000">adalah nafiyah lil jins (Meniadakan keberadaan semua jenis kata benda yang datang setelahnya). Misalnya perkataan orang Arab “Laa rojula fid dari” (Tidak ada laki-laki dalam rumah) yaitu menafikan (meniadakan) semua jenis laki-laki di dalam rumah. Sehingga laa dalam kalimat tauhid ini bermakna penafian semua jenis penyembahan dan peribadahan yang haq dari siapapun juga kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla.</span></strong><span style="color: #000000"> </span><strong><span style="color: #000000"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #000000">2) </span><span style="color: #0000ff">Ilaha </span></strong><span style="color: #0000ff"><strong>(إِلَهَ</strong><strong>)</strong></span><strong> <span style="color: #000000">adalah mashdar (kata dasar) yang bermakna maf’ul (obyek) sehingga bermakna ma`luh yang artinya adalah ma’bud (yang diibadahi). Karena aliha maknanya adalah ‘abada sehingga makna ma’luh adalah ma’bud. Hal ini sebagaimana dalam bacaan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma terhadap ayat 127 pada surah Al-A’raf :</span></strong></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>وَقَالَ الْمَلأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ أَتَذَرُ مُوْسَى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوْا فِيْ الْأََرْضِ وَيَذَرَكَ وَإِلَهَتَكَ</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“ Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun) : “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta ilahatahmu (peribadatan kepadamu)?” .</strong> <strong>Il ahat aka (ilahatahmu) yaitu peribadatan kepadamu, karena Fir’aun itu disembah dan tidak menyembah. Hal ini menunjukkan bahwa Ibnu ‘Abbas memahami bahwa kata Ilahah artinya adalah Ibadah</strong> </span></p>
<p><strong><span style="color: #000000">3)</span> <span style="color: #0000ff">Illa </span></strong><span style="color: #0000ff"><strong>(إِلا</strong><strong>)</strong></span><strong><span style="color: #0000ff"> </span> <span style="color: #000000">Pengecualian di sini adalah mengeluarkan kata yang terletak setelah illa dari hukum kata yang telah dinafikan oleh laa. Misalnya dalam contoh di atas laa rajula fid dari illa Muhammad, yaitu Muhammad (sebagai kata setelah illa) dikeluarkan (dikecualikan) dari hukum sebelum illa yaitu peniadaan semua jenis laki-laki di dalam rumah, sehingga maknanya adalah tidak ada satupun jenis laki-laki di dalam rumah kecuali Muhammad. Jika diterapkan dalam kalimat tauhid ini makna maknanya adalah bahwa hanya Allah yang diperkecualikan dari seluruh jenis ilah yang telah dinafikan oleh kata laa sebelumnya.</span></strong><span style="color: #000000"> </span></p>
<p><strong><span style="color: #000000">4) Lafadz</span> <span style="color: #0000ff">Allah </span></strong><span style="color: #0000ff"><strong>(اللهُ</strong><strong>)</strong></span><strong> <span style="color: #000000">asal katanya adalah Al-Ilah dibuang hamzahnya untuk mempermudah membacanya, lalu lam yang pertama diidhgamkan (digabungkan) pada lam yang kedua maka menjadilah satu lam yang ditasydid dan lam yang kedua diucapkan tebal sebagaimana pendapat Imam Al-Kisa`i dan Imam Al-Farra` dan juga pendapat Imam As-Sibawaih.</span></strong><span style="color: #000000"> <strong>Adapun maknanya, berkata Al-Imam Ibnu Qoyyim dalam Madarij As-Salikin (1/18) : “Nama <span style="color: #0000ff">“Allah”</span> menunjukkan bahwa Dialah yang merupakan ma’luh (yang disembah) ma’bud (yang diibadahi). Seluruh makhluk beribadah kepadanya dengan penuh kecintaan, pengagungan dan ketundukan”.</strong> <strong>Lafadz jalalah <span style="color: #0000ff">“Allah”</span> adalah nama yang khusus untuk <span style="color: #0000ff">Allah</span> saja, adapun seluruh nama-nama dan sifat-sifat <span style="color: #0000ff">Allah</span> yang lainnya kembali kepada lafadz jalalah tersebut. Karena itulah tidak ada satupun dari makhluk-Nya yang dinamakan <span style="color: #0000ff">Allah.</span></strong> </span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>Kemudian dari perkara yang paling penting diketahui bahwa <span style="color: #0000ff">Laa</span> ini –sebagaimana yang telah diketahui oleh semua orang yang memiliki ilmu bahasa Arab- membutuhkan isim dan khobar sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Malik dalam Alfiyahnya :</strong> <strong>عَمَلَ إِنَّ اجْعَلْ لِلاَ فِي نَكِرَه ……..</strong> <strong>“Jadikan amalan Inna (menashab isim dan merafa’ khobar) untuk laa bila isimnya nakirah”.</strong> <strong>Isim laa adalah kata ilaha, adapun khobarnya, disinilah letak perselisihan manusia dalam penentuannya. Adapun yang dipilih oleh para ulama As-Salaf secara keseluruhan adalah bahwa khobarnya (dibuang) oleh karena itulah harus menentukan khobarnya untuk memahami maknanya dengan benar. Dan para ulama Salaf sepakat bahwa yang dibuang tersebut adalah kata haqqun atau bihaqqin (yang berhak disembah), dengan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Luqman ayat 30 :</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ البَاطِلُ وَأَنََّ اللهَ هُوَ العَلِيُّ الكَبِيْرُ</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Yang demikian itu karena Allahlah yang haq (untuk disembah) dan apa saja yang mereka sembah selain Allah maka itu adalah sembahan yang batil dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. </strong></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>Dan mirip dengannya dalam surah Al-Hajj ayat 62.</strong> <strong>Maka dari seluruh penjelasan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa makna Laa ilaaha illallah adalah tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah. Maka kalimat tauhid ini menunjukkan akan penafian/penolakan/peniadaan semua jenis penyembahan dan peribadahan dari semua selain Allah Ta’ala, apa dan siapapun dia, serta penetapan bahwa penyembahan dan peribadahan dengan seluruh macam bentuknya –baik yang zhohir maupun yang batin- hanya ditujukan kepada Allah semata tidak kepada selainnya. Oleh karena itu semua yang disembah selain Allah Ta’ala memang betul telah disembah, akan tetapi dia disembah dengan kebatilan, kezholiman, pelampauan batas dan kesewenang-wenangan. Inilah makna yang dipahami oleh orang-orang Arab –yang mukmin maupun yang kafirnya- tatkala mereka mendengar perkataan laa ilaha illallah sebagaimana yang akan datang penjelasannya insya Allah Ta’ala.</strong><strong>Berikut sebagian perkataan para ulama yang menunjukkan benarnya apa yang telah kami paparkan :</strong> <strong>*) Berkata Al-Wazir Abul Muzhoffar dalam Al-Ifshoh : “Lafazh “Allah” sesudah “illa” menunjukkan bahwasanya penyembahan wajib (diperuntukkan) hanya kepada-Nya, maka tidak ada (seorangpun) selain dari-Nya yang berhak mendapatkannya (penyembahan itu)”. Dan beliau juga berkata : “Dan termasuk faedah dari hal ini adalah hendaknya kamu mengetahui bahwa kalimat ini mencakup kufur kepada thaghut (semua yang disembah selain Allah) dan beriman hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka tatkala engkau menafikan penyembahan dan menetapkan kewajiban penyembahan itu hanya kepada Allah subhanahu maka berarti kamu telah kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah”. *) Berkata Imam Ibnu Rajab : “Al-Ilah adalah yang ditaati dan tidak didurhakai karena mengagungkan dan memuliakan-Nya, merasa cinta, takut, berharap dan bertawakkal kepada-Nya, meminta dan berdo’a pada-Nya. Dan semua ini tidak boleh kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka siapa yang mengikutsertakan makhluk-Nya pada salah satu dari perkara-perkara yang merupakan kekhususan penyembahan (ibadah) ini maka dia telah merusak keikhlasannya dalam kalimat Laa Ilaaha Illallah. Dan padanya terdapat peribadatan kepada makhluk (kesyirikan) yang kadarnya sesuai dengan banyak atau sedikitnya hal-hal tersebut terdapat padanya”. *) Berkata Al-Imam Al-Baqo`iy : “Laa Ilaaha Illallah yaitu peniadaan yang besar dari menjadikan yang diibadahi yang benar selain Raja yang paling mulia karena sesungguhnya ilmu ini, khususnya Laa Ilaahaa Illallah adalah peringatan yang paling besar yang menolong dari keadaan hari kiamat dan sesungguhnya menjadi ilmu jika bemanfaat, dan menjadi bermanfaat jika disertai dengan ketundukan dan beramal dengan ketentuannya. Kalau tidak maka itu adalah kebodohan semata”.</strong> <strong>Berkata Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh : “Dan ini banyak dijumpai pada perkataan kebanyakan ulama salaf dan merupakan ‘ijma (kesepakatan) dari mereka. Maka kalimat ini menunjukkan penafian penyembahan terhadap segala apa saja selain Allah bagaimanapun kedudukannya. Dan menetapkan penyembahan hanya kepada Allah saja semata. Dan ini adalah tauhid yang didakwahkan seluruh Rasul dan ditunjukkan oleh Al-Qur’an dari awal sampai akhirnya”.</strong> <strong>Dari penjelasan di atas diketahui bahwa kalimat Laa Ilaaha Illallah mengandung dua rukun asasi yang harus terpenuhi sebagai syarat diterimanya syahadat seorang muslim yang mengucapkan kalimat tersebut :</strong> <strong>Pertama :An-Nafyu (penafian/penolakan/peniadaan) yang terkandung dalam kalimat Laa Ilaaha. Yaitu menafikan, menolak dan meniadakan seluruh sembahan yang berhak untuk disembah bagaimanapun jenis dan bentuknya dari kalangan makhluk, baik yang hidup apalagi yang mati, baik malaikat yang terdekat dengan Allah maupun Rasul yang terutus terlebih lagi makhluk yang derajatnya di bawah keduanya.</strong><strong>Kedua :Al-Itsbat (penetapan) yang terkandung dalam kalimat Illallah. Yaitu menetapkan seluruh ibadah baik yang lahir seperti sholat, zakat, haji, menyembelih dan lain-lain maupun yang batin seperti tawakkal, harapan, ketakutan, kecintaan dan lain-lain. Baik dari ucapan seperti dzikir, membaca Al-Qur’an berdoa dan sebagainya maupun perbuatan seperti ruku dan sujud sewaktu sholat, tawaf dan sa`i ketika haji dan lain-lain hanya untuk Allah saja.</strong> <strong>Maka syahadat seseorang belumlah benar jika salah satu dari dua rukun itu atau kedua-duanya tidak terlaksana. Misalnya ada orang yang hanya meyakini Allah itu berhak disembah (hanya menetapkan) tetapi juga menyembah yang lain atau tidak mengingkari penyembahan selain Allah (tidak menafikan).</strong> <strong>Berikut penyebutan beberapa ayat Al-Qur`an yang menerangkan dua rukun laa ilaha illallah ini :</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطاَّغُوْتِ وَيُؤْمِنْ باِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ باِلْعُرْوَةِ الْوُثْقاَ لاَ انفِصاَمَ لَهـاَ</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus”. (QS. Al-Baqarah : 256).</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ. إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku ; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku”. (QS. Az-Zukhruf : 26-27)</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun”. (QS. An-Nisa` : 36)</strong> </span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>Untuk melaksanakan makna inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan jin dan manusia serta langit dan bumi sebagai fasilitas buat mereka :</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat : 56)</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. (QS. Al-Baqarah : 29)</strong> <strong></strong></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>Karenanya Allah mengutus para Rasul ‘alaihimush Sholatu was Salam :</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (QS. An-Nahl : 36)</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>وَ مَا أَرْسَلْنَاَ مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِيْ إِلَيْهِ أَنَّهُ لآَ إِلهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami mewahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al-Anbiya` : 25).</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ ءَالِهَةً يُعْبَدُونَ</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan sembahan-sembahan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”. (QS. Az-Zukhruf : 45)</strong> <strong></strong></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>Dan karenanya pulalah Allah Ta’ala menurunkan kitab-kitabNya :</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ ءَايَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ. أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu, agar kamu tidak menyembah selain Allah”. (QS. Hud : 1-2)</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya.”. (QS. Az-Zumar : 2)</strong> <strong></strong></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>Inilah kesimpulan makna dari kalimat tauhid yang agung dan mulia ini. Makna inilah yang dipahami oleh para shahabat dan para ulama yang datang setelah mereka sampai hari ini bahkan makna inilah yang diyakini dan dipahami oleh kaum musyrikin Quraisy di zaman Nabi Shollallahu ‘alai wa ‘ala alihi wasallam semisal Abu Jahl, Abu Lahab dan selainnya, sebagaimana yang diungkap oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pencipta mereka :</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ. وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada sembahan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”. (QS. Ash-Shoffat : 35-36)</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Mengapa ia menjadikan sembahan-sembahan itu sembahan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan”. (QS. Shod : 5)</strong> <strong>Maka lihatlah –semoga Allah merahmatimu- bagaimana jawaban kaum musyrikin tatkala diperintah mengucapkan kalimat tauhid, spontan mereka menolak karena sangat mengetahui apa makna dan konsekwensi kalimat ini yaitu harusnya meninggalkan semua sembahan mereka dan menjadikannya hanya satu sembahan yaitu hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka betapa celakanya seseorang yang mengaku muslim yang Abu Jahl lebih tahu dan lebih faham tentang makna laa Ilaha illallah daripada dirinya. Wallahul musta’an.</strong> <strong>{Lihat : Fathul Majid hal. 52-54 dan Kifayatul Mustazid bisyarhi Kitabit Tauhid Bab. Tafsirut Tauhid karya Syaikh Sholih Alu Asy-Syaikh}</strong> <strong>Berkata Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa beliau (2/5) : “Sesungguhnya saya telah melihat tulisan yang ditulis oleh saudara kita di jalan Allah Al-‘Allamah Asy-Syaikh ‘Umar bin Ahmad Al-Malibary tentang makna laa ilaha illallah, dan saya memperhatikan apa yang beliau jelaskan tentang pendapat 3 kelompok dalam maknanya. Dan penjelasannya :</strong> <strong></strong></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong><span style="color: #ff0000">Pertama :</span> <span style="color: #0000ff">Laa Ma’buda bihaqqin illallah (Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah).</span></strong><span style="color: #0000ff"> </span></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong><span style="color: #ff0000">Kedua :</span> <span style="color: #0000ff">Laa Mutho’a bihaqqin illallah (Tidak ada yang berhak ditaati kecuali Allah).</span></strong> </span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong><span style="color: #ff0000">Ketiga :</span> <span style="color: #0000ff">Laa Roba illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah).</span></strong> </span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>Dan yang benar adalah (makna) yang pertama sebagaimana yang beliau jelaskan. Dan (makna) inilah yang ditunjukkan oleh Kitab Allah Subhanahu dalam beberapa tempat dalam Al-Qur`anul Karim, seperti dalam firmanNya Subhanahu :</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”. (QS. Al-Fatihah : 5)</strong> <strong></strong></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>Dan firmanNya ‘Azza wa Jalla :</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. (QS. Al-Isra` : 23)</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat : 56)</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><strong>ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Al-Hajj : 62)</strong> <strong></strong></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>Sumber : </strong></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong></strong><strong>Jurnal Al-Atsariyyah Vol. 01/Th01/2006</strong></span></p>
<h3><a href="http://rumahbelajarku.wordpress.com/%D9%84%D8%A7-%D8%A5%D9%90%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8E-%D8%A5%D9%90%D9%84%D8%A7-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F/">http://rumahbelajarku.wordpress.com/</a></h3>
<p style="text-align: center">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/02/11/makna-kalimat-tauhid-laa-ilaha-illallah-%d9%84%d8%a7-%d8%a5%d9%90%d9%84%d9%8e%d9%87%d9%8e-%d8%a5%d9%90%d9%84%d8%a7-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87%d9%8f/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KITABUT TAUHID (BAB 6) PENJELASAN TENTANG MAKNA TAUHID DAN SYAHADAT “ لا إِلَهَ إِلا اللهُ ”</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/02/05/kitabut-tauhid-bab-6-penjelasan-tentang-makna-tauhid-dan-syahadat-%e2%80%9c-%d9%84%d8%a7-%d8%a5%d9%90%d9%84%d9%8e%d9%87%d9%8e-%d8%a5%d9%90%d9%84%d8%a7-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87%d9%8f-%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/02/05/kitabut-tauhid-bab-6-penjelasan-tentang-makna-tauhid-dan-syahadat-%e2%80%9c-%d9%84%d8%a7-%d8%a5%d9%90%d9%84%d9%8e%d9%87%d9%8e-%d8%a5%d9%90%d9%84%d8%a7-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87%d9%8f-%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 12:35:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[AGAMA]]></category>

		<category><![CDATA[Kitab Tauhid]]></category>

		<category><![CDATA[abu salafy 01]]></category>

		<category><![CDATA[aqidah]]></category>

		<category><![CDATA[dusta]]></category>

		<category><![CDATA[fiqh]]></category>

		<category><![CDATA[hizby]]></category>

		<category><![CDATA[ilmu]]></category>

		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم

Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 كتاب التوحيد
BAB 6
 
 
 PENJELASAN TENTANG MAKNA TAUHID 
DAN SYAHADAT “ لا إِلَهَ إِلا اللهُ ”
Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy 
  Firman الله عز وجل  
 ] أولئك الذين يدعون يبتغون إلى ربهم الوسيلة أيهم أقرب ويرجون رحمته ويخافون [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><strong><strong><span style="font-size: x-large;color: #0000ff">بسم الله الرحمن الرحيم</span></strong></strong></h1>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<h3><span style="color: #008000"><strong>Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 </strong><strong>كتاب التوحيد</strong></span></h3>
<h3><big><big>BAB 6</big></big></h3>
<h3><big><big> </big></big></h3>
<h3><span style="color: #ff0000"><big><big> </big></big></span></h3>
<h3><big><big> <span style="color: #ff0000">PENJELASAN TENTANG</span></big></big><span style="color: #ff0000"><big><big> MAKNA TAUHID </big></big></span></h3>
<h3><span style="color: #ff0000"><big><big>DAN SYAHADAT “ لا إِلَهَ إِلا اللهُ ”</big></big></span></h3>
<h2 class="Mentions_Input" style="width: 512px"><span><span style="color: #800000">Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy </span></span></h2>
<p><big><span style="color: #000000"> <strong> Firman الله عز وجل </strong></span> </big></p>
<h3><span style="color: #000000"><big> ] أولئك الذين يدعون يبتغون إلى ربهم الوسيلة أيهم أقرب ويرجون رحمته ويخافون عذابه إن عذاب ربك كان محذورا[</big></span></h3>
<p><span style="color: #000000"><big> <strong>“Orang orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada tuhan mereka, siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah), dan mereka mengharapkan rahmatNya serta takut akan siksaNya; sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al Isra’, 57)</strong></big></span> <span id="more-447"></span> <span style="color: #000000"><big><strong>] وإذ قال إبراهيم لأبيه وقومه إنني براء مما تعبدون إلا الذي فطرني فإنه سيهدين [</strong></big></span> <span style="color: #000000"><big><strong>“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya : sesungguhnya aku membebaskan diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (Allah) Dzat yang telah menciptakan aku, karena hanya Dia yang akan menunjukkan (kepada jalan kebenaran).” (QS. Az zukhruf, 26-27).</strong></big></span> <span style="color: #000000"><big>] <strong>اتخذوا أحبارهم ورهباهم أربابا من دون الله والمسيح بن مريم وما أمروا إلا ليعبدوا إلها واحدا لا إله إلا هو سبحانه عما يشركون[</strong></big></span> <span style="color: #000000"><big><strong>“Mereka menjadikan orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan ( mereka mempertaruhkan pula ) Al Masih putera Maryam; padahal mereka itu tiada lain hanyalah diperintahkan untuk beribadah kepada satu sembahan, tiada sembahan yang haq selain Dia. Maha suci Allah dari perbuatan syirik mereka.” (QS. Al Taubah, 31).</strong></big></span> <big><span style="color: #000000"><strong>]</strong></span> <span style="color: #000000"><strong>ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله والذين آمنوا أشد حبا لله[</strong></span></big> <span style="color: #000000"><big><strong>“Diantara sebagian manusia ada yang menjadikan tuhan-tuhan tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah, 165).</strong></big></span> <big><span style="color: #000000">Diriwayatkan dalam Shoheh Muslim, bahwa</span> <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى  لله عليه وسلم</strong></span></big> <span style="color: #0000ff"><big><strong>" من قال لا إله إلا الله وكفر بما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه وحسابه على الله "</strong></big></span> <span style="color: #0000ff"><big><strong>“Barang siapa yang mengucapkan لا إله إلا الله , dan mengingkari sesembahan selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, adapun perhitungannya adalah terserah kepada Allah”. </strong></big></span> <span style="color: #000000"><big>Keterangan tentang bab ini akan dipaparkan pada bab-bab berikutnya.</big></span> <span style="color: #ff0000"><big>Adapun kandungan bab ini menyangkut masalah yang <strong>PALING BESAR dan PALING MENDASAR</strong>, yaitu pembahasan tentang makna <strong>TAUHID dan SYAHADAT.</strong></big></span><big> <span style="color: #ff0000"> Masalah tersebut telah diterangkan oleh bab ini dengan beberapa hal yang cukup jelas, antara lain :</span></big> <span style="color: #ff0000"><big>1-Ayat dalam surat Al Isra’. Diterangkan dalam ayat ini sanggahan terhadap orang-orang musyrik, yang memohon kepada orang-orang yang sholeh, oleh karena itu, ayat ini mengandung suatu penjelasan bahwa perbuatan mereka itu adalah syirik besar <span style="color: #0000ff"><strong><span>([18])</span></strong></span>.</big></span> <span style="color: #ff0000"><big>2-Ayat dalam surat At taubah. Diterangkan dalam ayat ini bahwa orang-orang ahli kitab telah menjadikan orang-orang alim dan pendeta pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan dijelaskan pula bahwa mereka hanya diperintahkan untuk menyembah kepada satu sesembahan, dan menurut penafsiran yang sebenarnya mereka itu hanya diperintahkan untuk taat kepadanya dalam hal-hal yang tidak bermaksiat kepada Allah, dan tidak berdoa kepadanya.</big></span> <span style="color: #ff0000"><big>3-Kata-kata Nabi Ibrahim u kepada orang-orang kafir : “sesungguhnya saya berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali ( saya hanya menyembah) Dzat yang menciptakanku”.</big></span> <span style="color: #ff0000"><big>Di sini beliau mengecualikan Allah dari segala sesembahan.</big></span> <span style="color: #ff0000"><big>Pembebasan (dari segala sembahan yang batil) dan pernyataan setia (kepada sembahan yang haq, yaitu الله عز وجل) adalah makna yang sebenarnya dari syahadat <span style="color: #0000ff"><strong>“</strong></span></big></span><span style="color: #0000ff"><strong><span><big>لا إله إلا الله</big></span></strong></span><span style="color: #ff0000"><big><span style="color: #0000ff"><strong>”</strong></span>.</big></span> <big></big></p>
<h3><big><span style="color: #ff0000"> <span style="color: #000000">] وجعلها كلمة باقية في عقبه لعلهم يرجعون [</span></span></big></h3>
<p><big><span style="color: #ff0000"> <span style="color: #000000"><strong>“Dan Nabi Ibrahim menjadikan kalimat syahadat ini kalimat yang kekal pada keturunannya, agar mereka ini kembali ( kepada jalan yang benar ).” (QS. Az Zukhruf, 28)</strong></span></span></big> <span style="color: #ff0000"><big>4-Ayat dalam surat Al Baqarah yang berkenaan dengan orang-orang kafir, yang dikatakan oleh الله عز وجل dalam firman-Nya :</big></span> <big></big></p>
<h3><big><span style="color: #ff0000"><span style="color: #000000">]</span> <span style="color: #000000">وما هم بخارجين من النار [</span></span></big></h3>
<p><big><span style="color: #ff0000"><span style="color: #000000"> <strong>“Dan mereka tidak akan bisa keluar dari neraka”.</strong></span></span></big> <span style="color: #ff0000"><big>Disebutkan dalam ayat tersebut, bahwa mereka menyembah tandingan tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai kecintaan yang besar kepada Allah, meskipun demikian kecintaan mereka ini belum bisa memasukkan mereka kedalam agama Islam <span style="color: #0000ff"><strong>([19])</strong></span></big></span> <span style="color: #ff0000"><big>Lalu bagaimana dengan mereka yang cintanya kepada sesembahan selain Allah itu lebih besar dari cintanya kepada Allah ?</big></span> <span style="color: #ff0000"><big>Lalu bagaimana lagi orang-orang yang cuma hanya mencintai sesembahan selain Allah, dan tidak mencintai Allah?</big></span> <big><span style="color: #ff0000">4-Sabda</span> <strong><span style="color: #0000ff">Rasulullah صلى الله عليه وسلم</span></strong></big> <big></big></p>
<h3><big><span style="color: #ff0000"> <span style="color: #0000ff">” من قال لا إله إلا الله وكفر بما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه وحسابه على الله “</span></span></big></h3>
<p><big><span style="color: #ff0000"> <span style="color: #0000ff"><strong>“Barang siapa yang mengucapkan لا إله إلا الله , dan mengingkari sesembahan selain Allah, maka haram darah dan hartanya, sedangkan perhitungannya kembali kepada Allah”.</strong></span></span></big> <span style="color: #ff0000"><big>Ini adalah termasuk hal yang penting sekali yang menjelaskan pengertian لا إله إلا الله  Sebab apa yang dijadikan Rasulullah sebagai pelindung darah dan harta bukanlah sekedar mengucapkan kalimat itu dengan lisan atau memahami arti dan lafadznya, atau mengetahui akan kebenarannya, bahkan bukan pula karena tidak meminta kecuali kepada Allah saja, yang tiada sekutu bagiNya, akan tetapi harus disertai dengan tidak adanya penyembahan kecuai hanya kepadaNya.</big></span> <span style="color: #ff0000"><big>Jika dia masih ragu atau bimbang, maka belumlah haram dan terlindung harta dan darahnya.</big></span> <big><span style="color: #ff0000">Betapa besar dan pentingnya penjelasan makna <strong>لا إله إلا الله</strong> yang termuat dalam hadits ini, dan betapa jelasnya keterangan yang dikemukakannya, dan kuatnya argumentasi yang diajukan bagi orang-orang yang menentangnya.  الله عز وجل berfirman : </span> <span style="color: #ff00ff"> </span></big> <big><span style="color: #ff00ff">FOOTNOTES:</span></big> <big><span style="color: #0000ff"><strong>([18])</strong></span> <span style="color: #ff00ff">Dapat diambil kesimpulan dari ayat dalam surat Al Isra’ tersebut bahwa makna tauhid dan syahadat “La Ilaha Illallah” yaitu : meninggalkan apa yang dilakukan oleh orang orang musyrik, seperti menyeru (memohon) kepada orang orang sholeh dan meminta syafaat mereka.</span></big> <big><span style="color: #0000ff"><strong>([19])</strong></span> <span style="color: #ff00ff">Dari ayat dalam surat Al baqarah tersebut diambil kesimpulan bahwa penjelasan makna tauhid dan syahadat “ لا إِلَهَ إِلا اللهُ ” yaitu : pemurnian kepada Allah yang diiringi dengan rasa rendah diri dan penghambaan hanya kepada-Nya. </span></big></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/02/05/kitabut-tauhid-bab-6-penjelasan-tentang-makna-tauhid-dan-syahadat-%e2%80%9c-%d9%84%d8%a7-%d8%a5%d9%90%d9%84%d9%8e%d9%87%d9%8e-%d8%a5%d9%90%d9%84%d8%a7-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87%d9%8f-%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KITABUT TAUHID (BAB 5) DAKWAH KEPADA SYAHADAT    “لا إِلَهَ إِلا اللهُ”</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/02/04/kitabut-tauhid-bab-5-dakwah-kepada-syahadat-%e2%80%9c%d9%84%d8%a7-%d8%a5%d9%90%d9%84%d9%8e%d9%87%d9%8e-%d8%a5%d9%90%d9%84%d8%a7-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87%d9%8f%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/02/04/kitabut-tauhid-bab-5-dakwah-kepada-syahadat-%e2%80%9c%d9%84%d8%a7-%d8%a5%d9%90%d9%84%d9%8e%d9%87%d9%8e-%d8%a5%d9%90%d9%84%d8%a7-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87%d9%8f%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 23:25:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[AGAMA]]></category>

		<category><![CDATA[Kitab Tauhid]]></category>

		<category><![CDATA[abu salafy 01]]></category>

		<category><![CDATA[aqidah]]></category>

		<category><![CDATA[fiqh]]></category>

		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم

Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 كتاب التوحيد
 BAB 5
 
 DAKWAH KEPADA SYAHADAT 
 
 “لا إِلَهَ إِلا اللهُ”
Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy 
Firman الله تعالى
 قل هذه سبيلي أدعو إلى الله على بصيرة أنا ومن اتبعني وسبحان الله وما أنا من المشركين

“Katakanlah : ”inilah jalan ( [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><strong><strong><span style="font-size: x-large;color: #0000ff">بسم الله الرحمن الرحيم</span></strong></strong></h1>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<h3><span style="color: #008000"><strong>Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 </strong><strong>كتاب التوحيد</strong></span></h3>
<h3><big><big> BAB 5</big></big></h3>
<h3><big><big> </big></big></h3>
<h3><big><big> <span style="color: #ff0000">DAKWAH KEPADA SYAHADAT </span></big></big></h3>
<h3><span style="color: #ff0000"><big><big> </big></big></span></h3>
<h3><span style="color: #ff0000"><big><big> </big></big><big><big>“لا إِلَهَ إِلا اللهُ</big></big><big><big>”</big></big></span></h3>
<h2 class="Mentions_Input" style="width: 512px"><span><span style="color: #800000">Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy </span></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><big>Firman الله تعالى</big></span></p>
<h2><span style="color: #000000"><big> قل هذه سبيلي أدعو إلى الله على بصيرة أنا ومن اتبعني وسبحان الله وما أنا من المشركين</big></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><big><br />
<strong>“Katakanlah : ”inilah jalan ( agama ) ku, aku dan orang orang yang mengikutiku, aku berda’wah kepada Allah dengan hujjah yang nyata, maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang orang yang musyrik”. (QS. Yusuf, 108 )</strong></big></span></p>
<p><span id="more-435"></span></p>
<p><big><span style="color: #008000"><strong>Ibnu</strong> <strong>Abbas رضي الله عنه</strong></span> <span style="color: #000000">berkata, ketika</span> <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم</strong></span> <span style="color: #000000">mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman beliau bersabda kepadanya :</span></big></p>
<p><big> </big></p>
<h2><span style="color: #0000ff"><big> &#8221; إنك تأتي قوما من أهل الكتاب، فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله - وفي رواية : إلى أن يوحدوا الله -، فإن هم أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم فإنه ليس بينها وبين الله حجاب &#8220;</big></span></h2>
<p><big><span style="color: #0000ff"><strong><br />
“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat لا إِلَهَ إِلا اللهُ dalam riwayat yang lain disebutkan “supaya mereka mentauhidkan Allah”-, jika mereka mematuhi apa yang kamu da’wahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam, jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka dan diberikan pada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dan Allah” <span style="color: #000000">(HR. Bukhari dan Muslim).</span></strong></span></big></p>
<p><big><span style="color: #000000">Dalam hadits yang lain, Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d رضي الله عنه bahwa</span> </big><big><span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم</strong></span></big><big> <span style="color: #000000">disaat perang Khaibar bersabda</span></big></p>
<p><big></big></p>
<h2><big> &#8221; <span style="color: #0000ff">لأعطين الراية غدا رجلا يحب الله ورسوله، ويحبه الله ورسوله، يفتح الله على يديه&#8221;، فبات الناس يدوكون ليلتهم أيهم يعطاها، فلما أصبحوا غدوا على رسول الله r كلهم يرجون أن يعطاها، فقال : &#8221; أين علي بن أبي طالب ؟، فقيل : هو يشتكي عينيه، فأرسلوا إليه فأتي به، فبصق في عينيه ودعا له، فبرأ كأن لم يكن به وجع، فأعطاه الراية، فقال :&#8221; انفذ على رسلك حتى تنـزل بساحتهم، ثم ادعهم إلى الإسلام، وأخبرهم بما يجب عليهم من حق الله تعالى فيه، فوالله لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من حمر النعم&#8221;، يدوكون أي يخوضون &#8220;.</span></big></h2>
<p><big></big></p>
<p><span style="color: #0000ff"><big><strong>“Sungguh akan aku serahkan bendera (komando perang) ini besok pagi kepada orang yang mencintai Allah dan RasulNya, dan dia dicintai oleh Allah dan RasulNya, Allah akan memberikan kemenangan dengan sebab kedua tangannya”, maka semalam suntuk para sahabat memperbincangkan siapakah diantara mereka yang akan diserahi bendera itu, di pagi harinya mereka mendatangi <span style="color: #ff00ff">Rasulullah صلى الله عليه وسلم</span> masing masing berharap agar ia yang diserahi bendera tersebut, maka saat itu Rasul bertanya : “di mana Ali bin Abi Tholib ? mereka menjawab : Dia sedang sakit pada kedua matanya, kemudian mereka mengutus orang untuk memanggilnya, dan datanglah Ali, kemudian Rasul meludahi kedua matanya, seketika itu dia sembuh seperti tidak pernah terkena penyakit, kemudian Rasul menyerahkan bendera itu kepadanya dan bersabda : “melangkahlah engkau kedepan dengan tenang hingga engkau sampai ditempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam <span style="color: #ff00ff">([15])</span>, dan sampaikanlah kepada mereka akan hak hak Allah dalam Islam, maka demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah kepada seseorang dengan sebab kamu itu lebih baik dari onta-onta yang merah” <span style="color: #ff00ff">([16])</span>.</strong></big></span></p>
<p><big></big></p>
<h3><big> <span style="color: #ff0000">Kandungan bab ini :</span></big></h3>
<p><span style="color: #ff0000"><big><br />
<span>1- Dakwah kepada <span style="color: #008000"><strong>لا إِلَهَ إِلا اللهُ</strong></span> adalah jalannya orang orang yang setia mengikuti </span></big><span style="color: #0000ff"><big><span><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم</strong></span></big></span><br />
</span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>3- Mengerti betul akan apa yang didakwahkan adalah termasuk kewajiban.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>4- Termasuk bukti kebaikan tauhid, bahwa tauhid itu mengagungkan Allah.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>5- Bukti kejelekan syirik, bahwa syirik itu merendahkan Allah.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>6- Termasuk hal yang sangat penting adalah menjauhkan orang Islam dari lingkungan orang orang musyrik, agar tidak menjadi seperti mereka, walaupun dia belum melakukan perbuatan syirik.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>7- Tauhid adalah kewajiban pertama.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>8- Tauhid adalah yang harus didakwahkan pertama kali sebelum mendakwahkan kewajiban yang lain termasuk sholat.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>9- Pengertian “supaya mereka mentauhidkan Allah” adalah pengertian syahadat.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>10- Seseorang terkadang termasuk ahli kitab, tapi ia tidak tahu pengertian syahadat yang sebenarnya, atau ia memahami namun tidak mengamalkannya.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>11- Peringatan akan pentingnya sistem pengajaran dengan bertahap.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>12- Yaitu dengan diawali dari hal yang sangat penting kemudian yang penting dan begitu seterusnya.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>13- Salah satu sasaran pembagian zakat adalah orang fakir.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>14- Kewajiban orang yang berilmu adalah menjelaskan tentang sesuatu yang masih diragukan oleh orang yang belajar.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>15- Dilarang mengambil harta yang terbaik dalam penarikan zakat.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>16- Menjaga diri dari berbuat dzolim terhadap seseorang.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>17- Pemberitahuan bahwa do’a orang yang teraniaya itu dikabulkan.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>18- Diantara bukti tauhid adalah ujian yang dialami oleh </big></span><big><span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم</strong></span></big><big><span style="color: #ff0000"> dan para sahabat, seperti kesulitan, kelaparan maupun wabah penyakit.</span></big></p>
<p><big><span style="color: #ff0000">19- Sabda</span> </big><big><span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم</strong></span></big><big><span style="color: #ff0000"> “Demi Allah akan aku serahkan bendera …” adalah salah satu dari tanda-tanda kenabian beliau.</span></big></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>20- Kesembuhan kedua mata Ali, setelah diludahi Rasulullah adalah salah satu dari tanda tanda kenabian beliau.</big></span></p>
<p><big><span style="color: #ff0000">21- Keutamaan sahabat</span> <span style="color: #008000"><strong>Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه</strong></span></big></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>23- Kewajiban mengimani takdir Allah, karena bendera tidak diserahkan kepada orang yang sudah berusaha, malah diserahkan kepada orang yang tidak berusaha untuk memperolehnya.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>24- Adab di dalam berjihad, sebagaimana yang terkandung dalam sabda Rasul :<strong><span style="color: #0000ff"> “berangkatlah engkau dengan tenang”.</span></strong></big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>25- Disyariatkan untuk mendakwahi musuh sebelum memeranginya.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>26- Syariat ini berlaku pula terhadap mereka yang sudah pernah didakwahi dan diperangi sebelumnya.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>27- Dakwah harus dilaksanakan dengan bijaksana, sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Nabi : <span style="color: #0000ff"><strong>“ … dan sampaikanlah kepada mereka tentang hak hak Allah dalam Islam yang harus dilakukan”.</strong></span></big></span></p>
<p><big><span style="color: #ff0000">28- Wajib mengenal hak hak Allah dalam Islam</span> <span style="color: #0000ff"><strong>[(17)]</strong></span>.</big></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>29- Kemuliaan dakwah, dan besarnya pahala bagi orang yang bisa memasukkan seorang saja kedalam Islam.</big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>30- Diperbolehkan bersumpah dalam menyampaikan petunjuk. </big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big><br />
31- Peringatan akan pentingnya ikhlas [dalam berdakwah semata mata karena Allah], sebab kebanyakan orang kalau mengajak kepada kebenaran, justru mereka mengajak kepada [kepentingan] dirinya sendiri. </big></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><big>32- Keutamaan para sahabat Rasul, [karena hasrat mereka yang besar sekali dalam kebaikan dan sikap mereka yang senantiasa berlomba lomba dalam mengerjakan amal sholeh] ini dapat dilihat dari perbincangan mereka dimalam [menjelang perang Khaibar, tentang siapakah diantara mereka yang akan diserahi bendera komando perang, masing-masing mereka menginginkan agar dirinyalah yang menjadi orang yang memperoleh kehormatan itu].</big></span></p>
<p><big><br />
<span style="color: #ff00ff">FOOTNOTES:<br />
</span> </big><span style="color: #ff00ff"><br />
<span style="color: #0000ff"><strong>([15])</strong></span> Ajaklah mereka kepada Islam, yaitu kepada pengertian yang sebenarnya dari kedua kalimat syahadat, yaitu : berserah diri kepada Allah, lahir dan batin, dengan mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, yang disampaikan melalui RasulNya.</span></p>
<p><strong><span style="color: #0000ff">([16])</span></strong> <span style="color: #ff00ff">Unta merah adalah harta kekayaan yang sangat berharga dan menjadi kebanggaan orang arab pada masa itu jg sampai kini, bahkan harganya melebihi kendaraan mewah saat ini!!!</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>([17])</strong></span> <span style="color: #ff00ff">Hak Allah dalam Islam yang wajib dilaksanakan ialah seperti sholat, zakat, puasa, haji dan kewajiban kewajiban lainnya.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/02/04/kitabut-tauhid-bab-5-dakwah-kepada-syahadat-%e2%80%9c%d9%84%d8%a7-%d8%a5%d9%90%d9%84%d9%8e%d9%87%d9%8e-%d8%a5%d9%90%d9%84%d8%a7-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87%d9%8f%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KITABUT TAUHID (BAB 4) TAKUT KEPADA SYIRIK</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/02/01/kitabut-tauhid-bab-4-takut-kepada-syirik/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/02/01/kitabut-tauhid-bab-4-takut-kepada-syirik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 14:27:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[AGAMA]]></category>

		<category><![CDATA[Kitab Tauhid]]></category>

		<category><![CDATA[abu salafy 01]]></category>

		<category><![CDATA[aqidah]]></category>

		<category><![CDATA[fiqh]]></category>

		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=428</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم

Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 كتاب التوحيد
BAB 4

TAKUT KEPADA SYIRIK
Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy 
Firman Allah الله تعالى
[ إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء ]
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><strong><strong><span style="font-size: x-large;color: #0000ff">بسم الله الرحمن الرحيم</span></strong></strong></h1>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<h3><span style="color: #008000"><strong>Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 </strong><strong>كتاب التوحيد</strong></span></h3>
<h2><span style="color: #000000">BAB 4</span></h2>
<h2><span style="color: #ff0000"><br />
TAKUT KEPADA SYIRIK</span></h2>
<h2 class="Mentions_Input" style="width: 512px"><span><span style="color: #800000">Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy </span></span></h2>
<p><span style="color: #000000">Firman Allah <strong>الله تعالى</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000">[ إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء ]</span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendakiNya”. ( QS. An Nisa’, 48 )</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000">Nabi Ibrahim berkata :</span></p>
<h2><span style="color: #000000">[ واجنبني وبني أن نعبد الأصنام ]</span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“ ……. Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari perbuatan (menyembah) berhala”. ( QS. Ibrahim, 35 )</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000"><span id="more-428"></span><br />
Diriwayatkan dalam suatu hadits, bahwa </span><span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم</strong></span> bersabda :</p>
<h2><span style="color: #0000ff">&#8221; أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر، فسئل عنه ؟ فقال : الرياء &#8220;</span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><br />
“Sesuatu yang paling aku khawatirkan dari kamu kalian adalah perbuatan syirik kecil, kemudian beliau ditanya tentang itu, dan beliaupun menjawab : yaitu riya”</span>( HR. Ahmad, Thobroni dan Abi Dawud ).</strong></p>
<p><span style="color: #000000">Diriwayatkan dari Ibnu</span> <span style="color: #008000"><strong>Mas’ud رضي الله عنه</strong></span> <span style="color: #000000">bahwa</span> <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه</strong> <strong>وسلم</strong></span> <span style="color: #000000">bersabda :</span></p>
<h2><span style="color: #0000ff">&#8221; من مات وهو يدعو من دون الله ندا دخل النار &#8220;</span></h2>
<p><span style="color: #0000ff"><br />
</span><strong><span style="color: #0000ff">“Barang siapa yang mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah, maka masuklah ia kedalam neraka”</span>( HR. Bukhori )</strong></p>
<p><span style="color: #000000">Diriwayatkan oleh Muslim dari</span> <span style="color: #008000"><strong>Jabir رضي الله عنه</strong></span> <span style="color: #000000">bahwa</span> <span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم</strong></span> <span style="color: #000000">bersabda :</span><br />
<strong><span style="color: #0000ff"><br />
</span></strong></p>
<h2><strong><span style="color: #0000ff">&#8221; من لقي الله لا يشرك به شيئا دخل الجنة ومن لقيه يشرك به شيئا دخل النار &#8220;</span></strong></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><br />
“Barang siapa yang menemui Allah dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada-Nya, pasti ia masuk surga, dan barang siapa yang menemui=Nya (mati) dalam keadaan berbuat kesyirikan maka pasti ia masuk neraka”.</span></strong></p>
<h3><span style="color: #ff0000">Kandungan bab ini :</span></h3>
<p><span style="color: #ff0000">1-Syirik adalah perbuatan dosa yang harus ditakuti dan dijauhi.</span></p>
<p><span style="color: #ff0000">2-Riya’ termasuk perbuatan syirik.</span></p>
<p><span style="color: #ff0000">3-Riya’ termasuk syirik kecil </span><span style="color: #0000ff"><strong>([14]).</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000">4-Riya’ adalah dosa yang paling ditakuti oleh Rasulullah terhadap orang orang sholeh.</span></p>
<p><span style="color: #ff0000">5-Dekatnya sorga dan neraka.</span></p>
<p><span style="color: #ff0000">6-Dekatnya sorga dan neraka telah sama-sama disebutkan dalam satu hadits.</span></p>
<p><span style="color: #ff0000">7-Barang siapa yang mati tidak dalam kemusyrikan maka pasti ia masuk sorga, dan barang siapa yang mati dalam kemusyrikan maka pasti ia masuk neraka, meskipun ia termasuk orang yang banyak ibadahnya.</span></p>
<p><span style="color: #ff0000">8-Hal yang sangat penting adalah permohonan Nabi Ibrahim untuk dirinya dan anak cucunya agar dijauhkan dari perbuatan menyembah berhala.</span></p>
<p><span style="color: #ff0000">9-Nabi Ibrahim mengambil ibrah ( pelajaran ) dari keadaan sebagian besar manusia, bahwa mereka itu adalah sebagaimana perkataan beliau :</span></p>
<h2><span style="color: #000000">] رب إنهن أضللن كثيرا من الناس [</span></h2>
<p><span style="color: #ff0000"><br />
<span style="color: #000000"><strong>“Ya Rabb, sesungguhnya berhala berhala itu telah menyesatkan banyak orang” ( QS. Ibrahim, 36 ).</strong></span></span></p>
<p><span style="color: #ff0000">10-Dalam bab ini mengandung penjelasan tentang makna لا إله إلا الله sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhori, [yaitu : pembersihkan diri dari syirik dan pemurnian ibadah kepada Allah ].</span></p>
<p><span style="color: #ff0000">11-Keutamaan orang yang dirinya bersih dari ke-syirik-an.</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>FOOTNOTE:</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><span style="color: #0000ff"><strong>([14])</strong></span> <strong>Syirik ada dua macam :</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>Pertama :</strong><br />
syirik akbar (besar) yaitu memperlakukan sesuatu selain Allah sama dengan Allah, dalam hal hal yang merupakan hak khusus bagiNya.</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>Kedua :</strong><br />
syirik ashghar (kecil), yaitu : perbuatan yang disebutkan dalam Al Qur’an dan Al hadits sebagai suatu syirik, tetapi belum sampai ke tingkat syirik akbar. Adapun perbedaan diantara keduanya :</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff">a-Syirik akbar menghapuskan seluruh amal, sedang syirik kecil hanya menghapuskan amal yang disertainya saja.</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff">b-Syirik akbar mengakibatkan pelakunya kekal di dalam neraka, sedang syirik kecil tidak sampai demikian.</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff">c-Syirik akbar menjadikan pelakunya keluar dari Islam, sedang syirik kecil tidak menyebabkan keluar dari Islam.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/02/01/kitabut-tauhid-bab-4-takut-kepada-syirik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KITAB TAUHID (BAB 3) MENGAMALKAN TAUHID DENGAN SEBENAR BENARNYA DAPAT MENYEBABKAN MASUK SORGA TANPA HISAB</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/01/09/kitab-tauhid-bab-3-mengamalkan-tauhid-dengan-sebenar-benarnya-dapat-menyebabkan-masuk-sorga-tanpa-hisab/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/01/09/kitab-tauhid-bab-3-mengamalkan-tauhid-dengan-sebenar-benarnya-dapat-menyebabkan-masuk-sorga-tanpa-hisab/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 13:34:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[AGAMA]]></category>

		<category><![CDATA[Kitab Tauhid]]></category>

		<category><![CDATA[abu salafy 01]]></category>

		<category><![CDATA[aqidah]]></category>

		<category><![CDATA[fiqh]]></category>

		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=401</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم

Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 كتاب التوحيد
BAB 3
MENGAMALKAN TAUHID DENGAN SEBENAR BENARNYA DAPAT MENYEBABKAN MASUK SORGA TANPA HISAB
Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy 
Firman الله تعالى
[إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ [ (120) سورة النحل
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><strong><span style="font-size: x-large;color: #0000ff">بسم الله الرحمن الرحيم</span></strong></strong></p>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<h3><span style="color: #008000">Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 كتاب التوحيد</span></h3>
<h2><span style="color: #000000">BAB 3</span></h2>
<h2><span style="color: #ff0000">MENGAMALKAN TAUHID DENGAN SEBENAR BENARNYA DAPAT MENYEBABKAN MASUK SORGA TANPA HISAB</span></h2>
<h2 class="Mentions_Input" style="width: 512px"><span><span style="color: #800000">Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy </span></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>Firman الله تعالى</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000">[إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ [ (120) سورة النحل</span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (berpegang teguh pada kebenaran ), dan sekali kali ia bukanlah termasuk orang orang yang mempersekutukan(Robb)” ( QS, An Nahl, 120 )</strong></span></p>
<h2><span style="color: #000000">والذين هم بربهم لا يشركون</span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Dan orang orang yang tidak mempersekutukan dengan Robb mereka (sesuatu apapun )”. ( QS. Al Mu’minun, 59 )</strong></span></p>
<p><span id="more-401"></span></p>
<p><span style="color: #008000">Husain bin Abdurrahman berkata: “Suatu ketika aku berada di sisi Said bin Zubair, lalu ia bertanya : “siapa diantara kalian melihat bintang yang jatuh semalam ?, kemudian aku menjawab : “ aku ”, kemudian kataku : “ ketahuilah, sesungguhnya aku ketika itu tidak sedang melaksanakan sholat, karena aku disengat kalajengking”, lalu ia bertanya kepadaku : “lalu apa yang kau lakukan ?”, aku menjawab : “aku minta di ruqyah </span><span style="color: #008000"><span style="color: #0000ff"><strong>([10])</strong></span>”, ia bertanya lagi : “apa yang mendorong kamu melakukan hal itu ?”, aku menjawab : “yaitu : sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asy Sya’by kepada kami”, ia bertanya lagi : “dan apakah hadits yang dituturkan kepadamu itu ?”, aku menjawab : “dia menuturkan hadits kepada kami dari Buraidah bin Hushaib:</span></p>
<h2><span style="color: #0000ff">” لا رقية إلا من عين أو حمة “</span></h2>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>“Tidak boleh Ruqyah kecuali karena ain <span style="color: #ff0000">([11])</span> atau terkena sengatan”.</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000">Said pun berkata : “sungguh telah berbuat baik orang yang telah mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi</span> <span style="color: #008000"><strong>Ibnu Abbas</strong></span> <strong><span style="color: #008000">رضي الله عنه</span></strong> <span style="color: #000000">menuturkan hadits kepada kami dari</span> <strong><span style="color: #0000ff">Rasulullah</span></strong><strong> <span style="color: #0000ff">صلى الله عليه وسلم</span></strong> beliau bersabda :</p>
<h2><strong><span style="color: #0000ff">” عرضت علي الأمم، فرأيت النبي معه الرهط، والنبي معه الرجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد، إذ رفع لي سواد عظيم، فظننت أنهم أمتي، فقيل لي : هذا موسى وقومه، فنظرت فإذا سواد عظيم، فقيل لي : هذه أمتك، ومعهم سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب، ثم نهض فدخل منزله، فحاض الناس في أولئك، فقال بعضهم : فلعلهم الذي صحبوا رسول الله r، وقال بعضهم : فلعلهم الذين ولدوا في الإسلام فلم يشركوا بالله شيئا، وذكروا أشياء، فخرج عليهم رسول الله r فأخبروه، فقال :” هم الذين لا يسترقون ولا يتطيرون ولا يكتوون وعلى ربهم يتوكلون ” فقام عكاشة بن محصن فقال : ادع الله أن يجعلنى منهم، فقال : أنت منهم، ثم قال رجل آخر فقال : ادع الله أن يجعلني منهم، فقال r :” سبقتك عكاشة “.</span></strong></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff">“Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, bersamanya sekelompok orang, dan seorang Nabi, bersamanya satu dan dua orang saja, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun yang menyertainya, tiba tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku : bahwa mereka itu adalah Musa dan kaumnya, tiba tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku : mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada <span style="color: #ff0000">70 000 ( tujuh puluh ribu ) </span>orang yang masuk sorga tanpa hisab dan tanpa disiksa lebih dahulu, kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, maka orang orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu ?, ada diantara mereka yang berkata : barangkali mereka itu orang orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya, dan ada lagi yang berkata : barang kali mereka itu orang orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam hingga tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan yang lainnya menyebutkan yang lain pula.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #0000ff">Kemudian </span></strong><span style="color: #ff0000"><strong><span>Rasulullah</span></strong><strong> <span>صلى الله عليه وسلم</span></strong></span><strong><span style="color: #0000ff"> keluar dan merekapun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda : “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathoyyur <span style="color: #ff0000">([12])</span> dan tidak pernah meminta lukanya ditempeli besi yang dipanaskan, dan mereka pun bertawakkal kepada tuhan mereka, kemudian <span style="color: #008000">Ukasyah bin Muhshon </span></span></strong><span style="color: #008000"><strong>رضي الله عنه</strong></span><strong><span style="color: #0000ff"><span style="color: #008000"> </span>berdiri dan berkata : mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka, kemudian Rasul bersabda : “ya, engkau termasuk golongan mereka”, kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata : mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka, Rasul menjawab : “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah”</span><span style="color: #000000">( HR. Bukhori dan Muslim )</span></strong></p>
<h3><span style="color: #ff0000"><strong>Kandungan bab ini :</strong></span></h3>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>1-Mengetahui adanya tingkatan tingkatan manusia dalam bertauhid.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>2-Pengertian mengamalkan tauhid dengan semurni-murninya.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>3-Pujian Allah kepada Nabi Ibrahim, karena beliau tidak pernah melakukan kemusyrikan.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>4-Pujian Allah kepada tokoh para wali Allah (para shahabat Rasulullah) karena bersihnya diri mereka dari kesyirikan.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>5-Tidak meminta ruqyah, tidak meminta supaya lukanya ditempeli dengan besi yang panas, dan tidak melakukan tathoyyur adalah termasuk pengamalan tauhid yang murni.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>6-Tawakkal kepada Allah adalah sifat yang mendasari sikap tersebut.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>7-Dalamnya ilmu para sahabat, karena mereka mengetahui bahwa orang-orang yang dinyatakan dalam hadits tersebut tidak akan mendapatkan kedudukan yang demikian tinggi kecuali dengan adanya pengamalan.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>8-Semangatnya para sahabat untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan amal kebaikan.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>9-Keistimewaan umat Islam dengan kwantitas dan kwalitasnya.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>10-Keutamaan para pengikut Nabi Musa.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>11-Umat umat terdahulu telah ditampakkan kepada </strong></span><strong><span style="color: #0000ff">Rasulullah</span></strong><strong> <span style="color: #0000ff">صلى الله عليه وسلم</span></strong></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>12-Setiap umat dikumpulkan sendiri-sendiri bersama para Nabinya.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>13-Sedikitnya orang orang yang mengikuti ajakan para Nabi.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>14-Nabi yang tidak mempunyai pengikut akan datang sendirian pada hari kiamat.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>15-Manfaat dari pengetahuan ini adalah tidak silau dengan jumlah yang banyak dan tidak kecil hati dengan jumlah yang sedikit.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>16-Diperbolehkan melakukan ruqyah disebabkan terkena ain dan sengatan.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>17-Luasnya ilmu para ulama salaf, hal itu bisa diketahui dari ucapan Said bin Zubair : <span style="color: #008000">“Sungguh telah berbuat baik orang yang mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi …”,</span> dengan demikian jelaslah bahwa hadits yang pertama tidak bertentangan dengan hadits yang kedua.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>18-Kemuliaan sifat para ulama salaf, karena ketulusan hati mereka, dan mereka tidak memuji seseorang dengan pujian yang dibuat buat.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>19-Sabda Nabi : <span style="color: #0000ff">“Engkau termasuk golongan mereka”</span> adalah salah satu dari tanda-tanda kenabian Beliau.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>20-Keutamaan <span style="color: #008000">Ukasyah.<br />
</span></strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>21-Penggunaan kata sindiran <span style="color: #0000ff">([13])</span>.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><strong>22-Kemuliaan akhlak Nabi kita.</strong></span></p>
<h3><span style="color: #ff00ff"><strong>FOOT NOTES:</strong></span></h3>
<p><span style="color: #ff00ff"><span style="color: #0000ff"><strong>([10])</strong></span> Ruqyah, maksudnya di sini, ialah : penyembuhan dengan bacaan ayat ayat Al qur’an atau doa doa.</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><span style="color: #0000ff"><strong>([11])</strong></span> Ain, yaitu : pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang, melalui pandangan matanya. Disebut juga penyakit mata.</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><span style="color: #0000ff"><strong>([12])</strong></span><span style="color: #0000ff"> </span>Tathoyyur ialah : merasa pesimis, merasa bernasib sial, atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja.</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><span style="color: #0000ff"><strong>([13])</strong></span> Karena beliau bersabda kepada seseorang : “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah”, dan tidak bersabda kepadanya : “Kamu tidak pantas untuk dimasukkan ke dalam golongan mereka”.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/01/09/kitab-tauhid-bab-3-mengamalkan-tauhid-dengan-sebenar-benarnya-dapat-menyebabkan-masuk-sorga-tanpa-hisab/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KITAB TAUHID (BAB 2)  KEISTIMEWAAN TAUHID DAN DOSA DOSA YANG DIAMPUNI KARENANYA</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/12/20/kitab-tauhid-bab-2-keistimewaan-tauhid-dan-dosa-dosa-yang-diampuni-karenanya/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/12/20/kitab-tauhid-bab-2-keistimewaan-tauhid-dan-dosa-dosa-yang-diampuni-karenanya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 01:39:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kitab Tauhid]]></category>

		<category><![CDATA[abu salafy 01]]></category>

		<category><![CDATA[aqidah]]></category>

		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=393</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم



Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 كتاب التوحيد
BAB 2
KEISTIMEWAAN TAUHID DAN DOSA DOSA YANG DIAMPUNI KARENANYA
Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy 

Firman الله تعالى


الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون
“Orang orang yang beriman dan tidak menodai keimanan ([5]) mereka dengan kedzoliman ( kemusyrikan ) ([6]), [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><strong><span style="font-size: x-large;color: #0000ff">بسم الله الرحمن الرحيم</span></strong></strong></p>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></strong></h2>
<p style="text-align: left">
<p style="text-align: left">
<h3><span style="color: #008000">Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 كتاب التوحيد</span></h3>
<h2 style="text-align: left"><span style="color: #000000"><strong>BAB 2</strong></span></h2>
<h2><span style="color: #ff0000"><strong>KEISTIMEWAAN TAUHID DAN DOSA DOSA YANG DIAMPUNI KARENANYA</strong></span></h2>
<h2 class="Mentions_Input" style="width: 512px"><span><span style="color: #800000">Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy </span></span></h2>
<p style="text-align: left"><strong><br />
</strong><span style="color: #000000"><strong>Firman الله تعالى<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: left">
<h2 style="text-align: left"><span style="color: #000000"><strong>الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون</strong></span></h2>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Orang orang yang beriman dan tidak menodai keimanan <span>([5])</span> mereka dengan kedzoliman ( kemusyrikan ) <span>([6])</span>, mereka itulah orang- orang yang mendapat ketentraman dan mereka itulah orang orang yang mendapat jalan hidayah”, ( QS. Al An’am, 82).</strong></span></p>
<p><span style="color: #008000"><strong>Ubadah bin Shamit رضي الله عنه </strong></span><span style="color: #000000">menuturkan</span><strong> <span style="color: #0000ff">Rasulullah</span></strong><strong> <span style="color: #0000ff">صلى الله عليه وسلم</span> </strong><span style="color: #000000">bersabda</span><strong> </strong></p>
<p style="text-align: left"><strong><br />
</strong></p>
<h2><span style="color: #0000ff"><strong>من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه والجنة حق والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل أخرجاه</strong></span></h2>
<p style="text-align: left">
<h2><span style="color: #0000ff"><strong></strong></span></h2>
<p style="text-align: left"><span style="color: #0000ff"><strong>“Barang siapa yang bersyahadat <span style="color: #ff00ff">([7])</span> bahwa tidak ada sesembahan yang hak ( benar ) selain Allah saja, tiada sekutu bagiNya, dan Muhammad adalah hamba dan RasulNya, dan bahwa Isa adalah hamba dan RasulNya, dan kalimatNya yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dari padaNya, dan sorga itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkanya kedalam sorga, betapapun amal yang telah diperbuatnya”. ( HR. Bukhori &amp; Muslim )</strong></span></p>
<p><strong><span id="more-393"></span></strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong><br />
</strong><span style="color: #000000">Dalam Shahihain meriwayatkan pula hadits dari</span><strong> <span style="color: #008000">Itban</span> <span style="color: #008000">رضي الله عنه</span> </strong><span style="color: #000000">bahwa</span><strong> <span style="color: #0000ff">Rasulullah</span> <span style="color: #0000ff">صلى الله عليه وسلم</span> <span style="color: #000000">bersabda,</span></strong></p>
<p><strong></strong></p>
<h2><span style="color: #0000ff">فإن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله<strong></strong></span></h2>
<h2><span style="color: #0000ff"><strong></strong></span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><br />
“Sesungguhnya الله تعالى mengharamkan neraka bagi orang orang yang mengucapkan لا إله إلا الله dengan ikhlas dan hanya mengharapkan ( pahala melihat ) wajah Allah.” </span><span style="color: #000000">(HR Imam Bukhori dan Imam Muslim)</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000">Diriwayatkan dari</span><strong> <span style="color: #008000">Abu Said Al Khudri</span> <span style="color: #008000">رضي الله عنه</span> </strong><span style="color: #000000">bahwa</span><strong> <span style="color: #0000ff">Rasulullah</span> <span style="color: #0000ff">صلى الله عليه وسلم</span> </strong><span style="color: #000000">bersabda</span><strong>.</strong></p>
<p><strong></strong></p>
<h2><span style="color: #0000ff"><strong>قال موسى يا رب، علمني شيئا أذكرك وأدعوك به، قال : قل يا موسى : لا إله إلا الله، قال : يا رب كل عبادك يقولون هذا، قال موسى : لو أن السموات السبع وعامرهن – غيري – والأرضين السبع في كفة، ولا إله إلا الله في كفـة، مالت بهـن لا إله إلا الله رواه ابن حبان والحاكم وصححه</strong></span></h2>
<h2><span style="color: #0000ff"><strong></strong></span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><br />
“Musa berkata : “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingatMu dan berdoa kepadaMu”, Allah berfirman :” ucapkan hai Musa <span style="color: #ff00ff">لا إله إلا الله</span> , Musa berkata : “ya Rabb, semua hambaMu mengucapkan itu”, Allah menjawab :” Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya – selain Aku – dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu timbangan dan kalimat <span style="color: #ff00ff">لا إله إلا الله</span> diletakkan dalam timbangan yang lain, niscaya kalimat <span style="color: #ff00ff">لا إله إلا الله</span> lebih berat timbangannya.”</span> <span style="color: #000000">( HR. Ibnu Hibban, dan imam Hakim sekaligus men-shahih-kannya).</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000">Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits Qudsyi (yang menurut penilaianya hadits itu hasan) dari</span><strong> <span style="color: #008000">Anas bin Malik <strong><span style="color: #008000">رضي الله عنه</span></strong></span> </strong><span style="color: #000000">ia berkata aku mendengar </span><strong><span style="color: #0000ff">Rasulullah</span> <span style="color: #0000ff">صلى الله عليه وسلم</span> <span style="color: #000000">bersabda,</span></strong></p>
<p><strong></strong></p>
<h2><span style="color: #0000ff"><strong>قال الله تعالى : يا ابن آدم، لو أتيتني بقراب الأرض خطايا، ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا، لأتيتك بقرابها مغفرة</strong></span></h2>
<h2><span style="color: #0000ff"><strong></strong></span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><br />
“الله تعالى berfirman : “Hai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sejagat raya, dan engkau ketika mati dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sejagat raya pula”.</span><br />
</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h3><span style="color: #ff0000"><strong>Kandungan bab ini :</strong></span></h3>
<h3><strong></strong></h3>
<p><span style="color: #ff0000"><strong><br />
<span style="color: #000000">1-</span></strong>Luasnya karunia<strong> <span style="color: #000000">الله تعالى</span></strong></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>2-</strong></span><span style="color: #ff0000">Besarnya pahala tauhid di sisi</span><strong> <span style="color: #000000">الله تعالى</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>3-</strong></span><span style="color: #ff0000">Dan tauhid juga dapat menghapus dosa.</span></p>
<p><strong><span style="color: #000000">4-</span></strong><span style="color: #ff0000">Penjelasan tentang ayat yang ada dalam surat Al – An’am.</span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>5-</strong></span><span style="color: #ff0000">Perhatikan kelima masalah yang ada dalam hadits</span> <strong><span style="color: #008000">Ubadah رضي الله عنه</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>6-</strong></span><span style="color: #ff0000">Jika anda memadukan antara hadits</span><strong> <span style="color: #008000">Ubadah رضي الله عنه</span> </strong><span style="color: #ff0000">hadits</span><strong> <span style="color: #008000">Itban رضي الله عنه</span> </strong><span style="color: #ff0000">dan hadits sesudahnya, maka akan jelas bagi anda pengertian kalimat</span><strong> <span style="color: #ff00ff">لا إله إلا الله</span></strong><strong> </strong><span style="color: #ff0000">juga kesalahan orang-orang yang tersesat karena hawa nafsunya.</span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>7-</strong></span><span style="color: #ff0000">Perlu diperhatikan syarat-syarat yang disebutkan dalam hadits</span><strong> <span style="color: #008000">Itban</span> <span style="color: #008000">رضي الله عنه</span> </strong><span style="color: #ff0000">(yaitu ikhlas semata-mata karena Allah, dan tidak menyekutukan-Nya).</span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>8-</strong></span><span style="color: #ff0000">Para Nabipun perlu diingatkan akan keistimewaan</span><strong> <span style="color: #ff00ff">لا إله إلا الله</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>9-</strong></span><span style="color: #ff0000">Penjelasan bahwa kalimat</span><strong> <span style="color: #ff00ff">لا إله إلا الله</span> </strong><span style="color: #ff0000">berat timbangannya </span><span style="color: #ff0000">mengungguli berat timbangan seluruh makhluk, padahal banyak orang yang mengucapkan kalimat tersebut.</span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>10-</strong></span><span style="color: #ff0000">Pernyataan bahwa bumi itu tujuh lapis seperti halnya langit.</span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>11-</strong></span><span style="color: #ff0000">Langit dan bumi itu ada penghuninya.</span></p>
<p><span style="color: #ff0000"><span style="color: #000000"><strong>12-</strong></span>Menetapkan sifat sifat Allah apa adanya, berbeda dengan pendapat Asy’ariyah</span><strong>. <span style="color: #0000ff">([8])</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>13-</strong></span><span style="color: #ff0000">Jika anda memahami hadits Anas, maka anda akan mengetahui bahwa sabda Rasul yang ada dalam hadits</span><strong> <span style="color: #ff0000"><strong><span style="color: #008000">Itban </span><span style="color: #ff0000"><strong><span style="color: #ff0000"><strong><span style="color: #008000">رضي الله عنه </span></strong></span></strong></span> </strong></span> “<span style="color: #0000ff">sesungguhnya Allah mengharamkan masuk neraka bagi orang orang yang mengucapkan</span> <span style="color: #ff00ff">لا إله إلا الله</span> <span style="color: #0000ff">dengan penuh ikhlas karena Allah, dan tidak menyekutukan-Nya”,</span> </strong><span style="color: #ff0000">maksudnya adalah tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, bukan hanya mengucapkan kalimat tersebut dengan lisan saja.</span></p>
<p><span style="color: #ff0000">Nabi Muhammad dan Nabi Isa adalah sama-sama hamba Allah dan Rasul-Nya.</span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>15-</strong></span><span style="color: #ff0000">Mengetahui keistimewaan Nabi Isa, sebagai Kalimat Allah.</span><strong><span style="color: #ff0000"> </span><span style="color: #0000ff">([9])</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>16-</strong></span><span style="color: #ff0000">Mengetahui bahwa Nabi Isa adalah ruh diantara ruh-ruh yang diciptakan</span><span style="color: #000000"><strong> <span>الله تعالى</span></strong></span></p>
<p><strong><span style="color: #000000">17-</span></strong><span style="color: #ff0000">Mengetahui keistimewaan iman kepada kebenaran adanya sorga dan neraka.</span></p>
<p><strong><span style="color: #000000">18-</span></strong><span style="color: #ff0000">Memahami sabda Rasul :</span><strong><span style="color: #ff0000"> <span style="color: #0000ff">“betapapun amal yang telah dikerjakannya.”</span></span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #000000">19-</span></strong><span style="color: #ff0000">Mengetahui bahwa timbangan (mizan) itu mempunyai dua daun.</span></p>
<p><strong><span style="color: #000000">20-</span></strong><span style="color: #ff0000">Mengetahui kebenaran adanya wajah bagi</span><strong> <span style="color: #000000">الله تعالى</span></strong></p>
<h3><span style="color: #ff00ff"><strong>Foot Note:</strong></span></h3>
<p><span style="color: #ff00ff"><span style="color: #0000ff"><strong>([5]) </strong></span>Iman ialah : ucapan hati dan lisan yang disertai dengan perbuatan, diiringi dengan ketulusan niat karena الله تعالى dan dilandasi dengan berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah r.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>([6])</strong></span> <span style="color: #ff00ff">Syirik disebut kezholiman karena syirik adalah menempatkan suatu ibadah tidak pada tempatnya, dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>([7])</strong></span> <span style="color: #ff00ff">Syahadat ialah : persaksian dengan hati dan lisan, dengan mengerti maknanya dan mengamalkan apa yang menjadi tuntutannya, baik lahir maupun batin.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>([8])</strong></span> <span style="color: #ff00ff">Asy’ariyah adalah salah satu aliran teologis, pengikut Syekh Abu Hasan Ali bin Ismail Al Asy’ari ( 260 – 324 H = 874 – 936 M ). Dan maksud penulis di sini ialah menetapkan sifat sifat الله تعالى sebagaimana yang disebutkan dalam Al qur’an maupun As sunnah. Termasuk sifat yang ditetapkan adalah kebenaran adanya wajah bagi الله تعالى mengikuti cara yang diamalkan kaum salaf sholeh dalam masalah ini, yaitu : mengimani kebesaran sifat sifatالله تعالى yang dituturkan Al qur’an dan As sunnah tanpa tahrif, ta’thil, takyif dan tamtsil. Adapun Asy’ariyah, sebagian mereka ada yang menta’wilkannya (menafsirinya dengan makna yang menyimpang dari makna yang sebenarnya ) dengan dalih bahwa hal itu jika tidak dita’wilkan bisa menimbulkan tasybih ( penyerupaan ) Allah dengan makhlukNya, akan tetapi perlu diketahui bahwa Syekh Abu Hasan sendiri dalam masalah ini telah menyatakan berpegang teguh dengan madzhab salaf sholeh, sebagaimana beliau nyatakan dalam kitab yang ditulis di akhir hidupnya, yaitu Al Ibanah ‘an ushulid diyanah (editor : Abdul Qodir Al Arnauth, Bairut, makatabah darul bayan, 1401 H ) bahkan dalam karyanya ini beliau mengkritik dan menyanggah tindakan ta’wil yang dilakukan oleh orang orang yang menyimpang dari madzhab salaf.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;color: black"><span style="color: #0000ff"><strong>(<span class="MsoFootnoteReference">[9]</span>)</strong></span> <span style="color: #ff00ff">Kalimat Allah maksudnya bahwa Nabi Isa itu diciptakan Allah dengan firmanNya “Kun” ( jadilah ) yang disampaikan Nya kepada Maryam melalui malaikat Jibril.</span></span></p>
<h3><span style="color: #008080"><strong>والله أعـلــم</strong></span></h3>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/12/20/kitab-tauhid-bab-2-keistimewaan-tauhid-dan-dosa-dosa-yang-diampuni-karenanya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KITAB TAUHID (BAB 1)  TAUHID  [ HAKEKAT DAN KEDUDUKANNYA ]</title>
		<link>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/12/18/kitab-tauhid-bab-1-tauhid-hakekat-dan-kedudukannya/</link>
		<comments>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/12/18/kitab-tauhid-bab-1-tauhid-hakekat-dan-kedudukannya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 07:44:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aththaifahalmanshurah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kitab Tauhid]]></category>

		<category><![CDATA[abu salafy 01]]></category>

		<category><![CDATA[aqidah]]></category>

		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/?p=384</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم


كتاب التوحيد


KITABUT TAUHID


للشيخ محمد بن عبد الوهاب


SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB



Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy 

Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 كتاب التوحيد
BAB 1 
TAUHID  [ HAKEKAT DAN KEDUDUKANNYA ]
 
Firman الله تعالى

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون[ِ (الذريات56
 
“Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size: x-large;color: #0000ff">بسم الله الرحمن الرحيم</span></strong></p>
<h2 class="article-index-meta" style="text-align: center"><strong><strong><span style="color: #000000"><img class="alignnone size-full wp-image-241" src="http://tukpencarialhaq.files.wordpress.com/2008/06/new1a.gif?w=51&amp;h=20" alt="new1a" width="51" height="20" /></span></strong></strong></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000;text-align: center">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000;text-align: center"><span style="font-size: small;color: #ff0000"><span style="font-size: 16pt" dir="rtl" lang="AR-YE">كتاب التوحيد</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000;text-align: center">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000;text-align: center">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000;text-align: center"><span style="color: #0000ff"><strong><span style="font-size: small"><span style="font-size: 16pt">KITABUT TAUHID</span></span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000;text-align: center">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000;text-align: center">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000;text-align: center"><span style="font-size: small;color: #ff0000"><span style="font-size: 16pt">للشيخ محمد بن عبد الوهاب</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000;text-align: center">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000;text-align: center">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000;text-align: center"><span style="font-size: small;color: #0000ff"><span style="font-size: 16pt">SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000;text-align: center">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000;text-align: center">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000;text-align: center">
<h2 class="Mentions_Input" style="width: 512px;text-align: center"><span><span style="color: #800000">Oleh Abu Amina Al Anshariy El Jawiy </span></span></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000">
<h3><span><span style="color: #008000">Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-1 كتاب التوحيد</span></span></h3>
<h2><span style="color: #000000">BAB 1 </span></h2>
<h2><span style="color: #ff0000">TAUHID  [ HAKEKAT DAN KEDUDUKANNYA ]</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000"><span style="font-size: small"> </span></p>
<p><strong>Firman الله تعالى</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000">
<h2>وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون[ِ (الذريات56</h2>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000"><span style="font-size: small"><span dir="rtl" lang="AR-YE"><span style="font-size: small"><span> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000"><span style="font-size: small">“Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah <span style="color: #0000ff">(<span><span style="font-size: 12pt">[1]</span></span></span><span style="font-size: small"><span style="color: #0000ff">)</span><span> </span>kepada-Ku.” (QS.<span> </span>Adz –Dzariyat, 56 ).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000"><span style="font-size: small"> </span></p>
<h2>وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت[(النحل: من الآية36)</h2>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000"><span style="font-size: small">“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “ Beribadalah kepada Allah ( saja ) dan jauhilah thoghut” <span style="color: #0000ff">(<span><span style="font-size: 12pt">[2]</span></span></span><span style="font-size: small"><span style="color: #0000ff">)</span> (QS.<span> </span>An – Nahl, 36 ).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000"><span id="more-384"></span></p>
<h2><strong>وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا</strong></h2>
<p><strong><br />
“Dan Rabmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah : “Wahai Rabku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. Al – Isra’, 23- 24).</strong></p>
<p><strong></strong></p>
<h2><strong>قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ مِنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ وَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</strong></h2>
<p><strong><br />
“Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Rabmu, yaitu “ Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka ; dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya ) melainkan dengan sesuatu (sebab ) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Rabmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia ; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” ( QS. Al – An’am, 151- 153).</strong></p>
<p><span style="color: #008000"><strong>Ibnu Mas’ud رضي الله عنه</strong></span><strong> berkata : <span style="color: #008000">“Barang siapa yang ingin melihat wasiat</span> <span style="color: #0000ff">Muhammad Rasulullah صلى الله عليه وسلم</span> <span style="color: #008000">yang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman</span> الله تعالى</strong><strong> : <span style="color: #ff0000">“Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Rabmu, yaitu “Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, dan “Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain.&#8221; </span><span style="color: #0000ff">([3])</span></strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong><span style="color: #008000">Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه </span>berkata :</strong></p>
<h2><span style="color: #0000ff"><strong>كنت رديف النبي على حمار، فقال لي :” يا معاذ، أتدري ما حق الله على العباد، وما حق العباد على الله ؟ قلت : الله ورسوله أعلم، قال : حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا، قلت : يا رسول الله، أفلا أبشر الناس ؟ قال : ” لا تبشرهم فيتكلوا</strong></span></h2>
<p><strong><span style="color: #0000ff"><br />
“Aku pernah diboncengkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku : “ Wahai Muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya, dan apa hak hamba-hamba-Nya yang pasti dipenuhi oleh Allah?, Aku menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, kemudian beliau bersabda : “Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya ialah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya : ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?, beliau menjawab : “Jangan engkau lakukan itu, karena khawatir mereka nanti bersikap pasrah”</span> ( HR. Bukhari, Muslim ).</strong></p>
<h3><span style="color: #ff00ff"><strong>Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini :</strong></span></h3>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>1-Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh <span>الله تعالى</span></strong></span></p>
<p><strong><span style="color: #ff00ff">2-Ibadah adalah hakekat (tauhid), sebab pertentangan yang terjadi antara</span> <span style="color: #ff00ff"><span style="color: #0000ff">Rasulullah صلى الله عليه وسلم</span> dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini.<br />
</span></strong><span style="color: #ff00ff"><strong></strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>3-Barang siapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada <span style="color: #000000">الله تعالى</span> inilah sebenarnya makna firman <span style="color: #000000">الله تعالى</span><br />
ولا أنتم عابدون ما أعبد</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>“Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Rab) yang aku sembah” ( QS. Al Kafirun, 3 )</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>4-Hikmah diutusnya para Rasul (adalah untuk menyeru kepada tauhid, dan melarang kesyirikan).</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>5-Misi diutusnya para Rasul itu untuk seluruh umat.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>6-Ajaran para Nabi adalah satu, yaitu tauhid [ mengesakan <span style="color: #000000">الله تعالى</span> saja].</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>7-Masalah yang sangat penting adalah : bahwa ibadah kepada <span style="color: #000000">الله تعالى</span> tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap thoghut.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>Dan inilah maksud dari firman <span style="color: #000000"><span>الله تعالى</span><br />
فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى</span></strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>“Barang siapa yang mengingkari thoghut dan beriman kepada Allah, maka ia benar benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat” ( QS. Al Baqarah, 256 ).</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>8-Pengertian thoghut bersifat umum, mencakup semua yang diagungkan selain <span style="color: #000000"><span>الله تعالى</span></span></strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>9-Ketiga ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al – An’am menurut para ulama salaf penting kedudukannya, di dalamnya ada 10 pelajaran penting, yang pertama adalah larangan berbuat kesyirikan.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>10-Ayat ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al Isra mengandung delapan belas (18) masalah, dimulai dengan firman Allah :<br />
لا تجعل مع الله إلها آخر فتقعد مذموما مخذولا</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, agar kamu tidak menjadi terhina lagi tercela” ( QS. Al Isra’, 22 ).</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>Dan diakhiri dengan firman-Nya :<br />
ولا تجعل مع الله إلها آخر فتلقى في جهنم ملوما مدحورا</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, sehingga kamu (nantinya) dicampakkan kedalam neraka jahannam dalam keadaan tercela, dijauhkan (dari rahmat Allah )” (QS. Al Isra’, 39 ).</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>Dan <span style="color: #000000">الله تعالى</span> mengingatkan kita pula tentang pentingnya masalah ini, dengan firman-Nya:<br />
ذلك مما أوحى إليك ربك من الحكمة</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Rabmu kepadamu” (QS. Al Isra’, 39 ).</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>11-Satu ayat yang terdapat dalam surat An–Nisa’, disebutkan didalamnya sepuluh (10) hak, yang pertama <span style="color: #000000">الله تعالى</span> memulainya dengan firman-Nya:<br />
واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000"><strong>“Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja), dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” ( QS. An – Nisa’, 36 ).</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>12-Perlu diingat wasiat <span style="color: #0000ff">Rasulullah صلى الله عليه وسلم</span> di saat akhir hayat beliau.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>13-Mengetahui hak hak <span style="color: #000000">الله تعالى</span> yang wajib kita laksanakan.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>14-Mengetahui hak hak hamba yang pas ti akan dipenuhi oleh الله تعالى apabila mereka malaksanakanya.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>15-Masalah ini tidak diketahui oleh sebagian basar para sahabat <span style="color: #0000ff">([4])</span>.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>16-Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahah.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>17-Dianjurkan untuk menyampaikan berita yang menggembirakan kepada sesama muslim.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>18- <span style="color: #0000ff">Rasulullah صلى الله عليه وسلم</span> merasa khawatir terhadap sikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat <span style="color: #000000">الله تعالى</span></strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>19-Jawaban orang yang ditanya, sedangkan dia tidak mengetahui adalah : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>20-Diperbolehkan memberikan ilmu kepada orang tertentu saja, tanpa yang lain.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>21-Kerendahan hati <span style="color: #0000ff">Rasulullah صلى الله عليه وسلم</span> sehingga beliau hanya naik keledai, serta mau memboncengkan salah seorang dari sahabatnya.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>22-Boleh memboncengkan seseorang diatas binatang, jika memang binatang itu kuat.</strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>23-Keutamaan <span style="color: #008000">Muadz bin Jabal<br />
</span></strong></span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong>24-Tauhid mempunyai kedudukan yang sangat penting.</strong></span></p>
<p><strong>Foot note:</strong></p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>([1])</strong></span> <span style="color: #ff00ff">Ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah ta’ala dengan mentaati segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh </span><span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم</strong></span><span style="color: #ff00ff"> Dan inilah hakekat agama Islam karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada الله تعالى semata, yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya, dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff">Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridloi oleh Allah. Dan suatu amal akan diterima oleh Allah sebagai ibadah apabila diniati dengan ikhlas karena Allah semata ; dan mengikuti tuntunan</span> <strong><span style="color: #0000ff">Rasulullah صلى الله عليه وسلم</span></strong></p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>([2</strong></span><strong><span style="color: #0000ff">])</span></strong> <span style="color: #ff00ff">Thoghut ialah : setiap yang diagungkan – selain <span style="color: #000000">الله تعالى</span> – dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi ; baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun setan.</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff">Menjauhi thoghut berarti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>([3]) </strong></span><span style="color: #ff00ff">Atsar ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"><strong>([4])</strong></span> <span style="color: #ff00ff">Tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat, karena </span><span style="color: #0000ff"><strong>Rasulullah صلى الله عليه وسلم</strong></span><span style="color: #ff00ff"> menyuruh Muadz agar tidak memberitahukannya kepada meraka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat <span style="color: #000000"><strong>الله تعالى</strong></span> Sehingga tidak mau berlomba lomba dalam mengerjakan amal sholeh. Maka Mu’adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut, kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa. Oleh sebab itu, di masa hidup Mu’adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat.</span></p>
<p><span style="color: #ff00ff"><strong><big>والله أعـلــم</big></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt;font-weight: bold;color: #000000">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2009/12/18/kitab-tauhid-bab-1-tauhid-hakekat-dan-kedudukannya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
